
Varo terus membimbing Kiren keatas ranjang. Dengan hati-hati, Varo merebahkan Kiren diatas ranjang.
Kiren yang direbahkan Varo diatas ranjang, hanya bisa terus menatap manik mata Varo dengan pasrah. Disana, seakan Varo sedang memandangnya penuh damba.
Pandangan pertama yang membuat Kiren merasa diinginkan dan begitu di puja. Tidak ada kata-kata cuek, atau sikap tak peduli saat ini. Yang ada, hanya bisikan-bisikan mesra dari bibir suaminya. Seakan, seharian ini Varo telah salah dalam memilih obat untuk dikonsumsi olehnya.
Tapi, itu tidak masalah bagi Kiren sekarang. Karna, yang terpenting saat ini adalah mereka akan memulai hubungan yang lebih dalam dengan ikatan yang lebih benar dimata tuhan. Yang akan meresmikan statusnya menjadi nyonya Pradipta yang sesungguhnya. Yang sedari tadi suaminya ucapkan padanya.
Palukan mesra Varo melelehkan hati Kiren. Bahkan kecupan hangat suaminya membuat Kiren tersenyum bahagia dengan wajah malu-malu.
Pelan-pelan, benda tipis kenyal milik suaminya mendekat kearah bibir Kiren, tidak kasar atau terburu-buru. Tapi lebih terasa pelan-pelan dan memabukan.
Kiren sampai seperti terbang melayang kelangit ketujuh, lenguhan demi lenguhan terus bersaut-sautan memenuhi ruangan sederhana itu.
Tangan Varo pun tidak tinggal diam, dia terus bekerja melepas apa pun yang melekat di tubuh ramping istrinya.
Kiren hanya bisa pasrah melihat kerja keras suaminya. Ketika Varo menawarkan diri untuk membiarkan Kiren yang bergantian melepas pakaian miliknya. Kiren malah dengan kejamnya mencubit kuat perut Varo, membuat Varo mengaduh pelan karna cubitan maut istrinya.
Oh.. Lihatlah, bahkan mereka terlihat malu-malu tapi mau. Apa lagi Kiren, air liurnya bahka hampir tumpah melihat roti sobek milik suaminya. OH NO. Bikin mata eike gak perawan boooooo.....Plakkk Author ganggu ihhh...
Dada bidang itu begitu menggiurkan dimata Kire, membuat tangannya terasa gatal ingin mengelus dan merabanya.
Varo mulai mengabsen setiap inci tubuh istrinya. Merasa bangga karna dia pria pertama yang menyentuhnya.
"Ini akan sedikit sakit." Ucap Varo dengan suara serak. Seakan semua gelora dalam tubuhnya ingin di salurkan saat ini juga.
__ADS_1
Kiren hanya mengangguk, tidak tau harus berkomentar apa. "Kamu bisa melampiaskan rasa sakitnya, kepunggung ku jika mau!!" Tawar Varo dengan sorot mata yang sudah berkobar oleh gairah.
Kiren hanya diam, seakan menunggu dengan perasaan berdesir dan was-was karna ulah suaminya. Pekikan kuat Kiren membuat Varo menghentikan sebentar usahanya. Kiren hampir menangis ketika sesuatu milik suaminya sedang berusaha untuk menembus miliknya.
Hingga tusukan kuku-kuku Kiren dipunggung Varo membuat, Varo ikut meringis seperti istrinya. Sepertinya mereka satu sama.
Dihapunya air mata Kiren yang mulai meleleh di pipi mulus Kiren oleh Varo. Tak lupa kecupan mesra juga dia sematkan dikening istrinya. Berharap bisa, mengalihkan sedikit rasa sakit Kiren.
"Aku akan bergerak." Hanya kata itu yang keluar dari bibir Varo. Setelah itu hanya suara-suara pasrah Kiren dan erangan Varo yang memenuhi kamar itu.
Malam ini benar-benar malam yang panjang. Hujan angin yang deras dan petir yang saling bersambar-sambar diluar, seakan menjadi saksi bisu penyatuan dua anak manusia itu.
Dan sebuah harapan yang besar mulai terlukis di hubungan mereka. Berharap kerja keras mereka malam ini, akan segera membuahkan hasil.
Varo ambruk di samping tubuh istrinya dengan nafas memburu. Sedang Kiren, hanya diam sambil menatap langit-langit kamarnya dengan wajah memerah karna kerja keras suaminya yang luar biasa.
"Sayang. Apa aku menyakiti mu??" Tanya Varo memperhatikan Kiren yang hanya diam memandang langit-langit kamarnya.
"Apa tadi mimpi?" Bisik Kiren pelan.
Varo menarik selimut untuk menutup tubuh mereka. "Apa?" Tanya Varo setelah selesai menarik selimut.
Melihat kesamping, pipi Kiren langsung merono saat melihat suaminya, berbaring miring kearahnya. Masih dengan wajah penuh keringat.
"Apa kita benar-benar melakukannya?"
__ADS_1
"Apa menurut mu ini hanya mimpi?" Balik tanya Varo menarik Kiren masuk kepelukanya.
"Pelukan mas terasa nyata."
Varo terkekeh pelan medengar jawaban Kiren. "Ini nyata sayang."
Mendengar panggilan sayang dari Varo, membaut kedua pipi Kiren merah karna blusing.
Uhhhh..... Sudah berapa kali malam ini, Varo memanggil Kiren dengan panggilan sayang. Apakah pergulatan panas mereka membuat isi otak Varo bergeser. Hingga selalu memanggil Kiren sayang.
Kenapa malam ini suami Kiren ini nampak manis, dan menggemaskan dalam satu waktu bersamaan.
"Kenapa?" Tanya Varo.
"Aku merasa masih seperti mimpi."
"Benarkah?"
Kiren mengangguk dengan wajah malu-malu. "Apa kita perlu mengulanginya lagi, agar kamu percaya jika ini nyata?" Tanya Varo ringan.
Kiren langsung memukul pelan pundak Varo, mendengar pertanyaan suaminya itu. Apa suaminya itu tidak merasa lelah. Kiren saja sudah merasa badanya remuk seperti tak bertulang.
Varo terkekeh pelan mendapat pukulan dari Kiren. "Baiklah ayo kita tidur. Ini sudah malam. Good night and sleep tight sweetheart." Ucap Varo yang diakhiri dengan kecupan mesra di kening Kiren.
Setelah itu mereka pun berlayar kealam mimpi.
__ADS_1
Bersambung.....