
Kiren memperhatikan pantulan dirinya dicermin. Gaun abu-abu dengan aksen pita dipinggangnya membuat Kiren merasa aneh, baju kemeja dan celana bahanya sudah berubah menjadi dres cantik berlengan pendek berwarna abu-abu dengan aksen pita sebatas lulut. Tidak ada lagi celana panjang yang ada hanya kaki jenjangnya tepampang jelas sekarang. Ditambah dres itu sedikit memperlihatkn lekuk tubuhnya yang membuat Kiren sedikit malu.
Agak risih cuman saat beberapa pelayan toko mengatakan dia nampak cantik dan anggun, membuat Kiren sedikit PD.
"Nah liat, sekarang loe udah kayak upik abu yang berubah menjadi Cinderella." Ucap Hanum menyadarkan Kiren.
Setelah selesai membeli beberapa potong baju, Hanum langsung menarik Kiren kesalon. Merubah rambut lurus panjangnya menjadi sedikit gelombang dengan warna kecoklatan. Kiren sampai pangling melihat perubahan wajahnya.
Emang duit gak pernah bohong ya, kalau cuman mau buat bikin cewek cantik mah gampang. Batin Kiren.
"Gimana udah siap ketemu Varo?" Goda Hanum.
Kiren dengan semangat langsung mengacungkan kedua jempolnya kearah Hanum. Membuat Hanum membalasnya dengan acungan jempol juga.
Gak sabar ni kira-kira gimana ya reaksinya paksu, liat gue yang udah cuantekkkk gini. Kiren cekikikan membayangkan pemikirannya sendiri.
"Yuk." Ajak Hanum menggandeng sebelah tangan Kiren.
"Mbak loe yakin? Kalau dandanan gue gak aneh?" Tanya Kiren sedikit was-was.
Pasalnyakan, Kiren gak pernah dandan, mana dandanannya berlebihan gini lagi. Ya gak berlebihan banget sih karna cuman pakai make up tipis plus dres, tapi yang biasanya Kiren pakai celana tiba-tiba harus pakai rok kan jadi gimana gitu. Berasa aneh deh intinya.
"Tenang percaya sama gue. Kalau sampai Varo gak terpesona sama loe, berarti laki loe itu matanya udah mines atau yang lebih parah katarak. Gak bisa bedain cewek cantik sama cewek burik."
"Najis, loe ngatain gue mbak?"
"Dih ngarang. Gue itu muji bukan ngatain ****."
"Lah itu burik?"
"Lah emang sekarang loe ngerasa burik?"
"Tau lah mbak, ngomong sama loe kayak ngomong sama tembok. Gak dijawab bikin emosi kalau ngejawab malah bikin naik darah tinggi." Dumel Kiren.
"Dih gitu aja baper..."
...----------------...
Mereka tiba di hotel yang kata Hanum tempat menginap Varo, Hotel mewah dengan gaya modern dan sedikit sentuhan klasik membuat Kiren semakin menganga takjub.
Belum lagi saat mereka baru pertama masuk, seorang pria paruh baya langsung menghampiri Hanum.
__ADS_1
Pak Johan, itu namanya. Seorang meneger di hotel ini menyambut mereka sopan dan ramah. Bahkan memberikan pelayanan yang menurut Kiren sangat berlebihan.
"Bagus mbak hotelnya."
"Iya dong hotel siapa dulu, laki lo." Ucap Hanum bangga.
Kiren yang mendengar suaminya disebut langsung menganga tak percaya. Ini yang salah siapa sih, suaminya yang terlalu kaya atau Hanum yang emang udah stres. Yang punya hotel siapa, yang bangga siapa.
Duh duh gusti, Kiren mulai ikutan gila kayaknya ini.
"Pak Jo kenal kan, ini Kiren istri Dipta." Ucap Hanum memperkenalkan setelah mereka duduk nyaman di meja bundar disalah satu restoran hotel.
Pak Johan sedikit tersentak mendengar wanita cantik yang berdiri di depanya adalah istri atasannya. Sedikit membungkuk hormat, pak Johan langsung memanggil beberapa pelayan untuk membawa barang-barang yang dibawa Kiren. Membuat Kiren langsung merasa bingung.
"Biarkan kami yang membawa barang-barang ada nyonya." Tawar pak Johan sopan.
Kiren cuman menurut, membiarkan beberapa pelayan mengambil paper bag yang ada di tanganya.
"Tolong antar kekamar Dipta ya pak." Ucap Hanum yang langsung di patuhi oleh pelayan yang membawa barang Kiren.
"Elo mau keliling dulu atau istirahat dikamar?" Tanya Hanum.
"Gue keliling aja deh mbak, pengen liat-liat daerah sekitar sini juga."
Wow. Seberapa kaya Varo sebenarnya. Kenapa hotel ini begitu lengkap.
"Gak usah pak, saya sendiri aja." Tolak Kiren halus.
"Baik lah kalau begitu saya permisi dulu nyonya. Kalau nyonya butuh sesuatu, nyonya bisa memanggil saya langsung, atau beberapa pelayan disini, kami siap kapan saja melayani anda."
Duh enaknya jadi orang kaya apa-apa dilayani.
Kiren mengangguk saja menjawab tawaran pak Johan didepanya.
"Mari saya permisi, nyonya Hanum, nyonya Kiren."
Hanum dan Kiren mangangguk kompak sebagai jawaban.
"Mbak kok bapak-bapak itu udah kenal elo sih?" Tanya Kiren setelah pak Johan pergi menjauh.
"Gue sering kesini, kalau mas Adam lagi dikalimantan. Dia juga kan nginepnya disini." Jelas Hanum.
__ADS_1
"Suami lo juga sering kesini mbak? Atau jangan-jangan sekarang loe mau nagajak gue kesini karna suami lo disini lagi!!" Tuduh Kiren sambil menyipitkan mata curiga.
Hanum hanya mengangkat bahu cuek.
Sialan jadi maksud dia kemarin hanymoon bareng itu ini. Karna suaminya juga disini.
Kiren langsung mendengus kesal melihat seringai Hanum, pantas saja Hanum dari kemarin semangat sekali nyusulin Varo. Orang suaminya disini. "Udah gak usah kesel, lagian kalau laki gue gak disini juga gue bakal anter lo. Berhubung laki gue juga disini menyelam sambil minum air kan gak masalah." Ucap Hanum sambil tersenyum bahagia.
"Terus mereka tau gak kalau kita kesini?"
"Gak dong, kita buat surprise buat mereka." Ucap Hanum senang.
"Gimana kalau pelayan pak Johan tadi ngomong kalau kita kesini?"
"Tenang masalah itu loe gak perlu khawatir. Sekarang yg terpenting lo harus nurut sama gue biar berhasil."
"Gak yakin gue mbak sama rencana lo."
"Loe ngeremehin gue?" Tanya Hanum memicingka mata.
Kiren hanya mengangkat bahu cuek, wajah-wajah seperti Hanum ini pasti gak meyakinkan kalau disuruh membuat surprise. Dulu saja saat mereka ingin mengerjai anak caffe yg sedang ulang tahun, dan mereka semua mengikuti ide Hanum, mereka malah gagal total. Bukanya berhasil dan berjalan lancar yg ada malah mereka gagal dan terkena sial.
Kiren berdiri dari duduknya. "Uda ah gue mau keliling, liat-liat sekitar hotel." Ucap Kiren semangat.
"Nih." Hanum menyodorkan card key kearah Kiren. "Kalau lo capek keliling loe bisa masuk ke kamar Varo. Terus istirahat disana."
Kiren menerimanya dengan binar wajah bahagia. "Thanks ya mbak." Ucap Kiren sambil melangkah keluar.
Waktu nya memanjakan diri.
Kiren terus melangkah mengelilingi hotel, angin sejuk langsung berhembus ketika Keren sampai di jalan setapak arah kepantai, disamping kiri kanan Kiren terdapat beberapa pohon cemara, dan kelapa udara disini benar-benar sejuk. Pantas jika Varo betah berlama-lama disini tempatnya begitu nyaman dan asri.
Kiren tidak berhenti berdecak kagum bahkan pantainya begitu bersih dan indah, suara ombak begitu merdu dan pasir putih bersih membuat Kiren semakin betah berlama-lama dipinggir pantai ini.
Ketika terus berjalan menyusuri pantai, mata Kiren langsung memicing tak percaya ketika diujung pantai tidak jauh dari Kiren berdiri. Ada dua anak manusia yg terlihat duduk di bawah pohon dengan beralas kan karpet sedang bercengkrama layaknya sepasang kekasih yg sedang menikmati indahnya sore ditepi pantai.
Tapi bukan masalah untuk Kiren jika pria yg duduk disana adalah pria yang tidak dikenalnya. Dan, akan menjadi masalah besar jika pria yg duduk disana adalah pria yg dikenalnya. Pria yg sama, yg membuat alasan Kiren jauh-jauh datang Kesini. Hingga mempertaruhkan nyawanya.
Nyawa nya loh ini, yg cuman ada satu-satunya di dunia. Gak ada serepnya. Gak ada yg memperjual belikan apa lagi sampai bergaransi. Kan ambyar kalau sampai melayang ketika Kiren belum pernah merasakan yg namanya malam pertama dan belaian mesra suami tampanya. Duh Kiren fokus.
Dengan perasaaan dongkol luar biasa Kiren melangkah lebar kearah dua anak manusia yg terlihat asik berbincang.
__ADS_1
Berkacak pinggang." ALVARO PRADIPTA." Teriak Kiren menggelegar seperti manusia yg sudah siap mencabut nyawa.
Bersambung....