SUAMI ANTI ROMANTIS

SUAMI ANTI ROMANTIS
Khawatir.


__ADS_3

Varo sedang asik mengobrol dengan beberapa rekan bisnisnya. Tidak sadar jika istrinya, Kiren sudah tidak ada diruangan yang sama denganya. Seakan lupa jika tadi dia berangkat dengan Kiren. Varo terlihat menikmati obrolanya.


"Permisi pak." Panggil Jesi sekertaris Varo berbisik.


Varo hanya menoleh sekilas, dengan jari telunjutnya memerintahkan sekertarisnya untuk diam. Karna dia sedang fokus mendengarkan rekannya yang berbicara.


Sedang sekertarisnya terlihat bingung dan gelisah. Karna istri bosnya belum juga kembali dari satu jam yang lalu. Bahkan saat dia hubungi nomornya tidak aktif, entah memang disengaja atau karna memang karna tidak ada signal.


"Pak Dipta." Panggil Jesi sekali lagi.


Varo menoleh dan melirik jam dipergelangan tanganya. "Sebentar Jesi." Ucap Varo.


Setelah itu Varo kembali fokus pada pembicaraan rekanya. Walau Varo sedikit heran dengan sekertaris nya hari ini, karna tumben sekali dia selalu mengganggu Varo berbicara dengan rekanya. Biasanya juga dia diam saja walau Varo sedikit melenceng dijam miting yang sudah di tentukan. Karnan ada beberapa pembahasan yang belum menemukan jalan keluarnya.


Lima menit Jesi menunggu Varo selesai berbicara tapi belum ada tanda-tanda bosnya itu menyudahi sesi obrolanya. Apa bosnya lupa jika dia miting hari ini ditemani istrinya.


Jesi menimbag-nimbang apa dia katakan sekarang atau tetap menunggu bosnya berdiskusi hingga selesai. Dan akhirnya. "Pak Dipta. Bu Kiren menghilang." Ucap Jesi sedikit keras.


Dan berhasil, Varo langsung menoleh cepat padanya begitu pun beberapa rekanya. "Apa maksud kamu Jesi?" Tanya Varo heran yang langsung berdiri menghadap penuh pada sekertarisnya.


"Sudah satu jam yang lalu. Bu Kiren ijin keluar sebentar pak, untuk jalan-jalan karna bosan. Dan sampai sekarang beliau belum kembali, saya sudah menghubunginya tapi nomornya tidak aktif. Bahkan saya sudah mencoba mencari keluar dan mengeceknya, tapi tidak ada tanda-tanda ada nya beliau disekitar sini." Jelas Jesi sedikit takut.


Mendengar penjelasan Jesi, Varo langsung menoleh ke kursi yang di duduki istrinya tadi. Umpatan keras langsung keluar dari mulutnya. Bahkan Varo melupakan beberapa rekanya yang memandangnya heran.


Tidak mau repot-repot berpamitan atau sekedar basa-basi Varo langsung saja melenggang pergi meninggalkan rekanya yang memandangnya semakin heran.


Melihat Varo yang langsung keluar Jesi langsung memohon maaf pada rekan Varo, dan mengatakan jika Varo ada keperluan mendadak.


Varo sudah seperti orang kesetanan yang mencari Kiren. Bahkan hp di tanganya terus ditempelkan di telinga berusaha menghubungi istrinya, tapi hanya jawaban operator yang terus dia dengar.


Mengedarkan pandanganya ke penjuru arah Varo sudah seperti singa yang sedang mencari mangsanya.

__ADS_1


Hampir 15 menit Varo berkeliling gedung, tapi benar Kiren, istrinya tidak ada dimana-mana.


"Pak Varo." Panggil Jesi.


Varo langsung melangkah cepat kearah sekertarisnya. "Hubungi manager gedung ini. Sekarang." Perintah Varo datar.


Terlihat sekali Varo sedang dilanda panik luar biasa, daerah gedung ini disekelilingi pepohonan dan taman-taman. Tapi masalahnya jika kita masuk kepepohonan itu hanya akan mengarah pada 3 tempat, sebelah utara tempat pemukima penduduk, dan selatan perkotaan. Lalu sebelah timur ada hutan yang sering digunakan hiking oleh beberapa pendatang atau pengunjung disini.


Tidak masalah jika Kiren melangkah ke kota atau pemukiman penduduk. Disana Kiren bisa mencari pertolongan untuk mengantarkannya kemari atau hotel mereka. Tapi bagaimana jika istri cantiknya itu mengarah kehutan. Akan meminta tolong pada siapa dia, monyet yang bergelantungan dipohon? Atau pada hewan buas yang dia temui. Jika sudah begitu bukannya dibantu yang ada istri cantiknya akan dilalap habis oleh mereka.


Ya tuhan bahka fikiran-fikiran buruk sudah mulai menghantui Varo. Varo kembali melangkah ke ruanganya tadi dengan perasaan cemas dan khawatir.


Jesi datang dengan seorang pria paruh baya yang Varo yakini bahwa dia adalah seorang manager disini.


"Selamat siang tuan, apa ada yang bisa saya bantu." Sapa nya ramah.


"Istri saya hilang, saya yakin dia masuk ke hutan-hutan sekeliling sini. Apa di sekitar sini dilengkapi CCTV atau kemanan lain?" Tanya Varo pelan tapi tatapan nya tidak dapat dibohongi jika dia sedang khawatir.


Mendengar istri Varo menghilang, rekan kerja Varo serempak menoleh padanya. Kebetulan belum ada yang keluar dari ruangan miting itu tadi karna mereka berencana membahas beberapa masalah lagi tanpa Varo.


Melihat gelengan menager itu. Amarah Varo pun langsung tersulut. "Bagaimana mungkin ditempat seperti ini kalian tidak menyediakan tingkat keamanan yang ketat. HAH." Sembur Varo kehilangan kontrol.


Semua orang langsung terbelalak mendengar teriakan Varo, tak terkecuali sekertarisnya. Varo yang biasanya terlihat tenang, santai dan terkendali, sekarang terlihat begitu murka dan marah. Jika biasanya Varo selalu menghadapi masalahnya dengan kepala dingin, berbeda dengan kali ini dia terlihat begitu frustasi dan kalut.


Jesi yang baru pertama kali ini melihat bosnya marah ikut menunduk takut, selama hampir lima tahun dia bekerja dengan bosnya. Baru kali ini dia melihat bosnya marah besar dan murka. Dan semua itu karna istrinya, apa bosnya ini begitu mencintai istrinya. Karna dulu dengan mantan tunanganya Varo terlihat cuek dan dingin. Jesi bisa melihat itu, ketika beberapa kali mantan tunangan bosnya itu ikut perjalanan bisnis dengan mereka.


"Maaf tuan, tapi kami pastikan istri anda akan baik-baik saja." Ucap manager takut-takut.


"Saya tidak mau tau. Saya ingin secepatnya kalian temukan istri saya." Ucap Varo "Kalau tidak, saya pastikan tempat ini akan mendapat masalah karna itu." Sambung Varo berbahaya.


Menenger itu hanya mengangguk dan pamit undur diri.

__ADS_1


"Tenang kak, jangan panik. Jihan yakin istri kakak tidak akan kenapa-kenapa, dia kan bukan anak kecil." Ucap Jihan yang berdiri dari duduknya dan melangkah mendekat kearah Varo.


Varo hanya melirik nya sekilas tanpa mau repot-repot berkomentar, karna tangannya sekarang sedang sibuk dengan hp yang terus berusaha menghubungi Kiren.


Melihat Varo tidak peduli padanya, Jihan langsung memerah wajahnya menahan kesal. "Lagian kenapa istri kakak itu begitu ceroboh, bagaimana mungkin diusia yang tidak muda masih suka membuat orang repot." Ucap Jihan mengejek.


Begitu mendengar Jihan membicarakan istrinya. Varo langsung menatap tajam wanita itu. "Beruntung lah anda seorang wanita nona. Karna jika anda seorang laki-laki. Saya pastikan. Bahwa saya akan melempar anda keluar sekarang." Pelan tapi mematikan. Itulah yang Varo ucap kan sekarang.


Jihan diam mematung mendengar ucapan Varo. Tidak menyangka jika pria yang disukainya selama ini, bisa menatapnya begitu tajam dan berbicara begitu mengerikan hari ini. Hanya karna dia kehilangan istrinya. Sial.


Dengan tatapan sinis, Jihan langsung melenggang pergi meninggalkan Varo dan beberapa rekan bisnis yang berbisik-bisik tentangnya.


"Jesi." Panggil Varo.


"Iya pak." Jawab Jesi mendekat kearah bosnya.


"Hubungi Johan sekarang, katakan. Suruh dia kemari membawa orang-orang yang terlatih untuk membantu kita mencari Kiren."


"Baik pak."


"Saya akan mencari kehutan lebuh dulu. Kamu menunggu Johan disini, setelah itu suruh mereka menyusul saya."


"Baik pak kami akan secepatnya menyusul bapak."


"Saya hanya menyuruh mereka. Kamu tetap disini." Perintah Varo.


"Tapi Pak-"


"Saya tidak mendengar penolaka Jesi. Kamu tetap disini, berjaga-jaga jika Kiren kembali kamu bisa hubungi saya." Ucap Varo tegas tanpa bantahan.


"Baik pak."

__ADS_1


Setuju gak kalau hari ini up satu bab aja. Yang gak setuju boleh dong komen😊😊😊😊😊😊😊😊😊😊😊


Bersambung.......


__ADS_2