
"Mas tumben sih kamu mau nganter aku kerja?" Tanya Kiren dengan siku yang bertengger di atas dashbroad mobil lalu telapak tanganya menopang dagunya.
Varo nampak terganggu dengan Kiren, bukan pertanyaan nya tapi cara Kiren memandang Varo terang-terangan membuat Varo salah tingkah sendiri. Varo yang kaku dan cuek sedang Kiren yang blak-blakan membuat Varo merasa aneh.
"Kamu bisa gak sih liatnya biasa aja, jangan begitu." Kata Varo sedikit risih.
"Emang aku kenapa?" Tanya Kiren tersenyum jail.
"Gak usah iseng bisa gak sih Ren?" Ketus Varo, dia sedang nyetir dan Kiren memandangnya seperti itu. Bisa gagal fokus dia karna jantung nya mulai berdetak tidak dengan semestinya.
Anjirrrr. Gue, diketusin.
Kiren menarik nafas dan bersandar di sandaran mobil, tapi dengan pandangan masih kearah Varo.
"Mas tinggal jawab kenapa sih, kenapa ribet banget."
"Kamu mau aku jawab gimana?" Tanya Varo saat mobilnya berhenti di lampu merah.
"Iya. Kemarin-kemarin kenapa gak nganter aku, kenapa baru sekarang!!" Tuntun Kiren.
"Aku baru tau kalau mobil kamu masuk bengkel kemarin, waktu mama Laras nelpon katanya mobil kamu udah ada dirumah." Terang Varo menjelaskan.
"Mama punya nomor mas?" Tanya Kiren tak habis pikir. Sejauh mana sih dia tertinggal, sampai mama nya lebih percaya pada menantunya dibandingkan dirinya. Yang notabenya anak kandungnya sendiri. Hello mama ini Kiren anaknya lo.
"Kenapa?" Tanya Varo kembali menjalan kan mobilnya.
"Kok bisa mama punya nomor mas?" Tanya Kiren agak panik.
"Kenapa memangnya. Emang apa salahnya mertua punya nomor ponsel menantunya!! Yang aneh itu kalau istri tidak punya nomor suaminya." Sindir Varo terang-terangan.
Kiren yang merasa kena sindir, matanya langsung melotot galak.
"Mas nyindir aku?" Tanya Kiren dengan menunjuk dirinya sendiri dengan telunjuk tanganya. Wajahnya ketara sekali sedang kesal.
"Kamu merasa tersindir?" Balik tanya Varo melirik Kiren menahan senyum. Ternyata menjaili istrinya tidak buruk juga, mungkin sekarang Varo akan punya hobi baru yang bisa membuat mood nya sedikit baik yaitu menjaili Kiren. Melihat istrinya kesal membuat dia merasa lucu dan gemas secara bersamaan.
"Menurut mas." Ketus Kiren.
__ADS_1
Varo membuang muka kearah samping kaca mobilnya, tersenyum. Wajah jutek Kiren benar-benar menghibur Varo saat ini.
"Mas udah-udah turun disini aja." Teriak Kiren saat melihat caffe tempatnya bekerja tidak jauh dari mobil suaminya, membuat Varo mengerut kening heran.
"Kenapa? Bukanya caffe kak Hanum masih lurus?" Tanya Varo heran.
Kiren yg sudah bersiap turun menoleh kearah Varo.
"Anak caffe kan gak ada yang tau kalau aku udah nikah sama mas."
Mengangkat sebelah alis "Terus?" Tanya Varo.
"Aneh aja kalau tiba-tiba aku turun dari mobil mas, anak-anak pasti udah kenal mobil mas kan?"
"Emang kenapa kalau mereka ngeliat kamu turun dari mobil aku?" Tanya Varo datar.
"Nanti dikira aku pelakor lagi." Jelas Kiren sambil terkekeh pelan.
Kiren memang bicaranya nampak biasa saja, cuman ada sedikit perasaan tak nyaman ketika mengucapkanya. Sedikit nyeri dan ngilu tapi Kiren berusaha menepisnya. Gak mungkinkan dia tiba-tiba langsung memiliki perasaan lebih pada suaminya. Itu akan terasa aneh didengar.
Varo lagsung menoleh mendengar Kiren berbicara. Sedikit tidak terima jika ada yang berfikir jelek tentang istrinya. Apa pernikahan selucu ini, hingga Varo harus merasa tak nyaman dengan prasangka buruk tentang istrinya. Tapi dulu saat dia bertunangan dengan Citra, Varo biasa-biasa saja ketika Citra mengadu tentang pandangan buruk orang terhadapnya. Bahkan Varo terkesan cuek dan masa bodo. Lalu kenapa sekarang berbeda. Dasar bodoh, tentu saja berbeda pertunangan dan menikah itu adalah dua hal yang berbeda bodoh. Kata hati Varo berkomentar.
"Baik lah aku turun ya. Terimakasih untuk tumpanganya mas Varo." Ucap Kiren berusaha biasa saja dan sedikit menggoda Varo. Tapi Varo hanya mmbalasnya dengan wajah datar alias super lempeng.
Merasa tidak mendapat respon tangannya sudah siap mendorong pintu tapi tangan Varo lebih dulu menahan lengan Kiren yang bersiap turun.
"Kenapa?" Tanya Kiren heran.
Varo menyodor kan amplop putih kearah Kiren yang di ambilnya dari laci dasbor mobil.
"Apa ini?" Tanya Kiren heran pasalnya Varo tidak mengatakan apa pun, dan tiba-tiba menyodorkan amplop.
Ini bukan surat cerai kan ya, masa iya sih gue godain sebentar langsung disodorin surat cerai. Mana gue nikah baru seminggu masa udah dicerai aja. Mama.... anak gadis mu bentar lagi menjada....
Varo menyentil kening Kiren pelan. "Gak usah mikir yang aneh-aneh."
"Apa sih. Siapa juga yg mikir aneh-aneh." Ucap Keren sambil membuka amplop putih ditanganya. Matanya langsung melotot begitu tau isi didalam amplop. Kartu hitam mengkilap, karna terlalu mengkilap hingga mata Keren terasa silau. Anggap Kiren berlebihan. Tapi Kiren bukan tidak tau kartu apa ini, Kiren sering melihat kartu seperti ini milik Hanum.
__ADS_1
Anjiiiir. Ini gue dikasih kartu begini. Nyata gak sih.
"Mas ini?" Tanya Kiren bingung.
"Kamu bisa gunakan kartu itu untuk membeli apa pun kebutuhan kamu dan juga kebutuhan pokok. Jangan membeli apa pun menggunakan uang kamu apalagi untuk kebutuhan kamu, karna sekarang kamu tanggung jawab saya!!"
Yes. Gue gak jadi menjanda. Mama.... Kiren gak jadi menjanda... Anak gadismu gak jadi menjada... Teriak hati kecil Keren senang.
"Serius?" Tanya Kiren.
Varo mengangguk. "Kalau ada apa-apa kamu tau kan mulai sekarang harus menghubungi siapa?" Balik tanya Varo.
"Eh. Iya lupa. Kiren kan belum punya nomor hp mas."
Varo langsung mengeluarkan hp dari saku celananya, dan menghubungi seseorang setelah terdengar nada sambung bersamaan dengan itu hp Kiren ikut berdering.
"Kamu bisa save."
Duh duh laki gue baik bener sih ya. Bakal nyesel loe mbak yang udah ninggalin. Mana cakep lagi.
"Ok makasih ya paksu. Siap-siap tagihan mas membengkak bulan depan." Celetuk Kiren asal sambil memasukan amplop putih kedalam tas hitam yang Keren gunakan. Yang langsung membuat Varo menggeleng-gelengkan kepalanya. Tingakah istrinya memang luar biasa ajaib.
Mengulurkan tangan kearah Varo, Kiren terlihat seperti seorang anak ingin meminta uang jajan.
Varo memandang Kiren heran. "Apa lagi? kamu mau minta uang jajan?" Tanya Varo.
Kiren tertawa lucu. Suaminya benar-benar lucu. Sumpah. Kiren gak boong.
Menarik tangan kanan Varo Kiren menciumnya pelan. "Liat aku istri yang baik kan?" Ucap Kiren dengan suara yang kasat akan kepercayaan diri.
Varo menggeleng kepala tak percaya, istrinya ini benar-benar unik.
"Bye. Paksu, Muaaaaaach." Teriak Kiren yang sudah berada diluar mobil dengan mencium telapak tangannya dan diarahkan kearah Varo. Melihat Varo hanya tersenyum mengejek kearahnya, Kiren langsung sedikit berlari menjauh dari mobil Varo. Malu makkkk.
Varo tersenyum melihat Kiren yang berlari menjauh. Tidak salah Varo membatal kan miting pagi ini demi mengantar istrinya. Karna sekarang mood Varo benar-benar baik. Varo bahkan hampir lupa sudah berapa kali pagi ini dia tersenyum melihat tingkah pola istrinya. Sepertinya menghabiskan sisa umurnya dengan gadis seperti Kiren benar-benar tidak buruk.
Walau mereka belum lama mengenal tapi Varo terlihat nyaman ada didekatnya. Malah sekarang Varo ingin ada didekat gadis itu terus. Hidup nya terasa sedikit berwarna karna kehadir Kiren. Istrinya.
__ADS_1
Bersambung....