
Kiren berjalan santai menuju kearah teras rumah. Tadi, setelah mendapat telpon dari pos satpam sekuriti, jika ada titipan paket untuknya. Membuat Kiren sedikit bingung tapi juga penasaran. Siapa gerangan yang mengiriminya paket. Perasaaan Kiren tidak merasa punya kiriman paket.
"Makasih ya pak." Ucap Kiren menerima uluran paket dari salah satu sekiritinya.
"Iya. Sama-sama buk." Jawab sekuriti sopan.
"Beneran gak ada nama pengirimnya pak?" Tanya Kiren sekali lagi.
"Gak ada buk. Tadi mas kurirnya cuman bilang ada paket. Atas nama buk Kiren, tanpa ada nama pengirimnya. Saya tanya juga, mas kurirnya jawab gak tau buk."
Kiren mengangguk mengerti. Dan kembali masuk kedalam rumah setelah sekuriti ijin kembali kepos sekuritinya.
Dengan perasaan yang penasaran luar biasa. Kiren membuka paket kardus berukuran tidak terlalu besar didepannya. Dengan tidak sabaran, Kiren terus membuka bungkus kardus yang dibungkus kertas kado itu. Setelah kertas kado terbuka, Kiren mengambil gunting tidak jauh dari tempat duduknya. Langsung membuka lakban yang menutup kardus.
Kiren langsung menjerit bahkan menjauh dari kotak kardus itu, setelah mengetahui isinya. Seekor kelinci yang sudah mati mengenaskan, dengan pisau kecil menusuk perut serta seluruh tubuhnya.
"Buk, ada apa buk?" Tanya salah satu art yang mendengar jeritan Kiren.
Dengan tangan gemetar, Kiren menunjuk kardus didepannya. Art yang melihat kardus yang sedikit terbukapun tak kalah syok. Dengan cepat art berlari kedapur dan tidak kembali lagi membawa kain lap, untuk menutup kardus dan memasukkannya kedalam pelastik besar. Dan langsung membawanya kebelakang.
Kiren merasa kakinya langsung terasa lemas begitu kardus sudah tidak ada didepannya, karna dibawa oleh artnya pergi. Tapi, tidak berapa lama, ponsel disaku dasternya bergetar tanda ada pesan masuk. Membuat jantungnya kembali terasa mau copot karna membaca isi chat yang mengerikan.
__ADS_1
Bagaimana? Kamu sudah menerima kejutan dariku...Aku senang jika kau juga senang...apa lagi jika kau...Akan bernasub sama seperti kelinci kecil itu...Yaitu MATI....Hahahaha.
Kiren langsung mendeal nomor yang tidak dia kenal itu, setelah menerima pesan mengerikan. Tanganya masih terus gemetar dengan perasaan campur aduk. Antara syok, takut, dan juga penasaran. Tapi, nomor yang tidak dikenal itu ternyata sudah tidak aktif. Dan itu artinya, dia telah meblok nomor Kiren. Kiren kembali memblok balik nomor yang tidak dia kenal.
"Buk."
Kiren melonjak kaget mendengar panggilan art yang tadi membuang paket, datang tergopoh-gopoh kearahnya. Dengan membawa telpon ditangannya.
"Kenapa bik?"
"Ibuk dapat telpon."
"Dari siapa?" Tanya Kiren cepat.
Kiren langsung menghembuskan nafas lega begitu mendengar ternyata telpon itu dari suaminya, Varo.
"Terimakasih ya bik." Ucap Kiren setelah menerima uluran telpon dari art.
"Hallo mas." Sapa Kiren kepada sebrang telpon.
"Hai yang. Kamu lagi apa? Kenapa mas hubungi ponsel kamu gak aktif?" Berondong Varo banyak pertanyaan dengan suara terdengar cemas.
__ADS_1
"Aku tadi baru selesai mandi mas. Jadi belum sempet periksa ponsel." Jawab Kiren.
"Kamu yakin gak papa sayang? Suara kamu kok aneh? Kamu gak lagi sakit kan?"
"Enggak mas. Mungkin karna aku hari ini bangun kesiangan, kelamaan tidur jadi suaranya serak."
"Syukur deh kalau gak papa." Gumam Varo sedikit lega.
"Mas gak makan siang?"
"Mas mau makan siang dirumah. Sebentar lagi mas pulang."
"Terus kalau udah mau pulang kenapa nelpon aku?"
"Gak tau. Perasaan mas gak enak aja. Pengen denger suara kamu." Kiren terkekeh mendengar suara suaminya diujung telpon. Membuat perasaannya sedikit membaik.
"Ya udah. Mas tutup telponnya ya. Mas udah mau jalan pulang ini."
"Ok."
"Assalamu'allaikum istri." Goda Varo.
__ADS_1
"Wa'allaikum salam paksu. Mmmmuuuuuachhhh." Ucap Kiren sedikit heboh. Membuat Varo tertawa renyah.
Bersambung...