
Varo mengangguk. "Tapi hanya tinggal satu masalah lagi sekarang!!"
"Apa?"
"Kamu."
"Aku?"Tunjuk Kiren pada dirinya.
Varo mengangguk dengan pandangan dalam.
"Aku kenapa?" Tanya Kiren tak terima.
"Kamu masih marah dengan ku. Dan itu bukan masalah sepele sekarang. Karna itu tidak akan mudah. Iyakan?" Tanya Varo.
"Jadi sekarang keputusan mu. Masih marah? Atau tambah marah karna mendengar semua alasan ku!!!"Sambung Varo dengan perasaan was-was.
"Emmmmmm. It---u Aku..."
"Kenapa? Kamu belum bisa memaafkan ku?" Potong Varo tak bingung.
"Emmm.. Aku tidak tau."
"Kenapa tidak tau?" Tanya Varo dengan sabar.
"Apa jika nanti aku memaafkan mu, kamu tidak akan mngulangi kesalahan yang sama?"
"Maksud mu, tidak akan mengecewakan mu, begitu?" Tanya Varo memastikan.
Kiren mengangguk khikmat. "Iya. Kamu harus berjanji dulu tidak akan mengulangi kesalahan yang sama, dimasa yang akan datang."
__ADS_1
"Baik lah." Ucap Varo semangat.
Varo berdiri dari jongkoknya. Mengangkat sebelah tanganya keatas, sejejer dengan kepalanya. "AKU, ALVARO PRADIPTA. BERJANJI TIDAK AKAN MENGULANGI KESALAHAN YANG SAMA. YAITU MENGECEWAKAN NYONYA PRADIPTA." Ucap Varo berjanji. Varo terlihat seperti anak sekolah yang sedang dihukum gurunya. Untuk tidak mengulangi kesalahanya lagi, Kiren sampai tertawa lucu melihat tinggkahnya. Tidak habis fikir jika suaminya bisa sekonyol ini.
"Nyonya Pradipta siapa? Mas harus jelas mengatakanya." Protes Kiren disela-sela tawanya.
"NYONYA PREDIPTA, ATAU KIRENIDIYA PUTRI ISTRIKU." Ucap Varo menuruti permintaan Kiren. Kiren langsung memberikan dua jempolnya kearah Varo dengan pancaran mata yang bahagia.
"Bagaimana? Apa kita perlu membuat surat perjanjian?" Tanya Varo serius menanggapi acungan cempol istrinya.
"Apa kalau kita buat perjanjian, jika kamu mengulanginya maka setengah dari kekayaan mu akan menjadi miliku." Tanya Kiren dengan raut wajah yang serius. Namun sorot matanya terlihat sekali sedang menggoda suaminya.
Varo mendengus kesal mendengar pertanyaan istrinya. Ternyata semua wanita sama saja, sama-sama mata duitan. Tapi melihat kebahagian Kiren sekarang membuat Varo merasa senang dan bahagia. Tidak masalah jika nanti dia akan jatuh miskin, asal istrinya tetap ada disampingnya. Uhhhhhhhh. Apa Varo sudah sebicin itu. Oh sepertinya kalian yang lebih bisa melihatnya dari pada Varo yang merasakanya. Karna Varo belum pernah merasakan cinta sebelumnya. Jadi, dia tidak tau bagaimana defenisi cinta menurutnya.
Apa lagi saat melihat istrinya memandang nya dengan sorot mata bahagia. Rasa-rasanya, istrinya begitu menggemaskan, sampai Varo ingin memeluknya kuat dan mengecup selurih wajahnya. "Apa setiap aku membuat kesalahan akan selalu berakhir dengan pembagian harta?" Tanya Varo yang ikut menimpali godaan istrinya.
Dengan patuh Kiren mengangguk-ngangguk kan kepalanya dengan tampang polos yang di buat semeyakinkan mungkin.
Kiren nampak berfikir. "Emmmm....Aku akan menuruti semua permintaan suami ku."
Varo nampak diam berfikir, sambil memegang ujung dagunya. Terlihat sedang mempertimbangkan usulan Kiren. "Bernarkah. Bagaiman kalau kamu juga membuat janji seperti ku." Tawar Varo pada Kiren.
Dengan semangat Kiren langsung berdiri dari duduknya. Mengangkat tangan sama persis seperti yang Varo lakukan tadi. "AKU. KIRENIDIYA PUTRI. BERJANJI AKAN MENURUTI SEMUA PERINTAH SUAMI KU JIKA AKU MEMBUAT KESALAHAN. DAN MEMBUAT SUAMI KU BERSEDIH." Ucap Kiren dengan tampang serius dan mata berkedip-kedip lucu. Varo yang melihatnya masih dengan posisi sama melipat tangan didepan dada terkekeh lucu melihat expresi lucu istrinya.
"Nama suami tidak disebut kan!!" Tanya Varo sama seperti Kiren tadi.
"AHHHH...NAMA SUAMIKU ADALAH ALVARO PRADIPTA." Ucap Kiren yang diakhiri dengan tepuk tangan heboh dan kaki yang meloncat-loncat bahagia.
Bahagia banget buk dapat harta dari paksu.
__ADS_1
"Apa perjanjian kita ini resmi?" Tanya Kiren pada Varo.
"Sepertinya mulai sekarang, aku tidak boleh membuat kesalahan jika tidak ingin jatuh miskin." Ucap Varo serius menjawab pertanyaan Kiren.
Kiren kembali bertepuk tangan heboh. Sampai membuat Varo geleng-gelang kepala dibuatnya. "Ya. Mas harus berubah menjadi suami yang penurut jika tidak ingin semakin jatuh miskin." Seru Kiren heboh.
Sepertinya Kiren bahagia sekali malam ini.
Varo tertawa mendengar candaan Kiren. "Lalu, kamu tidak ingin tau apa yang akan aku lakukan jika kamu membuat kesalahan, Kiren?" Tanya Varo melangkah maju kearah Kiren.
Masih dengan raut bahagia Kiren mengangkat bahu cuek. "Ohhhh... Sepertinya, istriku tidak akan takut dengan hukuman yang akan aku berikan padanya." Ucap Varo dengan nada sedikit dibuat-buat kecewa.
"Yang jelas, mas gak mungkin minta harta sama seperti aku, kan mas udah kaya." Ucap Kiren percaya diri.
Varo menarik pinggang Kiren mendekat. Menempelkan keningnya dengan kening Kiren. "Ya. Karna aku akan lebih memilih sesuatu yang lebih menguntungkan untuk diri ku." Ucap Varo pelan.
Nafas Varo terasa menerpa wajah Kiren. Membuat Kiren menelan ludah gugup karenanya. Menarik kedua tangan Kiren, Varo meletakan tangan Kiren diatas kedua pundaknya. "Kamu takut?" Tanya Varo dengan sorot mata lebih hangat.
"Ya. Bahkan jantung ku hampir mau keluar memikirkanya." Jujur Kiren Varo tersenyum mendengarnya.
Varo mengecup pelan pipi Kiren. "Yang jelas aku tidak akan membuat istri ku merasa rugi karna menerima hukuman dari ku."
"Oh kalau begitu. Apa aku harus sering-sering membuat kesalahan."
"Dan aku akan dengan senang hati menghukum mu." Ucap Varo.
Setelah mendengar ucapan Varo, mereka berduapun tertawa. Merasa lucu dengan pembicaraan mereka.
Ada yang bisa buat auto ngakak baca komenan, langsung up satu bab lagiππ π π π π
__ADS_1
BERSAMBUNG.......