SUAMI ANTI ROMANTIS

SUAMI ANTI ROMANTIS
Aneh.


__ADS_3

1.



2.



3.



4.



5.



Varo benar-benar membuktikan ucapannya soal pindah rumah baru. Setelah kemarin mengatakan ingin mencari rumah baru. Besoknya Kiren benar-benar diajak survei rumah baru mereka. Ada lima pilihan untuk calon rumah baru mereka, dan semua rumah itu terletak dimenteng. Dengan dekorasi yang membuat orang menggelengkan kepala takjub dibuatnya.


Pasalnya rumah-rumah dimenteng tidak main-main harganya. Tapi jangan panggil suami Kiren VARO PRADIPTA jika tidak bisa melakukan apapun semaunya.


Hanya dengan menelpon selertarisnya, mereka sudah langsung bisa memilih rumah dengan kurun waktu dua puluh empat jam. WOW. Bukankah suami Kiren benar-benar penuh kejutan.


Dan karna itu, Kiren baru percaya kali ini dengan istilah kata. Uang bukan segalanya. Tapi segalanya membutuhkan uang.


Dengan tangan yang tidak lepas menggenggam tangan Kiren, Varo terus menuntun istrinya untuk berkeliling ruamh-rumah mewah itu.


"Bagaimana?" Tanya Varo pelan.


"Ini bagus. Tapi aku lebih suka rumah yang pertama tadi." Jawab Kiren sambil melihat-lihat sekelilingnya.


"Ok. Kita ambil yang pertama kalau begitu." Jawab Varo santai sambil menerling jail. Kiren tertawa melihat sikap aneh suaminya.


Dan seperti itulah percakapan mereka kemarin. Sebelum pindah ke rumah baru mereka. Karna saat ini, Kiren dan Varo sudah menempati rumah baru mereka. Tidak lama setelah survei rumah baru, Varo langsung membawa Kiren ketoko tempat penjual furniture untuk membeli perlengkapan rumah mereka.


Karna Varo terlihat tidak sabar menempati rumah baru mereka. Alhasil, hanya dalam kurun waktu tiga hari, mereka sudah langsung menempati rumah baru mereka.


****


Dan saat ini, Varo dan Kiren sedang mengadakan acara syukuran kecil-kecilan untuk rumah baru mereka.

__ADS_1


"Jadi ini rumah baru loe dan Varo Kiren?" Tanya Hanum yang sedang duduk bersila dikarpet ruang tengah dengan memangku salad buah dipangkuannya.


Kiren mengangguk semangat. "Gimana?? Bagus gak mbak pilihan gue?" Tanya Kiren semangat.


"Gak. Biasa aja sih, bagusan juga rumah gue." Celetuk Hanum sombong.


"Heleh...Rumah udah kayak taman safari aja bangga." Cibir Kiren.


"Heh..Itu mah seni tau..Loe aja yang gak ada jiwa-jiwa kehewanan."


"Etbuset.. Loe kire seni masuk kategori memelihara binatang apa!!"


"Iya lah... Biar kita itu bisa melestarikan hewan-hewan yang hampir punah. Dari situ, jiwa-jiwa seni kita bakal berkaliborasi dengan jiwa kehewanan." Celetuk Hanum asal.


"Serah loe deh mbak... Sekarang gue tanya deh sama loe..Apa sih motivasi loe buat buka kebun binatang dirumah.."


"Ya lucu aja gitu mereka..Rumah gue juga jadi rame.."


"Lucu pala loe botak.. Dari mana singa, monyet lucu pele." Raung Kiren tak habis pikir.


Hanum memang memelihara binatang dirumahnya, mulai dari singa, kuda, segala jenis burung-burungan. Bahka sampai kambing, sapi dan kura-kura juga ada dirumah Hanum. Membuat Kiren yang pertama kali mengunjungi rumah Hanum, syok bukan main. Karna melihat halaman belakang rumah Hanum sudah dirubah seperti taman safari ala Hanuman, oleh Hanum.


"Lucu tau..Unyu-unyu gimana gitu.."


"Gue gak segila itu kali Ren." Ucap Hanum disela-sela tawanya. Yang langsung mendapat cibiran dari Kiren.


"Gak sekalian loe pelihara buaya mbak.."


"Pengen sih. Cuman sama mas Adam gak kasih ijin. Takut lepas katanya." Jawab Hanum enteng.


"Yang." Panggil Varo memotong percakapan dua wanita yamg duduk dikarpet ruang tengah.


"Kenapa?" Tanya Kiren berdiri dan melangkah kearah Varo. Meninggalkan Hanum yang mendengus kuat karna mendengar panggilan Varo untuk Kiren.


"Aku masuk angin deh kayaknya." Adu Varo memijit leher belakangnya.


"Kok bisa? Kan mas gak kemana-mana!! Gak telat makan juga. Kok bisa masuk angin sih!!" Ucap Kiren heran.


"Gak tau. Kepala aku pusing, mual juga perutnya. Badan aku juga berasa lemes banget." Jelas Varo panjang lebar.


"Mau dikerik? Ayo kekamar aja deh." Ucap Kiren menuntun Varo. "Apa mau dipanggilin dokter?" Sambung Kiren menawarkan.


"Gak usah, istirahat aja deh dikamar... Nanti juga sembuh." Ucap Varo lemah.

__ADS_1


Kiren mengantar Varo kekamar mereka. Setelah sampai kamar, Varo langsung membaringkan tubuhnya.


Tubuhnya terasa sakit semua hari ini. Bahkan rasa lemas yang dirasakannya membuat nafsu makannya hilang. Dan tergantikan dengan rasa pusing dan mual secara bersamaan.


"Tadi pagi mas baik-baik aja kan?" Tanya Kiren yang duduk dipinggir ranjang, meletakkan punghung tangannya diatas kepala Varo.


"Badan mas juga gak panas. Apa tadi pagi mas salah makan?" Tanya Kiren khawatir. Melihat wajah sayu dan pucat suaminya membuat Kiren tidak tega.


"Gak papa. Cuman kurang istirahat aja kayaknya." Gumam Varo lemah.


"Mau aku ambilin minum air hangat? Atau makanan gak?" Tanya Kiren pelan.


"Boleh. Mas lagi pengen makan nasi bebek." Ucap Varo.


"Nasi bebek?" Tanya Kiren heran.


"Iya. Tolong nanti telpon Jesi ya. Bilang suruh orang buat beli nasi bebek. Anter kesini, mas lagi pengen makan nasi bebek."


" Ya udah sebentar aku ambil ponsel dulu. Tadi aku tinggal ruang tengah. " Ucap Kiren. "Mas gak papa aku tinggal sebentar?" Sambung Kiren berdiri, Varo hanya mengangguk lemah.


"Mas mau istrahat juga. Nanti kalau nasi bebekmya idah datang kamu bangunin mas ya!!" Pinta Varo pada Kiren. Kiren hanya mengangguk dan melangkah menjauh. Membiarkan suaminya istirahat dikamar.


Setelah keluar kamar, dan melangkah keruang tengah untuk mengambil ponsel di karpet tempat Hanum duduk tadi sudah penuh dengan keluarganya. Mulai dari mamanya Laras, dan papanya Herman, juga ada mama mertuanya dan suami Hanum Adam. Sedang asik berbincang hangat.


"Varo sakit Ren?" Tanya Isa yang melihat Kiren mepangkah mendekat kearah ruang tengah.


Kiren yang mendapat pertanyaan khawatir dari mertuanya hanya mengangguk pelan. "Iya ma masuk angin kayaknya."


"Kok bisa?" Ganti suara Laras yang terdengar.


"Gak tau ma. Padahal dia gak pernah telat makan akhir-akhir ini. Malah nafsu makannya nambah." Ucap Kiren mengingat suaminya yang akhir-akhir ini terlihat aneh. Terutama dengan nafsu makannya.


Mengambil ponsel diatas meja. Kiren mengotak- atik ponselnya. "Mau hubungi dokter?" Tanya Hanum yang melihat Kiren sibuk dengan ponselnya.


"Gak. Mas Varo pengen makan nasi bebek katanya. Aku disuruh nelpon mbak Jesi, buat nyuruh orang beliin." Jawab Kiren tanpa mengalihkan pandanganya dari ponsel.


"Nasi bebek." Tanya Hanum bersamaan dengan Isa.


"Sejak kapan Varo suka nasi bebek?" Sambung Hanum memandang Isa heran.


"Bukannya Varo benci sama basi bebek!!" Seru Isa menambah kadar keherannan orang-orang yang berada diruang tengah.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2