
Dengan hati-hati Kiren malangkah masuk kedalam kamar, bahkan Kiren membuka pintu pun sangat penuh kehati-hatian seakan pintu itu terbuat dari kaca jika tidak berhati-hati. Tapi Kiren lupa, jika pertama kali dia membuka pintu akan terdengar bunyi TING didalam kamar. Dan Kiren melupakan hal itu.
Matanya langsung mengabsen setiap inci ruangan kamar ketika dia sudah berhasil masuk, bahkan pandanganya sudah seperti seorang pemburu yang sedang mencari mangsa.
Air ludah Kiren terasa langsung berhenti ditenggorokan begitu melihat Varo suaminya, sedang duduk tenang di sofa dengan melipat kakinya keatas bertumpu pada kaki yang lain, sambil memangku buku yang tebalnya seperti kamus besar.
Udara kamar langsung terasa dingin dikulit Kiren, bahkan kakinya yang terluka tidak terasa sakit untuk melangkah sangking gugupnya.
Varo, suaminya terlihat tenang tanpa terganggu sedikit pun dengan kedatangan Kiren. Tapi ibarat sebuah air yang tenang, kita tidak bisa menebak akan sedalam apa dasarnya. Dan bisa saja air yang tanpak tenang itu akan menghanyutkan kita bukan. Itulah yang Kiren pikirkan saat ini.
"Dari mana?." Tanya Varo pelan tapi terasa dingin ditelinga Kiren, bahkan Varo tidak mau repot-repot memandang atau melirik kearah Kiren sedikit pun.
Menelan ludah gugup. "Emmm...It--u aku... tadi habis jalan-jalan sekitar hotel. Oh. Iya sekitar hotel." Gagap Kiren kikuk.
Merasa aneh kenapa yang takut Kiren sekarang, bukankah seharusnya Varo yang merasakan kegugupan dan ketakutan ini. Lalu kenapa sekarang malah terbalik.
Ayo Ren kemana larinya semangat empat lima loe tadi. Kenapa sekarang loe keliatan kayak anak tikus habis kecebur got. Cemen banget tau gak. Bisik hati kecil Kiren.
Varo mendongak memandang Kiren, wajah tenang tapi menghanyutkan milik Varo memandang lurus kearah Kiren.
"Kamu yakin hanya jalan-jalan sekitar hotel?" Tanya Varo pelan tapi terasa berbahaya untuk Kiren.
Bulu kuduk Kiren nyaris berdiri mendengar nada suara Varo, seakan Kiren sedang menguji nyali saat ini. Konyol bukan.
"Lalu kenapa jam segini baru pulang?"
Kiren menarik nafas dalam, matanya ikut terpejam mengikuti setiap tarikan nafasnya.
Tenang Ren. Tenang
Tarik nafas dalam.
Hembuskan.
__ADS_1
Tarik nafas lagi.
Hembuskan.
Disini yang salah Varo bukan loe, jangan takut. Loe harus lebih nyeremin dari Varo. Ucap hati Kiren memberi semangat.
Semua yang dilakukan Kiren tak luput dari pandangan Varo. Wajah Varo terlihat begitu serius memandang Kiren. Bahkan alisnya pun sampai ikut terangkat satu mamandang heran pada Kiren.
"Kenapa emangnya." Jawab Kiren mulai sewot. Karna berhasil menguasai diri.
"Kenapa?" Tanya Varo sinis tak habis pikir dengan jawaban Kiren.
"Iya Kenapa!! Aku pergi atau enggak kan gak akan berpengaruh untuk kamu, toh aku disini juga hanya akan menjadi pajangan cantik untuk mu."
Rahang Varo mengetat mendengar suara tenang istrinya tapi sangat berefek luar biasa bagi tubuhnya. Tubuh Varo terasa kebakar dengan ucapan Kiren, dia seperti ingin mencekik seseorang sekarang untuk melampiaskan emosinya. Tapi tidak mungkin istri cantik nya bukan.
Berdiri dari duduk nya, Varo langsung melangkah mendekat dengan pandangan lurus kearah Kiren. Bahkan matanya seakan sudah siap untuk menerkam Kiren hidup-hidup.
Kiren tidak tau saja jika ucapan nya berhasil memancing amarah Varo yang sedari tadi hampir surut ketika dirinya melangkah masuk ke kamar ini.
"Kenapa? Kamu mau marah?" Tantang Kiren tak gentar, padahal kakinya sudah gemetar saat mata nya bertatapan dengan sorot mata tajam Varo.
Duh gusti, Varo kesurupan. Matanya nyeremin.
Terkekeh sinis. "Marah?" Tanya Varo seakan mencemooh ucapan Kiren.
"Iya."
"Apa menurut mu sedari tadi aku tidak marah!! Apa lagi ketika mendengar istri ku menghilang dari pagi tanpa kabar. Apa menurut mu, sedari pagi aku tidak boleh marah?" Ucap Varo pelan tapi wajah dan telinga nya sudah memerah menahan amarah yang terasa bergejolak dalam diri Varo, sebisa mungkin dia menahannya agar tidak meledak.
Dan Varo yakin jika Kiren terus memancing amarah nya, Varo bisa berteriak murka pada Kiren saat ini. Tapi sebisa mungkin dia berfikir dengan logis, wanita ini, wanita yang sedang berdiri didepanya ini adalah wanitanya. Istrinya.
Wanita yang akan menemani Varo menghabiskan waktu seumur hidup. Jika dia kehilangan kontrol dan berteriak marah saat ini, bisa dipastikan Kiren akan ketakutan padanya. Dan Varo tidak menginginkan hal itu.
__ADS_1
Dia harus tetap menjaga intonasi suaranya tetap pelan meski kepala nya sudah berdenyut nyeri akibat terus menahan amarahnya yang sudah mencabai ubun-ubun. Apalagi, Varo tidak ingin berbicara kasar pada istrinya, tidak akan pernah.
"Kamu khawatir pada ku?" Tanya Kiren mulai tersurut marah.
"Apa aku perlu menjawabnya saat ini."
"Ya. Karna aku sanksi jika kamu benar-benar khawatir!!"
Varo mendengus mendengar jawaban Kiren. Sepertinya saat ini Varo benar-benar ingin berteriak kuat didepan wajah istrinya, mengatakan seberapa khawatir nya dia tadi.
Kiren melangkah mendekat kearah Varo. "Kenapa? kamu keberatan?" Tunjuk Kiren pada dada bidang Varo. Kiren ikut kesal sekarang mengingat suaminya ynng selalu berlagak paling benar. "Kamu yang meminta ku untuk belajar menerima pernikahan konyol ini. Kamu juga yang menyuruh ku belajar menjadi istri yang baik!! Lalu apa? Ketika aku sudah berusaha, tapi malah mendapatkan perlakuan cuek, dan tidak perdulian dari kamu. Begitu!!" Teriak Kiren yang sudah mulai terpancing amarah Varo.
Kiren menggeleng dengan tatapan putus asa. Dan semua itu tak luput dari pandangan Varo. "Bahkan ketika semalam kamu keluar dari ruangan ini dengan sikap acuh dan tak pedulimu, aku sudah merasa aneh dan buruk."
"Dengar-"
"Enggak kamu yang harus dengar aku sekarang." Teriak Kirean memotong ucapan Varo."Kamu." Tunjuk Kiren pada Varo sambil melangkah mundur.
"Kamu yang harus dengar aku sekarang!!!" Ucap Kiren tegas. "Aku jauh-jauh datang kesini nyusul kamu, bahkan aku bertaruh nyawa.... Seumur hidup, aku bahkan tidak berani keluar dari jakarat. Kamu tau, aku tidak pernah berani naik pesawat. Tidak pernah berani meninggalkan rumah terlalu jauh. Tapi demi kamu, aku melakukan itu untuk pertama kalinya. Karna apa?"
"Karna aku juga ingin mempertahan kan rumah tangga yang konyol ini. Rumah tangga yang sejak awal sulit aku percaya dan terima." Ucap Kiren masih dengan suara kuat, tapi tidak bisa menutupi jika suaranya mulai bergetar sekarang. Kiren ingin menangis. Serius.
"Kiren??" Panggil Varo lembut. Amarahnya sudah berganti perasaan tak nyaman sekarang. Apa lagi mendengar suara bergetar Kiren.
Kiren mengangkat sebelah tanganya keatas. Seakan menyuruh Varo diam mendengarkan semua keluh kesahnya saat ini . "Dari aku sampai disini, pernah kita berbicara, membahas sesuatu tentang hal-hal yang menyangkut hubungan kita?"
Kiren menggeleng dengan tatapan mata berkaca-kaca. "Enggak. Kita gak pernah membahas apa pun. Kamu hanya sibuk miting, kerja, menyelesaikan pekerjaan... Dan semua itu, selalu membuat aku yang berakhir tidur dikamar ini, sendiri!!"
Varo menggeleng ketika melihat mata Kiren sudah berkaca-kaca. Tidak menyangka jika perbuatanya malah membuat istrinya sedih separah ini. Tapi Varo juga punya alasan kenapa dia bersikap seperti itu. "Kiren dengar, ini bukan seperti yang kamu pikirkan ..." Ucap Varo mencoba ingin menjelaskan.
"Enggak. Aku gak mau denger apa pun sekarang Varo. Aku capek, mau istirahat." Tolak Kiren.
Kiren bahkan memanggil Varo sekarang tampa mau menambah embel-embel mas.
__ADS_1
Bersambung......