SUAMI ANTI ROMANTIS

SUAMI ANTI ROMANTIS
Rencana Varo.


__ADS_3

Varo kembali mengusap keringat dikeningnya yang terus bercucuran. Ini bahkan masih pukul sepuluh pagi, tapi lihat. Seluruh tubuh Varo sudah dipenuhi oleh keringat.


Bahkan, bajunya pun sudah basah karna keringat disekujur tubuhnya. Membuat Varo sedikit menggigil karna dinginnya AC ruangannya bertemu dengan keringat ditubuhnya.


Semua ini pasti karna Varo tidak mencium aroma tubuh Kiren, istrinya. Memang Kiren sudah tidak semarah kemarin, hanya saja Kiren tidak pernah mau dipeluk oleh Varo seperti biasanya. Oh, wanita hamil benar-benar menguji kesabaran Varo ternyata.


Bagaimana mungkin selama Kiren hamil, Varo berubah menjadi pria mellow yang sangat sensitif jika tidak berdekatan atau memeluk istrinya. Ini benar-benar tidak bisa dipercaya.


"Jessi keruangan saya. Sekarang!!" Ucap Varo kepada sekertarisnya melalui telpon.


Tidak berapa lama, ketukan dipintu pun terdengar. Setelah Varo mengucapkan kata "Masuk" muncul lah sekertaris yang sudah hampir lima tahun ini menjadi sekertarisnya. Jessi.


"Ada yang bisa saya bantu pak?" Tanya Jessi sopan.


"Bisa tolong bacakan jadwal saya hari ini Jessi!! Saya ingin tau apa saja jadwal saya hari ini." Jawab Varo pelan.


"Bapak baik-baik saja?" Tanya Jessi sedikit khawatir saat melihat keringat yang terus bercucuran dikening bosnya.


"Ya. Saya hanya sedikit mual."


"Apa kita perlu kedokter pak?"


"Tidak perlu. Sudah, kamu bacakan saja jadwal saya hari ini." Perintah Varo.


Jessi membacakan semua jadwal Varo hari ini, mulai dari mitting siang nanti dengan anak cabang VMC Group, sampai dengan pembahasan proyek-proyek baru dijakarta. Membuat Varo berulang kali memijid keningnya karna pusing.


"Bapak yakin, saya tidak perlu menghubungi dokter pak?" Tanya Jessi sekali lagi.


Varo hanya menggeleng pelan. "Saya biak-baik saja." Ucap Varo pelan.


Melirik kearah sekertarinya yang nampak khawatir padanya. " Jessi menurut kamu, apa yang harus suami lakukan ketika hari ulang tahun istrinya." Sambung Varo dengan nada serius, bahkan pandangannya lurus kearah sekertarinya itu.


"Apa buk Kiren ulang tahun pak?" Tanya Jessi.


"Iya." Jawab Varo mantap. "Menurut kamu, saya harus bagaimana sebagai seorang suami yang baik. Dihari ulang tahun istrinya? Apa saya harus membuat kejutan untuk istri saya?" Sambung Varo lagi.

__ADS_1


"Apa bapak mau membuat kejutan untuk buk Kiren pak?" Tanya Jessi menahan senyum.


Tidak menyangka, jika bosnya akan bersikap romantis pada istrinya.


"Iya. Menurut kamu bagaimana?"


"Bagus sih pak. Memangnya, bapak mau membuat kejutan yang seperti apa untuk buk Kiren pak?" Tanya Jessi sopan.


Varo diam, nampak berfikir. Apa yang harus dia lakukan nanti. Bagaimana cara dia membuat kejutan untuk istrinya. Agar tidak terlihat berlebihan, tapi masih dalam kategori yang normal.


"Menurut kamu, kejutan yang seperti apa!! Yang bisa membuat istri saya bahagia?" Tanya Varo sambil membenarkan letak duduknya dan bersandar dikursi kebesarannya. Bersiap mendengarkan apa pun yang keluar dari mulut sekertarisnya.


Jessi tersenyum pelan melihat bosnya yang banyak berubah selama menikah. Lebih terlihat manusiawi dan lebih hidup. Membuat Jessi sedikit merasa kagun pada bosnya itu. Karna ternyata, bosnya bisa berbuat romantis dan manis juga.


"Bagaimana dengan acara makan malam romantis pak? Atau, bapak ingin membuat kejutan dengan pesta di hotel?" Ucap Jessi memberi saran.


Varo nampak memikirkan ide sekertarisnya. "Sepertinya, makan malam romantis lebih baik." Ucap Varo menyetujui ide sekertarisnya yang pertaman.


Jessi mengangguk mendengr ucapan bosnya. "Memangnya, kapan hari ulang tahun buk Kiren pak?" Tanya Jessi penasaran.


"Kemarin." Jawab Varo santai. Sontak langsung membuat Jessi memandang ngeri kearah bosnya.


"Bapak tidak salah?" Tanya Jessi sedikit tidak yakin.


"Apa?" Balik tanya Varo.


"Ulang tahunya kemarin, kenapa baru hari ini bapak ingin membuat kejutanya?" Tanya Jessi heran. Runtuh sudah rasa kagum yang Jessi pikirkan tadi. Ternyata bosnya masih sama seperti dulu, tidak ada peka-pekanya. Jangan bilang istri bosnya ini sedang marah pada bosnya. Karna lupa hari ulang tahunnya. Mangkannya bosnya merencanakan kejutan ini.


"Karna kemarin saya tidak tau....Jika kemarin hari ulang tahun istri saya." Jawab Varo cuek, tanpa rasa bersalah sedikit pun.


"Bapak tidak tau tanggal lahir buk Kiren?" Seru Jessi tak percaya.


Dengan santainya Varo mengangguk, tidak sadar jika sekertarisnya sudah menatapnya horor. "Apa itu artinya saat ini buk Kiren sedang marah pak?" Tebak Jessi tepat sasaran.


"Bagaimana kamu tau?" Tanya Varo tak percaya.

__ADS_1


Jessi langsung membuang nafas kuat mendengar pertanyaan bosnya itu. Tidak habis pikir, bagaimana bisa bosnya membangun perusahaan sebesar ini, bahkan sampai memiliki anak cabang dimana-mana jika untuk masalah hati, hubungan atau bahkan cinta saja bosnya tidak tau apa-apa. Bahkan bisa dikatakan nol besar.


Haruskah Jessi menertawakan bosnya dalam hal asmara saat ini. Mungkin Jessi akan melakukannya. Jika dia siap untuk kehilangan pekerjaannya ini. "Lalu, bagaimana sekarang? Apa bapak akan membuat acara makan malam romantis untuk buk Kiren pak?" Tanya Jessi mengabaikan pertanyaan Varo tadi.


Membuat Varo mendengus kesal mendengarnya. Sekertarisnya yang satu ini memang kurang ajar kadang-kadang. "Ya.... Bagaimana menurutmu Jes. Makan malam yang seperti apa..... Yang kira-kira bisa membuat istri saya tidak marah lagi!!"


"Bagaimana jika....Makan malam romantis.... Dengan makan malam dipinggir pantai dibawah sinar rembulan pak?" Saran Jessi.


"Tidak. Istri saya sedang hamil,....Saya tidak mau.....Istri saya sakit hanya gara-gara masuk angin.....Karna terkena angin pantai." Tolak Varo mentah-mentah.


Suami dan sikap overprotektifnya.


"Apa itu artinya, saya harus memboking salah satu restoran bintang lima.... Untuk makan malam bapak dan buk Kiren?"


"Apa setelah itu, kamu yakin istri saya tidak akan marah lagi?" Tanya Varo dengan nada serius.


"Bisa jadi iya...Bisa juga tidak pak."


"Saya butuh jawaban yang pasti Jessi." Omel Varo kesal.


Jessi menarik nafas sabar mendengar nada tak bersahabat dari bosnya. Akhir-akhir ini, bosnya memang nampak aneh. Sering membuat Jessi hampir kehabisan kesabaran jika sedang membahas sesuatu. "Apa bapak sudah membelikan kado?" Tanya Jessi.


"Belum." Ketus Varo.


"Nah, bagaimana jika bapak membawa kado saat makan malam nanti. Saya yakin, buk Kiren akan langsung memaafkan bapak..... Jika bapak bisa membelikan kado..... Yang disukai buk Kiren."


"Ya. Sepertinya tidak buruk." Gumam Varo pelan.


"Selain kado. Menurut kamu, apa lagi yang harus saya bawa?" Sambung Varo lagi.


"Bagaimana dengan bunga pak. Perempuan suka dengan hal-hal manis dan romantis. Seperti bunga dan kue."


"Apa saya harus membawa bunga juga?" Tanya Varo sanksi.


"Buk Kiren pasti akan terharu jika bapak mau membawa bunga." Ucap Jessi semangat.

__ADS_1


"Tapi saya sedikit alergi dengan bunga." Ucap Varo pelan.


Bersambung...


__ADS_2