
Varo dan Kiren berjalan keluar dari ruang dokter kandungan. Dengan senyum yang tidak luntur dari bibir Varo, Varo terus berjalan disamping istrinya dengan menggenggam erat tanga istrinya.
Tidak masalah dia yang harus merasakan sickness kehamilan. Yang terpenting, istri dan calon bayi mereka baik-baik saja.
"Tunggu sebentar ya. Mas nebus vitamin dulu. Kamu duduk disini dulu ya sayang... jangan kemana-mana. Tunggu mas disini." Ucap Varo menepuk pelan kepala Kiren yang duduk dikursi tunggu. Sedang dirinya mulai melangkah menjauh kearah farmasi untuk menebus resep obat istrinya.
Karna antrian tidak terlalu panjang Varo selesai menebus obat tidak terlalu lama. "Ayo." Ajak Varo mengulurkan tanganya kearah istrinya, yang disambut dengan senang hati oleh Kiren.
"Setelah ini mau makan apa?" Tanya Varo pelan.
"Gimana kalau-" Belum sempat Kiren menyelesaikan ucapannya, sudah lebih dulu dipotong oleh panggilan asing dari belakangnya.
"Nak Varo." Potong seseorang menepuk pelan pundak Varo. Kiren yang belum sempat menyelesaikan ucapannya menoleh cepat kearah sumber suara. Begitu pun Varo yang merasakan tepukan pelan dipundaknya.
"Ah. Benar ternyata. Hampir saja papa kira....Papa salah orang." Sambungnya ringan. Varo hanya diam memandang datar orang didepannya, dan tidak berkomentar sedikit pun.
"Siapa mas?" Tanya Kiren memandang heran kearah pria paruh baya yang tersenyum hangat memandang Varo. Sedang Varo terlihat enggan.
Varo yang mendengar pertanyaan istrinya, langsung menoleh kearah Kiren. " Ini om Bima. Papanya Citra." Jawab Varo memandangnya Kiren lurus.
__ADS_1
Mendengar Varo memanggilnya om membuat senyum Bima luntur seketika. Karna merasa kecewa pria muda didepannya tak lagi memanggilnya papa seperti dulu lagi. Dan semua itu karna perbuatan putrinya.
"Oh, hallo apa kabar om. Saya Kiren istri Varo." Ucap Kiren mengulurkan tangan kearah Bima. Walau Kiren benci Citra. Tapi, tidak baik jika bersikap tidak sopan pada orang yang lebih tua darinya. Orang tua Kiren tidak pernah mengajari Kiren bersikap seperti itu.
Bima memandang lirih uluran tangan wanita muda didepannya. Bukankah seharusnya istri Varo tidak bersikap hangat seperti ini. Dan semua itu malah membuat Bima merasa tak enak dan malu. Akan lebih baik jika wanita didepannya ini terlihat membencinya. Sama seperti keluarga Varo lakukan padanya. Itu akan lebih melegakan bukan malah jadi seperti ini.
Merasa tidak akan mendapat balasan uluran tangan dari pria paruh baya didepannya. Membuat Kiren malu, dan hampir menurunkan tanganya kalau saja pria paruh baya didepannya tidak cepat-cepat menarik kembali tangan Kiren didepannya.
"Oh iya. Saya Bima. Papa Citra." Ucap Bima membenarkan jawaban Varo.
"Apa keluarga kalian ada yang sakit? Sedang apa kalian dirumah sakit ini?" Sambung Bima melepas uluran tanganya.
Mendengar nada cuek dari mantan calon menantunya, membuat Bima tersenyum patah dibuatnya. Sepertinya, perbuatan putrinya sangat melukai pria didepannya ini. Hingga membuat dia tidak lagi terlihat hangat seperti dulu.
Padahal dulu Varo sangat sopan dan hangat padanya. Bahkan sudah seperti putranya sendiri. Tapi, karna ke'egoisan putrinya, membuat Varo sekarang terlihat membencinya. Bahkan hanya sekedar basa-basi sekali pun terlihat enggan.
"Baiklah. Kami permisi om. Masih ada hal penting lain yang harus kami lakukan!!" Sambung Varo menarik pelan tangan Kiren untuk menjauh dari Bima.
"Sebentar nak Varo." Tahan Bima memotong langkah Varo. "Boleh pa- maksud saya om, berbicara sebentar dengan kamu?" Sambung Bima cepat.
__ADS_1
"Perihal apa?" Tanya Varo berbalik. "Apa yang anda ingin bicarakan dengan saya? Soal bisnis? Anda cukup tau jika kita tidak pernah tertarik dengan kerja sama soal bisnis!! Jadi, perihal apa yang ingin anda bicarakan dengan saya?" Sambung Varo datar.
"Kalau soal pribadi!! Saya rasa....Anda cukup tau, jika saat ini cukup terlambat untuk membicarakan masalah pribadi!! Mengingat!! Sudah cukup lama saya berpisah dengan putri anda" Ucap Varo dingin.
"Nak Varo. Om tau, jika saat ini mungkin om terlambat untuk meminta maaf atas apa yang telah putri om lakukan pada keluarga kamu dulu. Tapi, om mohon!! Tolong berikan sedikit saja om kesempatan untuk berbicara sebentar kepada kamu. Nanti, setelah apa yang om katakan pada kamu. Masih belum bisa meredakan rasa marah dari dalam diri kamu. Om janji. Tidak akan mengganggu kalian lagi." Ucap Bima dengan nada memohon. "Jadi, om mohon. Untuk sekali ini saja, tolong beri kesempatan om.....Untuk berbicara empat mata dengan kamu." Sambung Bima memelas.
"Maaf-" Ucap Varo.
"Mas." Panggil Kiren memotong ucapan Varo. Sedari tdi, Kiren sudah diam saja mendengarkan ucapan dua pria didepannya. Mendengar setiap kata yang keluar dari bibir mereka berdua, membuat rasa penasaran Kiren muncul. Walau tidak begitu menyukai Citra, tapi melihat ayahnya yang sudah rentan memohon pada suaminya membuat perasaan tak tega dalam diri Kiren timbul. Bagaimana pun, Kiren masih memiliki seorang ayah. Kiren tidak bisa membayang bagaimana jika ayahnya yang saat ini berada diposisi ayah Citra. Bisa jadi, Varo akan melakukan hal sama pada ayahnya. Dan, Kiren tidak akan tega jika sampai hal itu terjadi.
"Om Bima cuman mau ngobrol sama mas. Gak baik mutusin silahturahmi gitu. Lagiankan, cuman ngobrol....Mas gak bakal ngeluarin tenaga banyak." Ucap Kiren santai membuat Varo memandangnya penuh protes.
"Aku gak papa kalau harus nunggu mas dimobil. Gak mungkin lama jugakan ngobrolnya?" Sambung Kiren mengabaikan tatapan protes Varo.
Menarik nafas dalam. "Diantara saya dan istri saya, tidak pernah ada rahasia. Jadi, jika anda ingin berbicara...Kita bisa berbicara bertiga...Karna istri saya sedang hamil. Saya tidak bisa meninggalkan dia seorang diri. Bagaimana pun, saya rasa cukup aneh....Jika saya harus berbicara berdua dengan mantan calon mertua saya!! Dan yang kami bahas hanya seputar masalah pribadi." Putus Varo akhirnya.
"Mas." Protes Kiren tak enak.
"Baiklah. Om tidak masalah, asal kamu mau berbicara sebentar dengan om." Ucap Bima mengalah.
__ADS_1
Bersambung....