
"Selamat ya Ren. Buat kehamilan loe." Ucap Hanum memeluk Kiren. Hari ini Kiren sudah berada dirumahnya. Karna tadi pagi, Kiren sudah diijinkan pulang dari rumah sakit oleh dokter.
"Makasih ya mbak." Jawab Kiren pelan.
Hanum melepas pelukannya pelan, tersenyum hangat pada Kiren. Tapi Kiren tau, kalau dari sorot mata Hanum ada sorot iri disana. Bukan iri seperti hal negatif, tapi lebih ke iri karna kepada wanita pada umumnya. Seperti mendengar wanita lain hamil sedang dia tidak akan bisa merasakannya. Seperti itulah yang dirasakan Hanum saat ini.
"Mbak. Loe gak papa?" Tanya Kiren hati-hati.
"Ya. Santai aja." Ucap Hanum berusaha santai. Padahal dari suaranya sudah terdengar bergetar.
Adam yang melihat istrinya nampak murung dari kemarin hanya memandang Hanum lirih. Dia tidak bisa berbuat apa-apa sekarang. Bukan Adam tidak tau jika selama ini kekurangannya menyulitkan hidup Hanum, istrinya.
Tentu saja Adam tau itu, tapi mau bagaimana lagi. Adam tidak bisa berbuat apa-apa karna semua itu. Dia bukan tuhan yang bisa melakukan apapun yang menurutnya benar. Dia hanya manusia biasa, sama seperti yang lainnya. Yang hanya bisa bersyukur dan pasrah dengan garis yang dituliskan tuhan untuknya.
Dari awal dokter mendiagnosa dirinya mandul. Adam sudah menyuruh Hanum mencari pria lain yang sempurna. Yang bisa memberikan keturunan untuk Hanum, tapi Hanum menolaknya dengan tegas. Dia akan menemani Adam dalam situasi apapun, karna mereka sudah menikah. Itulah, ucapan Hanum saat itu. Tapi, semakik kesini-sini, Adam mulai ragu dengan semua itu.
Walau Hanum terus meyakinkan Adam, mau punya anak atau tidak. Hanum akan tetap berusaha mencintai Adam seperti awal mereka menikah dulu. Karna hidup mereka juga akan baik-baik saja tanpa seorang keturunan. Bukan, berarti Hanum tidak menginginkan keturunan.
Tapi Adam tau, Hanum hanya berusaha untuk menguatkan dirinya. Dan berusaha untuk menempati janjinya dulu saat mereka pertama kali menikah. Tapi, Adam benar-benar tidak masalah, jika Hanum mengingkarinya dan mencari pria lain. Walau Adam tau, dia juga takut kehilangan Hanum. Tapi dia tidak ingin, menjadi pria egois. Yang melihat wanita yang dia cintai terluka jika terlalu lama berada disampingnya.
Bahkan Adam juga tau, jika diam-diam terkadang Hanum sering menangis dikamar mandi setiap ada keluarga atau temannya yang menyinggung perihal keturunan.
Walau Hanum terlihat cerewet, bawel, ceria dan tidak pernah terlihat punya masalah. Tapi Adam tau, jika istrinya itu pintar dalam hal menyimpan luka hatinya. Hanum ingin terlihat baik-baik saja didepannya, padahal jika Hanum mau. Hanum bisa berbagi luka, dan isi hatinya pada Adam.
Bahkan kadang karna terlalu sulit menebak Hanum, Adam sering merasa kecewa pada dirinya sendiri karna tidak bisa memberikan kebahagiaan untuk wanita yang paling dia cintai didunia ini. Walau tidak keturunan, setidaknya rasa nyaman, pelukan hangat dan teman berbagi, mungkin itu sudah lebih dari cukup untuknya.
Sekarang, Adam hanya bisa pasrah dengan setiap keputusan yang akan diambil istrinya. Karna yang bisa dia lakukan saat ini adalah terus berusaha untuk memberikan cinta yang besar untuk istrinya.
Tapi jika suatu hari nanti, Hanum ingin dia pergi. Maka, Adam akan pergi sesuai dengan janjinya pada Hanum. Asal Hanum bisa bahagia karna semua itu.
"Mas." Panggil Varo membuyarkan lamunan Adam.
Adam menoleh kearah Varo. "Kenapa?" Tanya Adam.
"Mending mas bawa kak Hanum pulang dulu deh. Dia keliatan gak baik-baik aja." Ucap Varo menunjuk Hanum dengan dagunya.
"Gue harus gimana!! Gue bingung sekarang." Lirih Adam memandang Hanum dengan tatapan yang terluka. Hatinya ikut sakit melihat Hanum yang terlihat pura-pura tegar padahal sebaliknya.
Varo menepuk pundak Adam pelan. "Anak kami. Bakal jadi anak kalian juga. Kalian bisa anggap anak kami, kayak anak kalian juga. Jadi jangan terlalu difikirin. Sekarang mas harus bisa jadi tempat sandaran kak Hanum, kalau mas kayak gini. Kak Hanum pasti malah semakin sedih." Ucap Varo menghibur.
Adam memandang Varo dalam." Thanks ya." Ucap Adam tulus. "Gue ajak Hanum pulang dulu. Gue pamit." Sambung Adam hangat. Varo hanya mengangguk sambil mengikuti langkah Adam yang berjalan didepannya.
"Yang." Panggil Adam ke Hanum. "Pulang yuk?" Ajak Adam menggenggam tangan Hanum.
Tanpa banyak tanya Hanum langsung menurut saat diajak Adam pulang. "Kami pamit pulang dulu ya!!." Ucap Adam kepada Varo dan Kiren. Yang dibalas anggukan kepala oleh Varo dan Kiren.
__ADS_1
*****
"Yang." Panggil Adam pada Hanum setelah mereka masuk kedalam mobil.
Hanum menoleh kearah Adam. Dengan sorot mata bertanya. Kenapa?
"Maafin aku ya!!" Ucap Adam lemah sambil memandang Hanum lurus.
"Mas buat salah?" Tanya Hanum. "Kenapa minta maaf??" Sambung Hanum berusaha terdengar santai padahal matanya memandang kearah luar cendela mobil, berusaha menghindari tatapan mata suaminya.Takut jika suaminya akan melihat matanya yang terlihat redup. Tidak bercahaya seperti biasa.
"Mas minta maaf. Karna gak bisa jadi suami yang sempurna buat kamu." Bisik Adam mengusap kepala Hanum pelan.
"Jangan." Protes Hanum tegas. "Jangan ngomong apapun.... Aku gak mau dengar apapun sekarang.....Kita keluar dari rumah Varo buat pulang, mas ngajak aku pulang tadi. Jadi, aku gak pengen ngebahas apapun sekarang..Aku pengen pulang..Sesuai ucapan mas tadi...Yang ngajak aku pulang." Ucap Hanum datar.
Adam diam mendengar nada datar istrinya. Menarik nafas dalam. "Ok maaf. Kita pulang sekarang."
Setelah keluar dari rumah Kiren, Hanum dan Adam tetap bungkam sampai rumah mereka. Tidak ada obrolan yang keluar dari mulut Adam maupun Hanum. Mereka sibuk dengan pikiran-pikiran masing-masing.
Keluar dari mobil pun Hanum langsung melenggang pergi, tanpa repot-repot menunggu Adam yang biasanya membukakan pintu mobil untuknya. Membuat Adam semakin menatap nanar punggung ringkih istrinya.
Adam keluar dari mobil, menyusul istrinya yang berjalan lebih dulu masuk kedalam kamar. Setelah masuk, Adam tidak mendapati istrinya diaman pun. Hanya suara kran air di kamar mandi yang terdengar. Menandakan mungkin istrinya sekarang sedang berada disana.
Hampir lima belas menit Adam menunggu Hanum yang berada dikamar mandi. Tapi, belum ada tanda-tanda Hanum akan keluar dari kamar mandi. Membuat Adam menjadi khawatir dibuatnya.
Yang ada, hanya suara air yang terus mngalirlah yang terdengar didalam kamar mandi. Membuat rasa khawatir Adam semakin kian menjadi-jadi.
"SAYANG." Teriak Adam kuat. Bahkan tanganya memutar-mutar gagang pintu kamar mandi yang terkunci. Berusaha membukanya.
DOR...DOR...DOR....
"Sayang...Buka pintunya.." Teriak Adam sambil menggedor-gedor pintu kamar mandi tak sabaran.
"Sayang buka...Atau aku dobrak pintu ini sekarang juga.." Teriak Adam mengancam. Masih tidak ada jawaban didalam, membuat Adam mundur beberapa langkah dan.
CEKLEK.
Hanum keluar dari kamar mandi, menatap Adam tajam. "Apa sih." Ketus Hanum jengkel.
Adam menghembuskan nafas lega. Melangkah maju. Dipelukanya tubuh wanita yang begitu dia cintai dengan erat. "Aku kira kamu kenapa-kenapa tadi. Ngapain sih dikamar mandi lama banget."
"Orang lagi mules." Ucap Hanum beralasan.
Tapi Adam tau, jika istrinya berbohong. Karna matanya terlihat berkaca-kaca seperti orang habis menangis. "Mas minta maaf sayang...Tolong jangan seperti ini.."
"Mas-"
__ADS_1
"Sayang dengar...Mas gak pernah memaksa kamu untuk tetap tinggal..Kamu berhak mendapatkan suami yang sempuna.." Ucap Adam menangkup pipi Hanum. Hanum menggeleng dengan mata berkaca-kaca.
"GAK." Ucap Hanum tegas. "Seharusnya...Karna mas gak maksa aku buat buat tinggal..Mas juga gak boleh maksa aku buat pergi."
"Sayang..."
"Aku cinta mas...Mas cinta aku..Itu udah cukup." Teriak Hanum.
"Sayang..."
"Aku gak mau denger apapun..Aku gak akan pergi kemana-mana....Gak akan....Aku bakal disini sama kamu....Aku bakal nemenin kamu sampai kapan pun...Jadi aku mohon jangan suruh aku pergi..." Ucap Hanum memohon dengan air mata mulai turun.
"Kamu yang kayak gini, malah malah buat aku sakit sayang..Aku merasa bener-bener jadi suami yang gak berguna buat kamu..Kamu selalu terlihat baik-baik aja didepan aku...Tapi kenapa....Kamu terlihat hancur dibelakang aku..." Hanum menggeleng mendengar ucapan Adam. "Seharusnya kalau kamu ingin tetap tinggal...Kamu harus berbagi semua sama aku...Rasa sakit kamu...Marah kamu...Tangis kamu...Semua yang kamu rasain, kamu harus berbagi sama aku...." Ucap Adam tergugu didepan Hanum. Ikut menangis meluapkan isi hatinya.
"Aku baik-baik aja." Bisik Hanum lirih.
"Apa yang kamu maksud menangis diam-diam dikamar mandi itu baik-baik aja!!" Tanya Adam lemah. "Aku suami kamu Hanum....Aku yang seharusnya menjadi orang pertama yang kasih kamu pelukan dan semangat ketika kamu lagi gak baik-baik aja...Aku yang seharusnya menghapus air mata kamu...Untuk pertama kalinya waktu kamu lagi sedih..Tapi kenapa??? Kenapa kamu harus pura-pura terlihat baik-baik aja padalah hati kamu lagi terluka?? Kenapa kamu pura-pura terlihat tegar!! Padahal kamu lagi hancur? Kenapa Hanum? Kenapa?"
"Mas.."
"Kalau kamu seperti ini terus..Lebih baik kita bercerai...Lebih baik kita berpisah---."
"ENGGAK." Potong Hanum histeris. "Aku minta maaf...Mas...Aku cuman gak mau buat kamu terbebani karna aku...Aku cuman takut...Nanti kamu merasa gak nyaman sama aduan aku...Maafin aku mas...Aku janji mulai sekarang aku akan nangis dipelukan kamu...Aku bakal ngadu kekamu kalau aku lagi gak baik-baik aja atau hancur...Aku bakal kasih tau semua isi hati aku kekamu....Aku janji. Aku bakal berubah...Tapi aku mohon..Jangan tinggalin aku...Aku cinta sama kamu...Aku gak mau hidup tanpa kamu...." Sambung Hanum memeluk erat tubuh suaminya.
"Aku gak mau kamu semakin terluka jika disamping aku."
Hanum menggeleng didalam pelukan Adam. "Aku akan semakin terluka kalau sampai berpisah sama kamu."
"Sayang.." Ucap Adam berusaha menjauhkan tubuh Hanum dari tubuhnya. Tapi Hanum begitu erat memeluk tubuh Adam, membuat Adam pasrah kembali memeluk Hanum.
"Aku baik-baik aja....Aku akan baik-baik aja sama mas...Aku nangis cuman kadang sedih aja....Kenapa mereka jahat sama aku....Aku gak pernah ikut campur kehidupan mereka....Tapi kenapa mereka selalu nanya sesuatu yang bikin aku sakit hati..." Cerita Hanum disela-sela tangisnya. "Memangnya kenapa kalau kita gak bisa punya anak mas...Kehidupan kita gak akan hancur karna itu kan...Diluar sana juga banyak yang kayak kita...Terus kenapa mereka seakan-akan tuhan yang selalu menghakimi kita...Kenapa mereka gak bisa sedikit aja ngertiin perasaan aku...Sedikit aja menjaga ucapan mereka buat gak nyakiti aku...Kenapa??" Sambung Hanum.
Adam hanya diam mendengatkan semua isi hati istrinya. Hatinya seperti diremas kuat saat mendengar semua rentetan kata yang keluar dari bibir istrinya.
"Kita juga gak pernah minta sama tuhan kan mas buat seperti ini...Kamu juga gak pernah berdo'a sama tuhan buat jadi suami yang gak sempurna...Lalu kenapa mereka selalu menghakimi kita...."
"Sayang." Panggil Adam, hatinya tidak kuat mendengar semua rasa yang dipendam istrinya seorang diri.
"Aku gak apa-apa dengan semua itu mas....Selama kamu selalu ada disamping aku...Itu udah lebih dari cukup...Selama kamu masih terus bersikap lembut dan cinta mati sama aku..Itu udah bener-bener cukup buat aku...Toh, suatu saat nanti kita bisa mengadopsi anak...Masih banyak diluar sana anak yang butuh orang tua seperti kita..."
"Ya...Mas gak bakal berubah sayang...Mas akan selalu cinta sama kamu....Terimakasih...Terimakasih sayang....Mas bersyukur menikah dengan wanita hebat seperti kamu...Mas bener-bener bersyukur..."
Ada yang ikutan baper gak gaesssss....ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜
BERSAMBUNG....
__ADS_1