SUAMI ANTI ROMANTIS

SUAMI ANTI ROMANTIS
Kalau senyumnya model begini sih. Gue gak nolak.


__ADS_3

Memperhatikan bangunan megah didepan matanya. Kiren berulang kali berdecak kagum dibuatnya.


Sekarang Kiren sedang berada didepan perusahaan Varo. Berjalan masuk untuk menunggu Varo dilobi. Tadi memang Varo ingin mengajaknya ke rentorant yang menyediakan tempat-tempat privasi. Tapi, karna tiba-tiba Varo mendapat telpon penting dari sekertarisnya yang akhirnya membuat Varo harus membatalkan niat mereka.


Akhirnya Varo pun mengajaknya keperusahaan tempatnya bekerja. Untuk membicarakan hal penting yang dia maksud.


Karna Varo harus berbicara dengan beberapa orang berjas di caffe depan kantornya. Akhirnya Varo menyuruh Kiren untuk menunggu dilobi, nanti akan ada orang yang menjemputnya, dan Kiren bisa menunggu di dalam ruangan Varo. Agar Kiren tidak merasa bosan dan jenuh menunggu Varo.


Melangkah masuk lebih dalam kelobi. Mata Kiren melotot horor saat menemukan Siska, sepupunya juga sedang duduk disofa lobi. Sepertinya juga sedang menunggu seseorang.


"Kiren?" Panggil Siska. "Ngapain loe disini?" Ucap Siska yang juga menyadari kehadiran Kiren.


"Oh, gue lagi nunggu temen." Jawab Kiren sekenanya.


Bingung sih mau jawab gimana. Lagian, ngapain sih ini sepupu Koren disini. Malas banget Kiren kalau harus meladeni Sepupunya ini.


Kiren memang tidak pernah akur dengan sepupunya. Karna sepupunya ini sangat menyebalkan menurut Kiren.


"Loe sendiri? Loe kerja disini?" Tanya Kiren gantian.


"Gak. Gue lagi nunggu Pras, Cowok gue. Pras meneger marketing di perusahaan ini." Jelas Siska tanpa ditanya.


Gue gak nanya apa kerjaan cowok loe. Batin Kiren.


"Loe nunggu temen apa calon loe yang kemarin?" Tanya Siska kepo.


Kepo banget sih ni nenek lampir. Gak emak, gak anak kok sama aja. Batik Keren.


"Sayang udah lama?"


Kiren bernafas lega begitu orang yang di tunggu Siska muncul.


Syukur deh biar cepet cabut ni nenek lampir. Malas banget gue ngeladenin pertanya'annya.


"Siang buk Kiren" Merasa namanya dipanggil, Kiren langsung menole kearah samping. Dilihatnya, wanita kisaran berumur 30 tahun tersenyum sopan padanya.


Ini siapa lagi?


"Siang." Jawab Kiren canggung. Merasa aneh dipanggil ibu. Maklum Kiren kan belum setua itu.


"Mbak kenal saya?" Sambung Kiren sedikit kaget.


Kayaknya Kiren gak merasa punya kenalan yang kerja disini deh.


" Saya Jessi. Sekretaris pak Dipta.. Saya diperintahkan pak Dipta untuk mengantar bu Kiren keruangan beliau. Sementara pak Dipta, sedang ada miting dengan klien" Jelas Jessi lembut dan sopan.


Kiren melirik Siska, sepupunya ini terlihat syok saat melihat Kiren dijemput sekertaris Varo. Boda amat lah paling bentar lagi Kiren bakal jadi gosip hangat keluarga besarnya.


"Gue duluan Sis." Ucap Kiren cuek.


"Lewat sini bu." Tunjuk Jessi kearah lift khusus direksi.


"Jangan panggil bu deh mbak, panggil Kiren aja, biar lebih akrab. Lagian kayaknya lebih tuaan mbak kok." Ucap Keren.


Kiren merasa aneh mendengar orang memanggilnya bu, mana orang lebih tua lagi yang manggilnya begitu.


"Gak enak sama pak Dipta bu." Jawab Jessi.


Ya terserah lah, Kiren sedang malas berdebat saat ini. Masa bodo dengan panggilan, toh gak merugikan Kiren. Tapi kok aneh ya, kenapa Varo dipanggil Dipta. Ingatkan Kiren untuk bertanya soal ini pada Hanum nanti.


Kiren mengikuti Jessi dari belakang begitu mereka keluar dari lift.


"Silahka masuk bu." Ucap Jessi, membuka pintu ruangan Varo. Ruangan ini sangat mewah tapi elegant. Dilengkapi dengan dinding kaca transparan yang bisa membuat kita menikmati keindahan kota dari atas gedung ini.


Kiren bahkan dibuat melongo dengan interior ruangan yang mewah tapi elegant. Sampai-sampai Kiren tidak berhenti berdecak kagum dibuatnya. Maklum, ini kali pertama Kiren masuk keruangan mewah seperti ini.


Seberapa kaya sih sebenarnya Varo ini. Kenapa ruangannya sebagus ini. Lalu kenapa pas makan malam dirumahnya, dia hanya diam saja ketika tante Tuti menyombongkan pacar Siska. Kenapa Varo tidak mengatakan kalau dia juga bekerja disini. Punya sekertaris lagi. Apa jangan-jangan dia merendah untuk meroket. Jika begitu, haruskah Kiren sekarang senang karna itu.


Dih, kenapa gue yang seneng coba.


"Bu Kiren mau minum apa?" Tanya Jessi membuyarkan lamunan konyol Kiren.

__ADS_1


"Gak usah repot-repot mbak, Varo emang masih lama ya?" Tanya Kiren.


"Mengkin sebentar lagi bu. Kalau begitu, saya permisi.... Kalau bu Kiren butuh sesuatu....Bu Kiren bisa panggil saya. Saya ada di depan ruangan ini." Jawab Jessi sopan.


Kiren hanya mengangguk mengerti. Sekertaris Varo ini benar-benar sopan, buat Kiren kikuk saja.


Hampir 30 menit Kiren memperhatikan ruangan Varo. Lama-lama, rasa bosen dan jenuh mulai datang dalam diri Kiren.


Berjalan kearah sofa, Kiren duduk disofa panjang sambil memainkan ponselnya. Membuka-buka sosmed yang bisa sedikt membuang rasa bosan dan jenuhnya.


Lama- kelamaan rasa kantuk menyerang Kiren.


Gak papa deh gue tiduran dulu. Varo juga masih lama kali ya.


▪▪▪▪


Merenggangkan otot yang terasa kaku. Kiren memperhatika ruang sekitarnya. Ruangan yang mendominan warna abu-abu ini terasa asing bagi Kiren. Ada ranjang berukuran king size yang ditidurin Kiren, lemari besar yang berjejer rapi disisi ruangan. Membuat Kiren semakin bingung dimana dia saat ini.


Mengerjap pelan, rasa panik langsung melanda ketika pikiran buruk mulai datang dalam otaknya. Kiren menghembuhkan nafas lega, saat pakaian yang Kiren gunakan masih sama seperti pagi tadi. Berarti apa yang ada dipikirannya tidak terjadi.


Gue dimana?


Bukannya tadi dia tiduran di sofa ruangan Varo. Lalu, ini dimana?


Berjalan kearah pintu di ujung ruang. Pelan-pelan Kiren membuka pintu yang berwarna hitam itu.


"Sudah bangun." Ucap Varo yang duduk di sofa tempat Kiren tadi sempat tiduran.


Membuat Kiren mejengit kaget mendengar ucapan tiba-tiba Varo.


Ni cowok udah auranya dingin kayak kuburan. Eh. Suka banget nongol tiba-tiba kayak jin. Mau bikin gue mata muda kali ya.


"Jam berapa ini?" Balik tanya Kiren.


"Jam dua."


"Sory. Gue lama banget ya tidurnya." Ucap Kiren sambil berjalan kearah sofa tunggal yang tidak jauh dari Varo.


"Gak masalah! Kamu laper? Saya sudah pesan makanan, mungkin sebentar lagi datang."


Kiren tak berkomentar apa pun. Toh perutnya juga belum diisi dari siang tadi. Lumayan dapat makanan gratis.


"Loe bilang, ada yang mau lo omongin! Apa?" Tanya Kiren memulai obrolan.


Varo merapikan berkas-berkas yang berserakan diatas meja, didepannya. Menumpuknya menjadi satu dan menggesernya sedikit menjauh.


"Kata kak Hanum.. Kamu keberatan dengan tawaran dia?" Tanya Varo memandang lurus kearah Kiren.


"Tawaran yang mana?" Tanya Kiren pura-pura tidak tau.


"Pernikahan!"


"Oh yang itu." Ucap Kiren kikuk.


"Hmmm." Gumam Varo.


"Gak ada alasan buat gue terima tawaran itu juga." Jawab Kiren sekenanya. "Lagian kan cewek loe kabur! Bukan meninggal. So, masih ada kemungkinan buat dia balik lagi.....Jadi kenapa gue harus mau nikah sama loe!!"


"Dia sudah menikah!" Ucap Varo santai.


Kiren langsung melihat Varo horor. Mata Kiren sampai melotot besar sangking syoknya.


Amazing....Ni cowok tau tunangannya udah nikah...Masih bisa bersikap santai begini.


"Loe tau dari mana kalau dia udah nikah?" Tanya Kiren penasaran.


Varo hanya mengangkat bahu cuek. Sama sekali tidak menjawab pertanyaan Kiren.


"Loe tau dia udah nikah!! Dan loe diam aja kayak gini?" Tanya Kiren takjub.


Gila. Ni cowok sehat gak sih, santai banget tau tunangannya udah nikah.

__ADS_1


"Lalu saya harus bagaimana?"


"Ya elah!!! Ya loe datengin lah......Labrak kek... Atau gimana kek, loe kan cowok....Masa diem aja sih." Sungut Kiren berapi -api.


Membuat Varo menarik sedikit sudut bibirnya tipis, mendengar ucapan Kiren yang berapi-api. Membuat Varo merasa lucu. Kenpa jadi Kiren yang kesal disini. Seharusnyakan Varo.


"Buat saya, jika dia bisa bertahan dengan saya disini. Maka akan saya pertahankan, tapi jika tidak!! Saya tidak akan memaksanya untuk tetap tinggal.'' Tutur Varo cuek tapi terasa dingin ditelinga Kiren.


Sumpah merinding gue denger dia ngomong.


"Loe cinta sama dia." Cicit Kiren pelan.


"Itu tidak penting!!! Yang penting disini, kamu mau menikah dengan saya atau tidak!!" Jawab Varo tegas.


"Ya penting lah buat gue!! Gue gak mau ya, nikah sama orang yang gak bakal bisa move on dari mantan." Decak Kiren pelan.


"Saat dia memilih pergi dengan pria lain. Saat itu juga, cinta saya sudah hilang dibawa pergi.."


Setelah Varo mengucapkan kata-kata itu, suasana berubah canggung. Kiren hanya diam dengan perasaan bingung, bingung ingin memulai dari mana.


"Ok!! Apa yang gue dapat kalau gue mau nikah sama loe!!" Ucap Kiren pada akhirnya.


"Kesetian." Jawab Varo mantap.


Ditatapnya bola mata Kiren dengan sorot mata hitam pekatnya.


Disana, di bola mata Varo, Kiren bisa melihat ada luka tak kasat mata yang membuat sedikit hatinya tersentil. Dan tidak nyaman. Haruskah Kiren percaya dengan sorot mata itu. Atau mengabaikan semua masalah yang ada didepan matanya.


"Kamu bisa mendapatkan apa pun dari saya...Apa pun yang kamu mau. Termasuk kesetiaan dan kemewahan yang saya punya."


Kiren diam cukup lama, menimbang apa yang harus dia katakan. Bingung dan merasa aneh. Kenapa Varo hanya menawarkan kesetiaan, dan harta.


Lalu bagaimana dengan hatinya!!.


Haruskah Kiren hidup dengan pria yang tidak mencintainya seumur hidup!!


Karna disini, bukan hanya soal kesetiaan dan harta. Melainkan hati juga ikut berperan disini.


Bagaimana jika, Kiren jatuh hati pada Varo lebih dulu. Haruskah dia hidup dalam cinta sepihak atau lebih parahnya, bertepuk sebelah tangan. Kiren tidak bisa membayangkan, seperti apa jadinya. Hidupnya yang terang benderang sekarang harus diisi denga drama murahan soal cinta.


Dih...Lebay sih gue...Tapi jarang-jarang loh..Cowok tajir model begini mau sama gue.


"Dan saya berjanji, selama kita menikah...Saya akan memperlakukan kamu sebagai mana. Saya memperlakukan wanita yang saya cintai."


"Tapi, gimana....Kalau loe...Nemu perempuan yang bisa buat loe cinta...Setelah kita udah menikah nanti." Tanya Kiren menatap lurus kearah bola mata Varo. Menunggu jawaban apa yang akan diberikan pria tampan didepannya ini.


"Kamu bisa pegang kata-kata saya..... Kalau saya tidak akan...Melirik wanita lain selain istri sah saya."


"Kalau cuman omongan mah...Bisa aja loe lupa...Atau yah.....Ingkar gitu...Gak bakal ada jaminan buat kedepannya..."


"Saya bukan tipe orang yang suka ingkar..Kamu bisa meminta apapun kalau saya sampai ingkar." Jawab Varo tegas.


"Bagaimana dengan kontrak? Apa ada kontrak dipernikahan ini?"


"Ya." Jawab Varo ambigu.


Mengangkat alis bingung. "Jadi pernikahan kita ini adalah pernikahan kontrak?" Teriak Kiren tanpa sadar.


"Kotrak seumur hidup lebih tepatnya." Jawab Varo memperjelas.


Kiren yang mendengar jawaban Varo, tanpa sadar menghela nafas lega. Hampir saja dia kena serangan jantung karna jawaban ambigu Varo.


"Ok. Gue terima tawaran loe."Jawab Kiren tanpa pikir panjang.


"Kamu tau...Kamu tidak akan bisa mundur setelah ini." Jawab Varo memandang lurus kearah Kiren.


Setelah itu. Tidak tau harus menyesal atau tidak, tapi Kiren melihat ada senyum tipis dibibir Varo. Sampai membuat Keren lupa bagaimana caranya berkedip.


Emakkkkkk tolong Kiren. Hati Kiren lemahhh liat senyum mas ganteng........ Kalau begini mah gue gak nyesel bakal nikah besok....


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2