
Varo menatap Adam yang duduk didepannya dengan serius. Setelah ucapan istrinya kemarin tentang mimpi buruk. Membuat Varo tidak bisa memejamkan mata dengan tenang.
Bayang-bayang Kiren yang tergeletak diatas ranjang rumah sakit mengganggunya. Hingga membuat Varo berulang kali mendesah panjang dibuatnya.
"Gue sih belum punya bukti yang kuat...Karna sekuriti loe yang waktu itu adalah dalangnya. Kalau kita ingin mengorek informasi tentang kejadian dirumah loe...Kita harus bisa nemuin dia..."
"Mas yakin temen-teman mas belum bisa nemuin dia...Kata mas, temen-temen mas orang yang handal buat menyelesaikan masalah kayak gini.."
"Gue udah coba, buat minta tolong sama mereka buat cepet nemuin orang itu....Tapi, kayaknya musuh loe bukan orang sembarangan...Buktinya temen gue samapi kelimpungan nyarinya. Dia kerjanya rapi banget...Gue bahkan sampe pusing ngumpulin berkas-berkas itu...." Tunjuk Adam pada berkas didepan mejanya menggunakan dagu.
"Tapi gak mungkin dirumah gue, terjadi kejadian kayak gitu kalau gak disengaja mas.." Seru Varo dengan nada protes.
"Iya gue tau... Tapi tetep aja...Pihak berwajib gak bisa langsung turun tangan kalau kita gak ada bukti...Mau separah apa pun kejadian, kalau kita gak ada bukti atau saksi. Kejadian itu bakal tetep dianggep kecelakaan dari ketidak sengajaan.. Kalau kita cuman ngasih bukti, dengan seluruh pekerja loe dibius dengan obat tidur...Loe yang bakal kena sanksi, karna dianggap teledor..."
"AHHHHHHH.." Teriak Varo sambil mengacak rambutnya frustasi.
"Lagian...Loe yakin gak punya musuh yang bukan orang sembarangan? Kalau dilihat dari gimana rapinya mereka kerja...Gue sanksi musuh loe orang biasa." Tanya Adam dengan nada serius.
__ADS_1
"Aku juga pusing...Seingat ku...Aku gak pernah punya musuh diluar kerjaan...Tapi kalau masalah kerjaan, kita pasti sama-sama tau kalau bersaing didunia bisnis gak semudah itu...Siapa yang bisa menebak kalau mereka diam-diam punya dendam denganku...Entah masalah proyek baru atau masalah saham dan produk baru yang kita baru keluarin. Siapa yang tau tentang itu mas...."
"Nah, karna itu. Bukanya gue udah pernah bilang....Pasang pengamanan ketat dirumah loe...Buat berjaga-jaga adanya kejadian kayak gini....Kita gak pernah tau bakal ada kejadian apa disekitar kita kalau kita gak berusaha hati-hati...Loe inget, dulu gimana hampir gilanya gue pas Hanum ngelamin penculikan itu...Dari situ gue kapok...Sebisa mungkin, gue pantau Hanum dari jauh...Gak bisa dari ponsel seenggaknya dari cincin nikah...Buat berjaga-jaga sama hal-hal yang gak diinginkan..."
Varo hanya diam mendengarkan semua wejangan-wejangan dari kakak iparnya. Kepalanya semakin berdenyut nyeri saat memikirkan banyaknya musuh yang sedang menunggunya hancur saat ini.
"Kita sama-sama tau Dip....Kalau dunia bisnis, gak bisa disepelein kayak gitu....Kalau mereka gak bisa jatuhi perusahaan kita...Mereka pasti bakal ngincer keluarga kita...Karna itu adalah satu-satunya cara buat bikin kita kalang kabut...Dan, gegabah..."
"Bersyukur. Kemarin Hanum berhasil nenangin loe..Gimana kalau loe bener-bener gegabah...Gue gak bisa bayangin apa yang bakal terjadi sekarang..."
Adam hanya manggut-manggut setuju. "Gimana soal om Bima. Gue denger, loe pernah nolak permintaanya pas dirumah sakit?" Tanya Adam dengan nada serius.
"Aku gak yakin kalau dia...Dia gak mungkin bisa sebersih ini kerjanya...Kita sama-sama tau gimana kotornya dia dalam kerjaan...Masalah perusahaan dan kegiatan dia sehari-hari aja, bisa keliahatan cuman dalam menutup mata.." Ucap Varo santai yang dibalas dengan angguk setuju oleh Adam.
"Apa kita perlu nyari detektif yang lebih handal mas? Selain temen mas pastinya..." Sambung Varo bersandar disandaran sofa.
"Gue sih gak ada kenalan yang sehandal temen-temen gue...Karna kerja mereka itu biasanya cepet terus juga rapi...Tapi, kalau loe ada kenalan...Kayaknya gak masalah..Kita bisa coba.."
__ADS_1
"Gue sih pernah denger anak-anak bahas detektif yang di LA...Mereka kerjanya cepet banget katanya...Cuman gitu..."
"Kenapa?"
"Mas tau sendirikan, gimana orang-orang hebat di LA....Mereka gak suka uang atau dollar buat gantinya....Mereka lebih suka saham sebagai alat transsaksinya...."
"Yah...Sepadan dengan hasil kerja keras mereka..." Ucap Adam menyetujui. Varo mengangguk setuju.
"Mending loe pikir-pikir dulu...." Sambung Adam sambil berdiri dan merapikan jasnya yang mulai kusut karna duduk disofa.
Melirik jam ditangannya. "Gue ada janji sama Hanum...Gue cabut ya.." Ucap Adam menepuk pelan pundak Varo. Yang dibalas oleh anggukan pelan oleh Varo.
Seperginya Adam, Varo kembali merenungi semuanya. Pikirannya mulai tidak tenang ketika harus meninggalkan istrinya terlalu lama.
"Hahhhhh.... Lebih baik aku pulang." Gumam Varo pelan.
Bersambung.....
__ADS_1