
"Mas." Panggil Kiren yang tidak tega dengan Bima. Tapi dia juga tidak munafik, jika tidak suka dengan Bima yang meminta Varo untuk menjenguk putrinya. Apalagi mengingat Citra adalah mantan Varo. Membuat Kiren kesal, tapi Bima sudah berjanji ini untuk yang terakhir kalinya kan. Apa Kiren bisa percaya itu.
Varo menoleh cepat kearah Kiren. "Ada apa? Kamu sudah lapar?" Tanya Varo sedikit berlebihan.
Kiren menggeleng cepat. "Tidak-"
"Gak sayang. Aku gak mau ambil resiko buat hubungan kita, apalagi kita baru memulai pernikahan ini. Aku tidak akan mau ambil resiko apapun soal masalah seperti ini. Bisa saja hari ini kamu percaya.... Tapi untuk kedepannya...Siapa yang bisa menebak. Buat masalah cincin waktu itu saja sudah hampir membuatku frustasi, apalagi masalah seperti ini. Aku tidak akan mau ambil resiko untuk calon bayi dan istriku..." Ucap Varo tanpa pikir panjang.
Menarik tangan Kiren untuk berdiri disampingnya dan merapatkan tubuhnya semakin dekat. Varo langsung menoleh kearah Bima. "Maaf om. Saya tidak bisa membantu untuk masalah om kali ini......Saya tidak ingin ambil resiko apapun untuk masalah pernikahan saya kali ini.....Saya harap om dapat mengerti. Kami permisi." Sambung Varo dengan nada tegas.
Bima mengepalkan kedua tangannya disamping tubuhnya erat. Memandang marah Varo dan Kiren yang berjalan menjauh. Bahkan nafasnya sampai memburu, karna menahan emosi yang terus berkobar didalam dirinya.
__ADS_1
Dengan gigi bergeletuk kuat, Bima terus menatap nyalang kearah pasangan muda yang terlihat bahagia pergi meninggalkan dirinya. "Kau akan menyesal karna telah mengabaikan permintaanku bodoh!!" Ucap Bisa penuh penekanan dan terasa dingin disetiap katanya.
Tersenyum sinis. "Lihat saja pembalasan ku." Sambung Bima menyeramkan.
Setelah itu, Bima melangkah menjauh keluar dari kantin rumah sakit. Berjalan menuju ruangan putrinya, Citra. Masih dengan amarah yang berkobar dalam dirinya.
*****
"Apa kita gak keterlaluan mas, menolak permintaan om Bima?" Tanya Kiren setelah duduk tenang didalam mobil.
"Nah, karna itu. Apa tidak masalah kita menolak seperti tadi? Mas lihat wajah om Bima!! Dia kelihatan sangat tersinggung dengan kata-kata mas."
__ADS_1
"Biar dia tau. Kalau kita itu tidak mudah dibodohi apalagi diperalat."
"Tapikan, tidak harus sampai seperti tadi mas." Protes Kiren.
"Tidak apa-apa sayang..... Kamu tidak perlu khawatir......... Mas hanya tidak mau bersikap lemah lembut pada mereka. Nanti akan sulit kalau sampai kita bersikap lemah pada mereka..... Bisa-bisa mereka ngelunjak. Syukur-syukur setelah ini mereka tidak mengganggu pernikahan kita lagi!!"
"Kalau masih mengganggu bagaimana?" Tanya Kiren khawatir.
"Mas akan lebih tegas pada mereka.... Biar mereka tau.....Kalau mereka sudah berurusan dengan keluarga Pradipta. Mereka tidak akan dengan mudah lepas begitu saja." Jawab Varo mantap.
"Mas gak takut..... Jika mas bersikap begitu, mereka tidak akan dendam dan menyakiti kita? Aku takut jika mereka nekat akan berdampak pada rumah tangga kita?"
__ADS_1
"Karna itu sayang....Mas tidak bisa bersikap lunak pada mereka.....Mas bersikap tegas juga karna apa? Karna mas tidak ingin mereka mangganggu rumah tangga kita....Mas menolak dengan tegas seperti tadi juga agar mereka tau.....Jika mas tidak akan mudah termakan oleh jebakan mereka....Lagi pula, mas tidak main-main dengan ucapan mas...Mas masih memberi mereka toleransi karna menurut mas mereka belum melampaui batas wajar...Jika mereka sampai berani melampaui batas, jangan salahkan mas kalau sampai mereka akan kehilangan apa yang mereka miliki saat ini. Mas tidak akan pernah membiarkan siapa saja yang berani mengusik ketenangan keluarga mas....Bisa hidup dengan tenang!!" Ucap Varo dengan nada tenang. Tapi walau ucapan Varo terdengar tenang. Kiren tau jika suaminya itu tidak main-main dengan semua ucapannya.
Bersambung....