SUAMI ANTI ROMANTIS

SUAMI ANTI ROMANTIS
Menyebalkan.


__ADS_3

Kiren dengan malas melangkah masuk kedalam lobi gedung apatementnya. Hari ini, Kiren pulang lebih cepat dari biasanya. Karna pekerjaan yang tidak banyak. Ditambah moodnya yang sedang buruk membuat Kiren malas berlama-lama dicafee. Toh sekarang dicaffe sudah ada meneger lain yang menggantikan tugasnya. Karna kejadian Varo tiba-tiba menyuruh Hanum mengeluarkannya dari caffe. Berefek sekarang Kiren sudah seperti bos kedua dicaffe setelah Hanum.


Membuat beberapa pekerja dicaffe menatap curiga pada Kiren. Termaksud Yuli. Bahkan Yuli sekarang berubah kepo dengan kehidupan pribadi Kiren. Kenapa tiba-tiba bos mereka Hanum selalu memberikan banyak waktu kepada Kiren. Membuat Kiren selalu merasa tak enak, jika melihat para pekerja dicaffe yang berusaha keras untuk bekerja. Sedang Kiren hanya melihat-lihat atau sekerdar mengecek pekerjaan mereka.


Bahkan ada beberapa pelayan yang sering menggosipkan Kiren tentang masalah ini. Berfikir jika Kiren selalu memanfaatkan Hanum karna kedekatan mereka. Dan itu semua bukan Kiren tidak tau hanya saja Kiren berusaha masa bodo dan pura-pura tidak peduli.


"Hai nona cantik. Kenapa melamun." Tepukan dipundaknya mengagetkan Kiren dari lamunan singkatnya.


Menoleh kebelakang, dilihatnya pria jangkung yang akhir-akhir ini sering dia temui dicaffe. Berdiri dibelakangnya dengan senyum lebar dibibirnya.


Kiren hanya menggeruk tengkuknya yang tak gatal. Merasa aneh dengan interaksi mereka akhir-akhir ini.


"Hai." Sapa Kiren basa-basi.


Bagas semakin tersenyum lebar mendengar sapaan Kiren. "Baru pulang?" Tanya Bagas ringan.


Kiren mengangguk pelan sebagai jawaban. "Kamu juga baru pulang?" Balik tanya Kiren sambil masuk kedalam lift yang sudah diisi beberapa orang didalamnya.


"Aku hari ini libur." Jelas Bagas menyusul Kiren masuk kedalam lift. "Aku baru dari supermarket depan." Sambung Bagas menjelaskan, sambil mengangkat kantong pelastik disebelah tanganya yang hanya dibalas Kiren dengan tersenyum seadanya. Merasa aneh, perasaan Kiren tidak bertanya.


"Aneh ya kita tetangga. Satu kerjaan tapi jarang banget bisa ketemu diluar jam kerja kayak gini." Ucap Bagas membuka obrolan.


Kiren hanya terkekeh pelan menanggapinya. "Oh iya kamu berangkat kerja jam berapa? Kok perasaan aku gak pernah papasan sama kamu!!" Tanya Bagas menoleh kearah Kiren.


"Kayaknya kamu pengen banget ya. Berangkat bareng sama aku!!." Goda Kiren menjawab pertanyaan Bagas.


"Siapa sih yang mau nolak berangkat bareng sama cewek secantik kamu." Ucap Bagas mengerling jail.


Kiren hanya menggeleng lucu menanggapi godaan Bagas. Bukan Kiren sok kePDan ya. Entah ini perasaan Kiren saja atau memang benar, sedari awal mereka bertemu. Bagas selalu mencoba mengajaknya mengobrol lengkap dengan senyuman hangat dibibirnya. Membuat Kiren merasa aneh dan sedikit risih.


"Ngomong-ngomong kamu suka nonton film?" Tanya Bagas setelah keluar dari lift diikuti Kiren dibelakangnya.


"Gak gitu suka sih. Paling juga aku sukanya nonton drakor."


"Cowok-cowok cantik kok diliatin." Ucap Bagas sedikit berlebihan. Kiren hanya mengangkat bahu cuek menanggapinya. "Kenapa sih rata-rata semua cewek suka sama cowok yang pakai bedak. Udah kayak banci aja." Sambung Bagas mengejek.

__ADS_1


"Enak aja. Mereka cowok-cowok tulen ya. Sembarangan banget sih kamu ngomongnya." Protes Kiren tak terima.


"Tau dari mana kamu kalau mereka cowok tulen." Ucap Bagas mengacak pelan rambut Kiren.


"EHMMMMMM." Deheman keras dibelakang, membuat dua sejoli yang sedang berbincang menoleh serempak. Kiren melotot lucu mengetahui siapa yang tadi bedehem dibelakangnya. Varo suaminya.


Varo sedang berdiri tidak jauh darinya memandang kearah Kiren dengan tatapan datar.


Menelan ludah gugup, Kiren terus memperhatikan Varo yang terus melangkah mendekat kearahnya dengan tatapan datar dan sorot mata tidak terbaca.


Apa dia marah.


Varo terus melangkah mendekat, melewati begitu saja dua sejoli yang tadi asik berbincang. Dan kini malah fokus menatap kearahnya.


Kiren menahan nafas ketika melihat Varo hanya melewatinya begitu saja. Tanpa menyapa atau bahkan berbasa-basi.


"Kamu mengenalnya?" Tanya Bagas membuyarkan lamunan Kiren.


"Hah." Ucap Kiren bingung.


"Kamu kenal?" Balik tanya Kiren.


Bagas mengangkat bahu cuek menjawab pertanyaan Kiren. "Mau mampir?" Tawar Bagas menunjuk pintu didepanya dengan dagunya dan mengangkat kedua alisnya.


Kiren memandang lama pintu yang didepanya. "Lain kali aja deh." Tolak Kiren sopan.


"Ok. Aku tunggu kalau gitu." Ucap Bagas semangat. Kiren hanya tersenyum menanggapinya.


"Ayo, aku antar sampai depan pintu apartement kamu."


"Ehhh...Gak usah.. Udah kamu masuk aja." Tolak Kiren sedikit panik.


"Kenapa?" Heran Bagas.


"Aku sedikit risih kalau kamu bersikap berlebihan kayak gini." Aku jujur Kiren.

__ADS_1


"Kamu lebih suka cowok yang pelan-pelan tapi pasti?"


"Maksudnya?"


"Ah lupakan. Ok aku masuk. Bye Kiren." Ucap Bagas masuk kedalam apartementnya sedikit tergesa-gesa. Membuat Kiren mengerutkan alis bingung. Aneh banget sih tu cowok. Batin Kiren.


Dengan santai Kiren melangkah menjauh dari pintu Bagas menuju pintu apartementnya dengan Varo. Menyusul Varo yang lebih dulu masuk kedalam.


"Sudah selesai pacaranya." Sidir Varo setelah Kiren masuk, Varo berdiri didepan pintu dengan berkacak pinggang dan memandang Kiren dengan tatapan kesal.


Membuat Kiren menatapnya aneh. "Siapa juga yang pacaran." Ketus Kiren.


"Siapa sih yang mau nolak berangkat bareng sama cewek secantik kamu." Ucap Varo meniru ucapan Bagas didalam lift dengan wajah dibuat-buat seramah mungkin.


"Cih apa pria itu tidak tau kalau kamu sudah menikah." Cibir Varo.


"Mas cemburu!!" Sindir Kiren sinis.


"Iya aku cemburu." Ketus Varo santai dan berlalu masuk. Meninggalkan Kiren yang menatap punggung Varo cengo. Udah gitu doang cemburunya. Ckkkkk. Suami gue emang ajaib.


"Haruskah kita pindah rumah sekarang juga!!" Ucap Varo kembali berbalik dan melangkah mendekat kearah Kiren.


"HAH." Tanya Kiren cengo.


Mengambil ponselnya didalam saku celananya. Varo mengotak-atik ponselnya dengan tak sabaran. "Jesi. Kirimkan rokomendasi rumah terbaik dijakarta. SEKARANG." Ucap Varo setelah mendengar nada sambung diponselnya. Bahkan ucapan Varo tak terbantahkan.


Tanpa menunggu jawaban dari seberang telpon, Varo dengan se'enak jidat langsung mematikan telponya sepihak, dan memasukkan kembali ponselnya kedalam saku celananya.


Setelah selesai dengan telponnya, Varo melirik Kiren. Menarik nafas kuat, Varo menyambar sebelah tangan Kiren dan menariknya keluar.


"Ayo." Ajak Varo keluar apartement.


"Mau kemana!! Aku baru pulang." Protes Kiren tak terima.


Bersambung.....

__ADS_1


Maafkan author kakak, tadi sempat ada kesalahan teknis.....Sekarang sudah diperbaiki ya...Yuk kalau berkenan mampir keceritaku yang lain ISTRI DINGIN PRESDIR... Gak kalah seru ya kak sama yang iniπŸ˜„πŸ˜„πŸ˜„πŸ˜„πŸ˜„πŸ˜šπŸ˜šπŸ˜š


__ADS_2