SUAMI ANTI ROMANTIS

SUAMI ANTI ROMANTIS
Judulnya tentuin sendiri.


__ADS_3

Kiren diam merenung dimeja kerja ruanganya, setelah tiga hari yang lalu Kiren memilih pulang ke jakarta tanpa Varo. Sekarang Kiren lebih banyak diam dan sering melamun. Seakan terasa begitu banyak beban berat dipundaknya.


Saat Kiren pulang hanya dengan Hanum, masih sama seperti sebelumnya. Kiren lagi-lagi menggunakan obat tidur untuk menghilangkan rasa takutnya yang berlebihan.


Bahkan saat Kiren pulang pun Varo tidak ada di hotel, setelah perdebatan sengit mereka. Besoknya Kiren memilih untuk kembali, walau berulang kali Varo membujuknya untuk tetap tinggal dan berulang kali meminta maaf.


Kiren tetap kekeh pada pendirianya untuk pulang dengan Hanum. Bahkan, Hanum yang tidak tau apa-apa hanya bisa menyupah serapahi Kiren yang tiba-tiba datang kekamarnya pagi-pagi sekali. Dan, memaksanya untuk pulang kejakarta saat itu juga.


Dengan perasaan kepo luar biasa, dan wajah penuh tanda tanya. Hanum hanya menurut ketika melihat wajah sembab adik iparnya. Hanum tau, pasti terjadi sesuatu pada Kiren dan Varo malam itu, kenapa tiba-tiba sekarang Kiren mengajak nya pulang ke jakarta jika tidak terjadi sesuatu pada mereka.


Tapi Hanum cukup tau diri untuk tidak bertanya dan menahan rasa penasaranya itu, sampai Kiren sendiri yang mau bercerita padanya. Dia tidak ingin memaksa Kiren untuk bercerita dan menjawab semua rasa penasaranya.


Dan disini Kiren saat ini, duduk diam termenung dengan pikiran berkelana kemana-mana. Anggap saja saat ini dia bodoh, karna sekarang dia sangat-sangat merindukan suara cuek Varo dan pelukan hangat pria itu.


Hampir tiga hari dia dijakarta. Dan suaminya tidak pernah sekali pun menghubunginya. Membuat dia hampir gila setengah mati karna merindukanya.


Kangen paksu....


Drrttttt.....Drtttttttt


Getar ponsel membuyarkan lamunan Kiren, dengan ogah-ogahan Kiren meraih ponsel didalam tasnya.


IBU NEGARA KANJENG LARAS.


Lagi-lagi nama itu yang terpampang jelas dilayar ponselnya. Sudah dari pagi mamanya Kiren terus menghubunginya, bahkan Kiren sampai hapal apa yang akan mamanya katakan kali ini.


"Hallo ma."


Pasti nayain gue lagi dimana. Batin Kiren.


"Iya hallo Ren. Lagi dimana kamu?" Tanya Laras to the point.


"Masih dicaffe."


"Loh gimana sih kamu, acara lamaran Dila kan dimulai jam tujuh! Jam segini kamu masih dicaffe. Ini itu malam minggu Kiren, pasti macet jalanya." Ucap Laras kesal.


Dilla adalah anak dari tante Desi, adik bungsu papa Kiren. Malam ini memang keluarga Kiren mengadakan acara kecil-kecilan untuk lamaran Dilla. Alhasil, Kiren sudah diwanti-wanti oleh mamanya untuk datang tepat waktu.


Melirik jam di dinding. "Iya ma. Baru juga jam lima." Jawab Kiren malas.


"Mangkanya mama ingetin kekamu Kiren, ini udah jam berapa!!. Karna mama itu tau kalau kamu, dandanya itu kan lebih lama dari siput, mana dandanya gak pernah bener lagi..... Pokoknya malam ini kamu dandanya yang waras, jangan malu-maluin mantu mama. Suami cakep, tajir, masa dandanan istri kayak gembel." Cerocos Laras pedas.


Kiren hanya mengelus dada sabar. Mamanya ini, luar biasa kalau berbicara. Selalu punya ribuan kosa kata yang menyakitkan dikamusnya. Mana yang dicakep-cakepin mantunya lagi, terus yang dijelek-jelekin anaknya. Kan minta di ruqiah.


"Iya mama. Iya...." Ucap Kiren cari aman.


"Jangan iya-iya aja kamu. Orang itu kalau dikasih tau, didengerin. Jangan cuman masuk kanan keluar kiri."


"Issss mama entar cepet tua baru tau rasa, dari tadi ngomel mulu."


"Orang kamu kalau gak diomelin gak sadar-sadar, umur udah tua kelakuan masih kayak bocah."


"Isssss. Mama jahat banget dari tadi ngatain anaknya." Gerutu Kiren kesal.

__ADS_1


"Mangkanya kalau dikasih tau orang tua itu nurut, biar gak diomelin mulu!!"


"Iya, mama. Iya!! Kiren bakal nurut mulai sekarang." Jawab Kiren mengalah, Laras yang mendengar jawaban Kiren hanya mencibir pelan.


"Dah ah mama mau dandan dulu, mau siap-siap entar biar gak telat."


"Ya udah ma-"


TUT....TUT....TUT.....


Kiren cuman melongo dengan tampang menggelikan memandang ponselnya. Mamanya benar-benar the best kalau soal harus membuat Kiren merasa dongkol dan kesal luar biasa.


Harus kah Kiren berguru dengan sang mama, untuk membuat Varo merasakan hal yang sama seperti yang Kiren rasakan saat ini.


Dengan perasaan dongkol Kiren berjalan keluar ruangan untuk bersiap-siap pulang kerumahnya. Kalau tidak, mamanya bisa langsung ngamuk melihat Kiren telat.


...----------------...


Kiren turun dari mobil dengan sedikit semangat. Karna didepan sana, sudah ada mamanya yang juga baru datang.


"Ma." Panggil Kiren semangat.


Laras melirik Kiren sebentar. "Tumben kamu dandanya bener!!" Celetuk Laras sambil terus melangkah.


Kiren yang mendapat pujian ala-ala kanjeng Laras hanya nyengir lebar. Hari ini, Kiren menggunakan gaun brukat sutra selutut berwarna navy. Dengan lengan pendek dan ada ikat pinggangnya di tengah pinggang. Membuat Kiren nampak cantik.


Yang biasanya Kiren diacara-acara keluarga lebih sering menggunakan celana jins dan kaos, tiba-tiba sekarang pakai gaun, kan Laras agak heran.


Tumben anaknya waras dalam memilih pakaian. Apa lagi mengingat sepertinya baju Kiren tidak murah harganya.


Laras diam tidak menjawab ucapan Kiren lagi. Karna sekarang, mereka sudah masuk kedalam rumah sederhana adik iparnya.


****


"Ren suami loe kemana kok gak ikut?" Tanya Siska yang kebetulan duduk di meja makan, menghadap Kiren yang sedang asik memakan soto.


"Ngapain loe nanyain laki gue!!" Sewot Kiren.


"Kan aneh aja semua keluarga kumpul tapi laki loe gak ada."


"Gak aneh kali, semua orang juga tau kalau laki gue sibuk."


"Ckkkk.....Sombong amat sih loe Ren."


Kiren cuman mengangkat bahu cuek. "Gak masalah kali, selama kesombongan kita gak merugikan orang lain."


Siska memandang Kiren tajam. "Loe denger ya, gue bakal jadi orang pertama yang bakal tepuk tangan saat loe." Tunjuk Siska tepat diwajah Kiren. "Di buang sama laki loe. Loe kira, berapa lama loe bakal bertahan sama Varo. Paling setahun aja udah bersyukur loe masih dipakek sama Varo." Sinis Siska.


Kiren terbahak mendengar kata-kata sepupunya. Wanita didepanya ini benar-benar tidak tau malu. "Kalau gitu gue bakal dengan senang hati menunggu saat-saat itu tiba." Ucap Kiren dengan raut wajah dibuat sepolos mungkin.


"Sayang."


Tubuh Kiren langsung menegang kaku mendengar suara yang tidak asing itu.

__ADS_1


Apa gue udah bener-bener gila, sangking kangenya sampe halusinasi denger suara Varo.


Merasakan tepukan pelan diatas kepalanya. Membuat Kiren mendongak.


Damn!!! He looks so hot and sexy.


Varo tampak tampan bagai dewa yunani yang berdiri disamping Kiren. Dan, dengan kurang ajarnya Kiren memandang Varo dengan tampang mupeng dan mulut menganga lebar menyaksikan ketampananya.


Varo benar-benar tampan malam ini, Dia menggunakan kemaja berwarna navy senada dengan gaun Kiren. Dengan lengan yang digulung sampai siku tanpa dasi. Dia juga terlihat semakin mempesona dengan dua kancing kemeja teratas yang di biarkan terbuka.


Yaaaaa salam, ini beneran laki gue!!! Kok makin ganteng sih....


Hidung mancung, alis mata tebal, bulu mata panjang yang lentik, ditambah rahang kokoh, yang memahat wajah tampan mempesonanya. Serta.....Bibir tipis merwarna agak kemerahan yang terlihat Errrrrrr....menggoda. Seakan tuhan menciptakan tanpa celah pada fisik laki-laki satu ini.


"Apa aku setampan itu." Ucap Varo disertai kecupan singkat di kening Kiren, tak lupa bibirnya ikut terkekeh pelan.


Sadar akan kebodohannya, Kiren langsung mengalihkan pandangan nya kedepan. Didepanya Siska, bahkan sama hal nya seperti Kiren. Nyaris tumpah air liurnya. Kiren mendesis kesal menyadari jika ketampanan suaminya ikut dinikmati orang lain.


Varo menarik kursi yang tidak jauh darinya, untuk dibawa mendekat kearah Kiren. Dan duduk tenang disampingnya.


Jika semua orang melihat ini, pasti semua orang berfikir jika, mereka adalah pasangan suami istri yang saling mencintai tapi nyatanya. BIG NO.


Berbicara sepelan mungkin, Kiren melirik suaminya kesal. "Mas tau dari mana kalau Kiren ada disini."


"Dari mama." Jawab Varo enteng.


"Mama?" Tanya Kiren tak percaya.


Varo mengangguk patuh. "Kok bisa?"Tanya Kiren.


Varo hanya mengangkat bahu cuek.


"Mas inget aku masih marah?" Tanya Kiren sambil memicingkan mata curiga.


Lagi-lagi Varo mengangguk patuh. Kalau suaminya seperti ini, Kiren merasa gemas sendiri pada suaminya. "Terus ngapain nyusulin aku kesini?"


"Kan lagi usaha." Jawab Varo ambigu.


Mengangkat satu alisnya. "Usaha apa?" Tanya Kiren yang belum paham.


"Dapetin maaf kamu." Ucap Varo santai.


Keren melongo mendengar nada santai suaminya. Enak banget dia ngomong.


"Nyakin banget aku bakal maafin." Ketus Kiren kesal.


"Suami istri kan gak boleh marahan lebih dari tiga hari."


"Terus. Aku harus maafin mas gitu." Ucap Kiren sinis tak bersahabat.


Varo terkekeh mendengar nada sinis istrinya. "Mangkanya sekarang lagi usaha."


Kiren langsung merasa kesal mendengar ucapan suaminya. Varo kira, dia akan memafkan suaminya secepat itu apa. Jangan mimpi.

__ADS_1


Sedikit penyegaran biar gan panik gaesssss.......


Bersambungggg...


__ADS_2