SUAMI ANTI ROMANTIS

SUAMI ANTI ROMANTIS
Orang yang berbeda jilid 2.


__ADS_3

"Gak kamu gak akan berani mengusir aku Dipta. Gak akan berani." Teriak Citra menantang.


"Kita lihat saja nanti." Ucap Varo tenang tapi terasa mengerikan dengan senyuman sinis.


"Pak Dipta." Panggil Jesi meminta perhatian dengan beberapa petugas keamanan.


"Permisi tuan." Sapa beberapa petugas dibelakang Jesi dengan senyuman sopan.


"Kalian seret wanita ini keluar dari perusaaan saya." Peritah Varo tegas.


"Gak....Dipta kamu gak bisa permalukan aku kayak gini....Gak bisa...." Teriak Citra memberontak dari pegangan para pengawal yang diutus Varo mengusirnya.


"Saya sudah mengingatkan kamu dari awal Citra. Tapi kamu mencoba mengabaikanya, dan lihat akibatnya.....Sekali lagi saya ingatkan sama kamu, jangan berani-beraninya kamu muncul dihadapan saya atau istri saya....Apa lagi sampai mengganggu ketenangan kami....Jika sampai kamu lakukan itu..." Ucap Varo dingin dengan tatapan mata tajam dan wajah memerah padam tanda Varo menahan emosi yang siap kapan saja meledak.


"Saya tidak akan segan-segan menghancurkan kamu dan keluarga kamu....Bersyukurlah karna saya hanya diam saat kamu membatalkan pernikahan kita secara sepihak...Tanpa menuntut keluarga kamu...Apa lagi sampai membuat kamu menderita hingga detik ini...Seharusnya kamu bersyukur karna masih bernafas hingga saat ini...Karna jika sampai saya kehabisan kesabaran...Saya pastikan saat ini juga kamu, sudah terbujur kaku dalam tanah yang dingin itu." Ancam Varo tenang tapi tak main-main.


"Jadi saya ingatkan.... Mulai sekarang....Jangan berani-beraninya kamu, berlagak menjadi orang penting dihidup saya. Apa lagi sampai berharap saya mau kembali kepada perempuan menjijikan seperti kamu...Jika sampai itu terjadi-" Berjalan mendekat kearah Citra. "Saya akan membuat hidup kamu sudah seperti dineraka.... Hingga membuat kamu akan lebih memilih mati detik itu juga....Dari pada hidup didunia ini...." Bisik Varo tajam.


Citra syok mendengar semua ancaman pria yang dianggapnya sebagai malaikat selama ini. Citra kira, Diptanya adalah pria lembut dengan hati selembut kapas. Karna selama lima tahun berpacaran, Diptanya tidak pernah sekali pun membentaknya apa lagi sampai berlaku kasar. Tapi nyatanya Diptanya sangat mengerikan, bahkan juh lebih mengerikan dibandingkan mantan suaminya, yang brengsek itu.


Sekarang Citra menyesal karna tidak bisa melihat pria lembut itu lagi. Yang ada sekarang Varo yang mengerikan seperti malaikat pencabut nyawa. Yang siap kapan saja mencabut nyawanya, jika dia lengah sedikit saja.


"Dipta ak-"


Varo mengangkat sebelah tanganya keatas, mengisaratkan Citra untuk diam. "Kalian bawa wanita ini keluar dari sini....Dan.... Saya ingatkan pada kalian semua. Jangan pernah ijinkan wanita seperti dia." Tunjuk Varo tepat diwajah Citra. "Bisa masuk se'enaknya didalam perusahaan saya. Jika sampai saya mendapati dia kembali masuk dengan tenang seperti tadi. Saya tidak akan segan-segan memecat kalian semua saat itu juga. Dan saya akan pastikan.... Kalian tidak akan bisa mendapatkan perkerjaan lain diluar sana...Karna saya tidak akan membiarkan orang-orang yang mengecewakan saya...Bisa hidup tenang dan baik-baik saja diluar sana. Jadi, sebelum itu terjadi.....Perketat semua penjagaan, dan jangan pernah lengah sedikit pun..Jika kalian masih ingin tidur nyenyak mulai sekarang...." Sambung Varo dingin.

__ADS_1


"KALIAN DENGAR..." Ucap Varo tegas.


"Ya tuan." Teriak serentak para penjaga.


Varo mengangguk puas, dan mengusir para penjaga keluar menggunakan isyarat sebelah tangannya. Dengan patuh para pengawal menyeret Citra, mengabaikan teriakan dan tangis Citra yang semakin kuat memekakkan telinga.


Varo memasukan kedua tangannya didalam saku celananya. Memandang lurus kearah dinding kaca yang memperlihatkan bangunan-bangunan tinggi didepanya.


"Jesi." Panggil Varo tanpa mengalihkan pandanganya kearah sekertarisnya.


"Iya pak." Jawab Jesi mendekat.


"Katakan pada Hellen. Saya tidak mau kejadian seperti ini terulang lagi." Ucap Varo dingin.


Varo hanya diam tak berkomentar atau menanggapi janji sekertarisnya itu. Hingga keheningan menyelimuti ruangan Varo. Hanya terdengar deru nafas Varo yang memburu sisa-sisa dari amarahnya tadi yang terdengar diseisi ruangan.


Jesi pun tak berani membuka suara saat melihat mood bosnya sedang buruk. Takut-takut jika dia akan menjadi saaran empuk setepah ini.


"Apa semua wanita selalu menyebalkan seperti ini." Ucap Varo entah pada siapa.


Jesi bingung mendengar ucapan bosnya, apa bosnya sedang mengajaknya berbicara. Karna sudah jelas mereka hanya berdua saat ini. "Maksud anda pak?" Tanya Jesi yang belum paham.


"Apa kamu akan marah pada suamimu Jesi, jika memberikan barang bekas mantan tunanganmu." Tanya Varo mengalihkan pandanganya kearah sekertarisnya.


"Apa ini tentang buk Kiren pak?" Tanya Jesi sopan.

__ADS_1


"Ya." Jawab Varo sambil mengangguk. "Dia sedang marah dengan saya." Sambung Varo frustasi.


Membuat bibir Jesi berkedut ingin tersenyum mendengar ucapan bosnya. Bosnya tidak pernah terlihat frustasi seperti ini jika menyangkut tentang pekerjaan. "Memangnya barang apa yang bapak berikan pada bu Kiren pak?" Tanya Jesi penasaran.


"Cincin pernikahan."


"Bapak memberikan cincin pernikahan bekas buk Citra?" Tanya Jesi tak habis pikir.


Varo mendengus mendengar pertanyaan sekertarisnya. "Sejak kapan Citra menikah dengan saya. Jesi!!" Protes Varo.


"Maksud saya. Pilihan bu Citra pak." Koreksi Jesi memperbaiki pertanyaannya.


Varo mengangguk sekali menjawabnya. "Tentu saja saya akan marah pak. Kami itu, para wanita sangat sensitif dengan hal-hal yang berbau mantan." Jelas Jesi panjang lebar.


"Walau hanya cincin?" Tanya Varo terdengar tak percaya.


Apa wanita seribet itu. Kenapa harus dipermasalahkan hanya karna masalah sepele itu.


"Ya." Jawab Jesi mantap.


Varo mengerang frustasi mendengar jawaban sekertarisnya yang tak masuk akal. "Kamu bisa kembali keruangan kamu sekarang." Usir Varo pada sekertarisnya.


Jesi mengangguk patuh, dan berpamitan undur diri yang diabaikan oleh Varo dengan cuek. Pikiran Varo sedang kalut saat ini, memikirkan istrinya yang sedang marah padanya membuat Varo hampir frustasi dibuatnya.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2