
"Berani kamu melangkah keluar dari dapur ini. Aku pastikan kamu gak akan bisa keluar dari apartement ini mulai besok." Ancam Varo dingin.
Kiren mendengus kuat mendengar ancaman dari Varo. "Kamu ngancam aku!!" Tanya Kiren sinis.
"Aku memperingatkan mu Kiren. Bukan mengancam." Koreksi Varo datar.
"Tapi aku gak takut sama ancamaan atau bahkan peringatan mu." Teriak Kiren marah dan langsung melangkah menjauh dari Varo.
Tapi sebelum melangkah menjauh, Varo lebih dulu menahan lengan Kiren. "Aku gak akan biarkan kamu pergi. Sebelum kamu menjelaskan kenapa kamu melepas cincin pernikahan kita." Tanya Varo tajam.
"Lepas." Teriak Kiren.
"Gak, sebelum kita selesaikan masalah ini." Tolak Varo kekeh.
Kiren berusaha melepaskan genggaman tangan Varo dilenganya. "Aku bilang.... LEPAS." Teriak Kiren.
"Ok. Aku lepas tapi kita harus bicara Kiren." Ucap Varo mengalah setelah sadar dia hampir berlaku kasar pada istrinya. Melepaskan tanganya dilengan Kiren, Varo beralih meraih ketelapak tangan Kiren dan menggenggamnya.
"Lepaskan tangan ku." Ucap Kiren tajam berusaha melepaskan genggaman tangan Varo.
"Kiren. Please." Mohon Varo melembut. "Kita benar-benar harus bicara." Sambung Varo dengan tatapan memohon.
"Kenepa kamu marah aku melepas cincin itu. Kenapa?" Tanya Kiren menuntut.
"Beri aku alasan kenapa kamu melepas cincin itu." Balik tanya Varo.
"Kamu benar ingin tau alasan aku melepas cincin itu?" Tanya Kiren datar.
"Ya." Jawab Varo tegas.
"Sekarang aku tanya. Siapa yang membeli cincin itu?" Tanya Kiren.
"Maksud kamu?" Tanya Varo yang belum mengerti maksud Kiren.
Kiren menghempaskan genggaman tangan Varo pada tanganya kuat. "Aku gak perlu bertanya dua kali kan?" Sinis Kiren.
"Apa Citra menemuimu?"
__ADS_1
"Apa aku perlu menjawab itu!!"
"Ya Kiren. Dan apa yang dikatakan Citra padamu? Apa dia mengatakan sesuatu yang menyangkut tentang pernikahan kita?" Tanya Varo menuntut.
Kiren hanya diam sambil memalingkan wajah kearah lain, menghindari tatapan mata Varo yang menuntut meminta jawaban. Hingga membuat Varo semakin gemas dibuatnya karna tidak mendapat jawaban dari istrinya.
"Apa aku perlu bertanya pada Citra langsung?" Tanya Varo datar.
Mendengar pertanyaan Varo yang akan menemui Citra membuat Kiren langsung menatap Varo dengan tatapan tajam.
"Berani sekali saja kamu menemui wanita itu. Aku pastikan, saat itu juga aku akan keluar dari sini." Ancaman Kiren tegas.
Varo mengumpat kuat mendengar ancaman Kiren. Bahkan sekarang, Varo sampai menjambak rambutnya frustasi.
"Ok. Aku gak akan menemui dia. Tapi aku ingin tau apa yang dia katakan waktu itu." Ucap Varo mengalah.
Membuat Kiren hanya diam tidak berkutik, Varo berjalan mendekat kearah Kiren.
"Sayang." Panggil Varo pelan dengan memegang kedua pundak Kiren. Meminta Kiren menatap matanya.
"Apa dia yang memilih cincin itu?" Tanya Kiren akhirnya dengan sorot mata menatap Varo.
"Ckkkkkk...Apa setiap aku bertanya kamu akan selalu balas bertanya?" Ucap Kiren kesal.
"Ya itu cincin memang dia yang memilih." Jawab Varo mantap, bahkan tatapannya lurus kearah kedua bola mata Kiren.
"Lalu kenapa kamu memberikannya pada ku brengsek...." Teriak Kiren murka.
Bahkan wajahnya kini sudah memerah padam, memahan amarah yang siap kapan saja meledak.
Varo tersentak kaget mendengar teriakan Kiren. Bahkan melihat sorot mata Kiren yang terluka membuat Varo menyesal. Apa dia sudah melukai Kiren karna itu.
"Kiren dengar....." Pinta Varo lembut meminta Kiren agar menatap matanya.
"Aku minta maaf untuk itu. Aku menyesal, aku tidak tau jika itu akan melukai mu." Sambung Varo lirih.
Kiren melangkah mundur, melepaskan pegangan tangan Varo dipundaknya. Masih dengan nasaf memburu dan amarah yang memuncak. Kiren menggeleng lemah dengan tatapan mata kecewa.
__ADS_1
"Apa jika wanita itu tidak mengatakanya. Kamu akan tetap diam?" Tanya Kiren dingin.
"Kiren please, dengarkan aku dulu." Mohon Varo berusaha mendekat. Tapi Kiren terus berjalan mundur dan menggeleng pelan.
Kiren langsung berbalik dan bersiap melangkah pergi, sebelum suara frustasi Varo kembali terdengar olehnya. Membuat langkahnya terhenti.
"Waktu itu aku tidak sempat memikirkan soal cincin sayang. Tentang membujukmu saja sudah hampir membuatku frustasi, aku takut jika waktu itu kamu akan menolak tawaranku." Raung Varo frustasi.
"Perusahaan yang berantakan, pernikahan ku yang hampir gagal, mama masuk rumah sakit. Bahkan semua keluarga yang aku punya menjauhiku, dari mama, mbak Hanum. Itu semua membuat aku benar-benar frustasi. Aku------aku tidak sempat memikirkan kearah sana Kiren. Aku tidak berfikir jika cincin yang dipilih Citra akan melukaimu seperti ini. Aku mohon maaf kan aku. Aku tau aku salah, tapi tolong jangan pergi." Sambung Varo memohon.
Kiren tetap diam, ditempatnya. Tidak berbalik atau melangkah menjauh.
"Apa sandi apartement juga kamu lupa menggantinya?" Tanya Kiren pelan.
"Sayang itu-"
"Atau kamu sengaja?" Tanya Kiren sambil berbalik.
Semua bayangan kata-kata Citra seakan berputar dikepala Kiren. Bahwa Varo masih mencintainya terus mengusiknya, membuat Kiren marah dan kesal bersamaan. Anggap Kiren kekanak-kanakan saat ini, tapi Kiren tidak bisa mengabaikan semua rasa tak nyaman dalam hatinya.
Varo tersenyum kecut mendengar pertanyaan Kiren. "Apa itu artinya kamu meragukan aku Kiren?" Tanya Varo pelan.
"Apa aku tidak boleh ragu!! Jika suamiku menikah dengan ku karna terpaksa...... Dan dengan santainya dia memberikan aku barang bekas mantan kekasihnya!!!! Yang lebih parah..... Saat ini mantan kekasihnya datang menemuiku dan meminta kembali suamiku... Yang bahkan dia pikir masih mencintainya.... Hanya karna semua masih sama seperti yang dia tinggalkan dari awal???" Teriak Kiren merapi-api bahkan nafas Kiren kini memburu dengan sorot mata terluka.
"Kamu lupa mengganti sandi apartement? Dan kamu juga bisa lupa dengan cincin pernikahan kita?? Bullshit....Semua itu." Sambung Kiren kuat.
"Dan sekarang kamu bertanya apa aku ragu pada mu!!!! Apa kamu tidak akan ragu pada ku jika aku bersikap seperti itu.... HAH???"
"Kenapa diam....Kamu marah aku berbicara seperti ini...." Tanya Kiren sinis.
"Lalu apa kamu kira, ucapan mantan kekasih mu tidak melukai harga diri ku!!"
"Kenapa jika kamu masih mencintainya....Kamu menikah dengan ku....Kenapa kamu harus menyeretku ke pernikahan sial ini....BREKSEKKK....KENAPA....?????" Raung Kiren dengan tangis yang mulai pecah.
"Aku disini korban...Lalu kenapa aku harus berurusan dengan hubungan tidak sehat kalian..."
"Apa karna aku dengan mudah menikah dengan mu....Karna itu kamu bersiakp sepele seperti ini pada ku...Bahkan dari hal kecil seperti ini pun kamu tidak pedulu pada ku...Pada perasaan ku...Lalu apa aku tidak boleh ragu..."Gugu Kiren dengan air mata yang terus mengalir bahkan sekarang Kiren sudah terduduk dilantai dengan tangan menutup wajahnya...
__ADS_1
Hatinya terluka hanya karna masalah sekecil ini. Lalu apa kabar dengan masalah besar yang menantinya didepan sana.
BERSAMBUNG......