
Kiren duduk disofa ruang tengah, memangku mangkuk besar salad didepannya sambil pandanganya lurus kearah tv. Yang sedang mempertontonkan drama korea favoritnya.
Setelah siang tadi pulang dari caffe dengan perasaan gondok luar biasa, karna suaminya tidak ingat hari ulang tahunnya, oh ralat tidak tau taggal ulang tahunya. Kiren langsung memulai mode diamnya alias ngambek.
Mengabaikan Varo yang sedari tadi merengek meminta maaf. Enak saja dia cuman minta maaf. Gak ada usaha gitu. Mimpi.
"Yang." Panggil Varo yang duduk disamping Kiren.
"Udah dong marahnya." Sambung Varo memelas.
Kiren hanya meliriknya sekilas, tanpa mau repot-repot meladeni ocehan suaminya.
"Kamu mau kado apa? Biar mas beliin deh!!" Bujuk Varo tak kehabisan akal.
"Cih...Mas kira aku bakal tergiur gitu." Sinis Kiren kepada Varo.
Varo mengerang frustasi mendengar nada sinis istrinya. "Ini mas udah cuti loh yang. Buat nemenin kamu seharian. Masa udah mas temenin masih ngambek sih." Ucap Varo pelan.
"Emang aku minta mas buat cuti?"
"Enggak sih...Tapi kan---Aaahhhh yang udah dong marahnya..Masa mas dicuekin mulu sih ini..." Ucap Varo kesal.
Perasaan salah terus dia ini. Kenapa sih kakaknya, Hanum tadi segala membuat acara pesta segala. Mana tidak konfirmasi dulu lagi dengan Varo. Sepertinya, kakaknya itu sengaja ingin membuat Varo terlihat menyedihkan sekarang. Karna istrinya marah.
Mana kalau tidak mencium aroma tubuh Kiren, Varo terasa mual lagi.Ya tuhan, lengkap sudah penderitaannya kali ini. Beginikah rasanya ngidam saat wanita hamil. Kenapa begitu menyiksa.
Varo bersumpah, tidak akan membuat istrinya hamil lagi, jika sampai akan ada kejadian aneh yang bahkan lebih parah lagi dari ini.
"Yang...Boleh peluk gak?" Tanya Varo memelas. Wajahnya sampai memerah karna menahan mual yang sedari tadi melanda perutnya.
"Gak." Jawab Kiren ketus.
"Mas mual yang...Kayaknya, babynya pengen dipeluk papanya." Bujuk Varo lagi.
"Gak....Mas gak boleh peluk-peluk aku...GAK BOLEH."
"Kalau cium boleh?" Tanya Varo polos.
__ADS_1
Kiren langsung mendelik kesal kearah Varo. Suaminya ini, beneran pinter gak sih!! Kok pertanyaannya itu loh, bikin Kiren gemes pengen nonjok.
"Meluk aja gak boleh apa lagi cium." Ucap Kiren galak.
Varo langsung menelan ludah gugup saat mendengar nada galak istrinya. Apa wanita hamil bisa semenyeramkan ini. Haruskah Varo menyesal saat ini, karna telah membuat istrinya hamil begitu cepat.
"Terus mas harus gimana dong?" Tanya Varo menoel lengan Kiren.
"Jangan pegang-pegang." Ketus Kiren.
"Mau belanja gak?" Tanya Varo terus menoel lengan Kiren mengabaikan nada ketus istrinya.
"....." Kiren tetap diam mendengar pertanyaan menyebalkan Varo. Pandangannya tetap fokus kearah tv. Menampilkan oppa-oppa korea yang sedang bersikap romantis pada wanitanya.
Duh kan jadi pengen.
"Gimana kalau jalan-jalan...Kamu mau gak? Kitakan gak pernah jalan-jalan berdua yang."
"....."
"Atau, kamu mau hanymoon!!"
"....."
"....."
"Ahhhh....Atau kita kerumah mama Laras aja... Kan mama Laras tadi nelpon, nyuruh kita kesana..Makan malam disana..Ngerayain ulang tahun kamu yang..."
"..."
"Sayang.." Rengek Varo. "Jangan diam aja dong...Ini kamu maunya gimana?" Sambung Varo menarik-narik lengan Kiren. Jika seperti ini, Varo sudah seperti seorang anak yang meminta dibelikan mainan oleh ibunya.
"Diem ih..." Ucap Kiren kesal. Karna sedari tadi suaminya tidak mau diam, selalu mengganggunya.
"Sayang udah dong marahnya." Bujuk Varo semakin memelas.
"Kamu pengen aku udah marahnya?" Tanya Kiren akhirnya. Dengan polosnya, Varo mengangguk patuh.
__ADS_1
"Dulu waktu ulang tahun Citra. Mas pernah kasih kejutan gak?" Tanya Kiren penasaran.
"Enggak." Jawab Varo mantap. Kiren langsung melotot takjub kearah Varo.
"Mas serius?" Tanya Kiren tak percaya.
"Serius. Mas gak pernah kasih dia kejutan. Paling juga kalau dia ulang tahun, dia riquest mau kado apa!! Terus dia sendiri yang nyiapin pestanya sendiri. Mas cuman perlu ngasih dananya." Jawab Varo tanpa pikir panjang.
Mendengar jawaban suaminya, Kiren langsung menjatuhkan tubuhnya bersandar kesandaran sofa. Lengkap dengan wajah kesal luar biasa. Suaminya ini, benar-benar tidak peka plus tidak ada romantis-romantisnya ternyata.
Mimpi apa dulu Kiren sampai mau menikah dengan dia. Sumpah demi apa pun, sekarang rasa-rasanya Kiren ingin mengembalikan Varo keasalnya, dan menukarkannya dengan suami yang sedikit peka. Minimal romantis gitu.
"Apa kamu pengen dapat kejutan dari mas?" Tanya Varo polos. "Kamu pengen riquest kejutan yang seperti apa?" Sambung Varo tanpa rasa bersalah sedikit pun.
Mndengar semua deretan kata dari mulut Varo, semakin membuat kepala Kiren pusing seketika. Apa polos dan bodoh itu beda tipis. Kenapa suaminya tidak peka sama sekali sih. Apa semua cowok cuek dan dingin itu selalu berfikir seperti suami Kiren ini. Selalu menganggap semua masalah itu simple.
"Yang ayo dong ngomong...Kamu pengen acara yang gimana? Mau acara direstoran atau dirumah?" Tanya Varo dengan sabar.
Rasa-rasnya Kiren ingin membenturkan kepala suaminya saat ini juga. "Mas minggu ini gak ada perjalanan bisnis?" Tanya Kiren mengalihkan pembicaraan.
"Ada. Dua hari lagi mau kesolo." Jawab Varo santai. "Kenapa?" Sambung Varo.
"Ngapain mas kesana?"
"Ngurus masalah resort baru."
"Sama siapa?"
"Jessi."
"Mas nyakin, kalau mas bosnya mbak Jesi?"
"Apa?" Tanya Varo bingung.
"Atau otak mas, tadi gak kebentur sesuatu kan?"
"Maksudnya gimana sih?" Tanya Varo semakin bingung.
__ADS_1
"Pikir aja sendiri." Ketus Kiren bangun dari duduknya dan melangkah pergi, meninggalkan suaminya yang luar biasa gak peka.
Bersambung..