SUAMI ANTI ROMANTIS

SUAMI ANTI ROMANTIS
Drama murahan.


__ADS_3

Kiren dan Varo sampai dirumah Laras pukul 7 malam. Kiren langsung berlari masuk begitu melihat pintu rumah mamanya terbuka lebar. Apa ada tamu. Pikir Kiren.


Kiren berjalan kearah dapur setelah mendengar suara mamanya dari sana.


"Ma."


Mamanya langsung menengok ketika mendengar suara Kiren. Disana mamanya sedang terlihat sibuk memasak didepan kompor, sedang dimeja makan ada papanya duduk dengan tante Tuti dan anak gadisnya, Siska. Mereka serempak menoleh ketika dibelakang Kiren Varo mengucap salam.


"Eh mantu mama." Teriak Laras sambil melangkah kearah Kiren, lebih tepatnya Varo. Karna Varo sedang berdiri dibelakang Kiren.


"Sehat ma?" Ucap Varo setelah mencium punggung tangan Laras.


"Alhamdulillah." Jawab Laras tersenyum cerah.


Kiren yang berdiri didepan Varo hanya melongo ketika mamanya lebih memilih memberikan tangannya pada Varo ketimbang Kiren yang berdiri didepan Varo.


Ini anaknya siapa sih.


"Kamu gak cium tangan mama?" Tanya Laras mengerutkan alis heran.


Kiren langsung memutar bola matanya malas, tak urung menerima tangan mamanya untuk dicium.


"Pah." Ucap Varo ikut menyalami Herman yang duduk di meja makan begitu pun Tuti, tante Kiren. Sedang Siska Varo hanya mengangguk sopan. Yang dibalas senyum lebar Siska, tak urung tatapanya terlihat begitu terpesona melihat Varo yang begitu tampan malam ini.


"Liat Ren suami kamu sopan banget beda banget sama kamu, datang bukanya menyapa papa sama tante disini malah angobrol sama Laras. Gak cocok banget Ren sama kamu." Cibir Tuti terang-terangan.


Kiren yang mendengar tantenya mencibirnya hanya diam, sambil berjalan kearah papanya dan juga tantenya.

__ADS_1


Wajahnya terlihat kesal bercampur malu, tapi tetap mencium punggung tangan kedua orang tua itu yang duduk dimeja makan. Sedang dengan sepupu perempuanya Kiren tidak mau capek-capek berbasa-basi. Melirik pun Kiren tidak, dia langsung berjalan kearah mamanya.


"Mama masak apa?" Tanya Kiren berusaha bersikap biasa saja. Cuek.


"Kamu liat anak mu Man, gak ada sedikit pun basa-basinya." Tanya Tuti meminta persetujuan Herman, papa Kiren.


Sedang Herman diam tanpa mu repot-repot meladeni.


"Ya maklum lah mbak, Kiren kan udah punya suami jadi jarang kesini. Maklum dia begitu, dia kangen sama masakan ibunya. Lagian kan Kiren baru pulang kerja, masih capek. Bukan pengangguran yang diam dirumah." Balas Laras santai sambil berjalan kearah kompor mengecek masakanya.


Kiren mendengar Laras membelanya, hanya diam tak berkomentar tapi tatapanya jelas menunjukan rasa lega. Karna mamanya tidak pernah tinggal diam ketika keluarga papanya terus memojokannya.


"Jangan dibela terus Ras, nanti malah ngelunjak." Ucap Tuti.


"Nak Varo gimana kerjaanya lancar." Ucap Herman kepada Varo yang tidak memperdulikan ucapan Tuti, kakaknya.


"Nak Varo di perusahaanya masih ada lowongan, ini lo Siska anak tante belum kerja. Anak nya pintar kok, rajin juga mana cantik kan. Dulu dia pernah jadi sekertaris pokoknya gak akan malu-maluin apa lagi ngecewain." Ucap Tuti manis.


"Kalau pinter kenapa gak nyuruh nyoba ngelamar sendiri mbak. Kenapa harus pakek orang dalem, Kiren aja dulu ngelamar sendiri ikuti semua prosedurnya. Malah Kiren dari bawah memulai kariernya." Jawab Laras sedikit ketus.


"Apa salahnya bantu saudara Ras, lagian gak mungkin perusahaan sebesar nak Varo gak ada lowongan. Siska ini bukan gak mau ngelamar sendiri cuman anaknya sedikit pemalu." Tutur Tuti tak kalah ketus.


Pemalu dari hongkong yang ada mah malu-mluin kelessss. Cibir Kiren dalam hati.


"Nak Varo baru pulang kerjakan gih istirahat dulu. Kiren antar nak Varo kelamar biar istirahat." Ucap Herman melirik Kiren.


Kiren tersenyum terimakasih kepada ayahnya. Berjalan kearah Varo Kiren menarik tangan Varo yang berada diatas meja.

__ADS_1


"Ayo mas." Ajak Kiren semangat.


"Varo istirahat dulu pah." Ucap Varo mengikuti langkah Kiren.


Tuti yang merasa diacuhkan oleh semua orang mendumel kesal.


"Kiren kamu gak pengen ngobrol dulu dengan Siska, nak Varo juga kan belum kenal dekat dengan sepupu kamu Siska." Ucap Tuti tak kehabisan akal.


"Kenapa menantuku harus kenal dekat dengan Siska?" Tanya Laras tak terima, matanya langsung melotot kearah Kiren sambil menggoyangkan dagunya menyuruh Kiren pergi membawa Varo.


Lama-lama kesabaran Laras bisa habis jika meladeni kakak iparnya yg sinting. Setelah Kiren dan Varo sudah melangkah pergi. Laras langsung melirik kakak iparnay yang malah tidak tau malu menjawab dengan santainya.


"Sebagai saudara kan harus saling mengenal." Sambung Tuti semakin membuat Laras bertambah kesal.


"Kiren juga gak terlalu dekat dengan Siska kenapa suaminya harus dekat."


"Kamu gak suka ya Ras kalau anak ku Siska bisa masuk diperusahaan besar seperti milik Varo."


"Kalau mau masuk seharusnya Siska itu mengikuti prosedur perusahaan mbak, bukan malah menyuruh Varo yang harus membawa Siska."


"Ya gak papa dong Varo kan yang punya perusahaan, gampang aja bagi dia buat masukin Siska kerja. Masa perusahaan sebesar itu gak ada lowongan." Kekeh Tuti semakin menjadi-jadi.


"Walau ada lowongan Varo gak akan asal memasukan orang bekerja diperusahaanya mbak, karna perusahaan besar itu rata-rata pegawainya yang berkopeten yang mengikuti prosedur perusahaan dari awal."


"Heleh. Toh dia gak akan rugi masukin Siska. Anak ku ini pintar, cantik, modis, punya sopan santun dan berpendidikan tinggi. Bukan seperti anak kamu itu bergajulan, urakan, masa jadi istri orang kaya pakaiannya gak ada modis-modisnya. Aku kasih tau kekamu ya Ras, jangan salahkan suaminya jika nanti dia melirik wanita lain karna istrinya gak becus mengurus suami."


Wajah Laras sudah merah padam mendengar tutur kata kakak iparnya. Sedang Herman sudah beranjak pergi karan telinganya panas mendengar kakaknya selalu menjelek-jelekan anaknya. Bisa-bisa dia hilang kontrol dan murka. Jika Laras tidak disini Herman yakin dia pasti sudar berteriak murka, istrinya itu walau galak dan sadis. Tapi selalu melarang Herman berbicara kasar pada kakak kandungnya. Kata Laras, takut jika Tuti tersinggung dan memutuskan persaudaraan mereka karna cuman Tuti saudara tertua Herman. Jadi biarkan Laras yang mengurusnya juga membalasnya, kalau Laras yang membalas kan setidaknya Tuti masih berfikir jika suaminya masih menghargainya dan memihak padanya. Dengan begitu persaudaraan mereka masih baik-baik saja.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2