SUAMI ANTI ROMANTIS

SUAMI ANTI ROMANTIS
Maaf.


__ADS_3

Varo melangkah mendekat kearah Kiren, Kiren benar-benar terlihat hancur sekarang. Varo tidak menyangka karna kebodohanya, membuat wanita yang selalu terlihat ceria seperti Kiren bisa sehancur ini.


Tangisan pilu Kiren terdengar memenuhi ruang makan mewah Varo. Varo terus melangkah mendekat kearah Kiren yang duduk dilantai dengan tangisan pilunya. Bahkan, bahunya sampai ikut bergetar kuat karna tangisanya.


"Sayang." Panggil Varo ikut duduk dilantai sambil menekuk kedua kakinya.


Mata yang biasanya menatap orang tajam itu, kini terlihat memandang Kiren dengan tatapan menyesal.


"Maaf." Bisik Varo menyentuh ujung kepala Kiren.


"Menjauh...Jangan sentuh aku...." Ucap Kiren menepis tangan Varo.


Melihat Kiren yang enggan disentuh oleh Varo, membuat hati Varo sedikit merasa nyeri dan sesak. Tapi Varo tidak tinggal diam, Varo terus berusaha menarik tubuh Kiren mendekat kearahnya. Dan memeluk tubuh ramping istrinya dengan paksa, sampai membuat Kiren terus memberontak didalam pelukanya.


"Lepaskan aku...."Teriak Kiren memberontak didalam pelukan Varo.


"Jangan sentuh......Aku....Brengsek...


...........Menjauh...." Raung Kiren histeris.


"Pergi....Jangan...Hikss....sentuh aku...." Ucap kiren disela-sela isak tangisnya. Bahkan sekarang tanganya terus memukul-mukul dada Varo sebagai pelampiasan rasa marahnya.


"Kamu...Jahat....Kejam...Gak punya hati..." Racau Kiren sambil terus memukul dada Varo.


"Ya aku tau aku jahat. Kamu boleh pukul aku semau kamu tapi tolong setelah itu jangan marah lagi..Aku tau aku memang bodoh karna tidak pernah memikirkan perasaan kamu..Maaf sayang....Maaf.." Bisik Varo lembut.


"Aku gak akan maafin kamu. Gak akan.." Lirih Kiren.


Varo semakin menarik Kiren kedalam pelukannya, walau Kiren masih menangis setidaknya dia lega karna Kiren menangis didalam pelukannya. Dan, Kiren mulai mau dia peluk. Berulang kali Varo mendaratkan kecupanya di kening Kiren, sambil terus menggumamkan kata maaf dan menyesal.


Kiren hanya diam saat mendapat kecupan dari Varo, perasaan yang sedari kemarin terasa mengganjal kini menjadi plong dan lega. Semua itu karna telah dia lampiaskan pada suaminya.

__ADS_1


Cukup lama mereka duduk dilantai, dengan Kiren yang berada dipelukan Varo. Kiren sudah tidak menangis sekuat tadi, tapi masih ada sedikit isak tangisnya. Walau tidak kuat, tapi masih terdengar menyedihkan ditelinga Varo.


Varo pun tidak mencoba menenangkan Kiren, dia hanya mengusap-usap punggung Kiren pelan dengan bibir yang terus mengecup kepala Kiren pelan.


Setelah dirasa Kiren mulai tenang Varo pun membawa Kiren kedalam gendonganya dan mendudukanya dimeja patri didapur. Melangkah menjauh, Varo mengambil segelas air dingindi kulkas dan menyodorkanya pada Kiren.


"Minumlah." Ucap Varo menyodorkan segelas kepada Kiren.


Kiren diam saja tidak menolak atau menerimanya.


"Kiren." Panggil Varo pelan.


Varo melangkah semakin mendekat, dan berdiri didepan tubuh Kiren yang duduk di meja patri dengan kedua kaki menggantung kebawah. Diusapnya pipi tirus Kiren yang masih ada bekas air mata dengan ibu jari tangan Varo.


"Kamu boleh marah, tapi sekarang kamu harus minum dulu. Jika tidak ingin tenggorokanmu sakit besok ." Tutur Varo membujuk.


Kiren tetap diam dengan pandangan datar dan menatap kearah dada bidang Varo. Terlihat sekali jika Kiren sedang menghidar dari tatapan mata suaminya.


Karna tidak mendapat respon dari Kiren. Varo kembali menarik Kiren kedalam pelukanya, tidak ada penolakan kali ini dari Kiren. Dia hanya diam dan pasrah. Entah karna kehabisan tenaga atau memang sudah malas untuk memberontak.


Meletakan dagunya dipundak Kiren, Varo semakin menarik Kiren masuk kedalam pelukannya lebih dalam dan lebih erat lagi.


"Selama kita menikah. Aku selalu berharap kita akan baik-baik saja selamanya. Dengan aku yang selalu bisa memelukmu, dan mengecupmu setiap saat." Ucap Varo lirih.


"Aku berani bersumpah, difikiranku tidak pernah terpintas sedikit pun untuk pergi meninggalkan mu Kiren. Apa lagi harus kembali pada Citra. Aku akan menjadi pria paling bodoh jika masih mau jatuh kelubang yang sama, dengan wanita yang sama pula."


"Apa lagi harus kembali pada wanita yang sudah jelas-jelas meninggalkanku. Aku tidak akan sebodoh itu sayang." Bisik Varo sambil mengecup pundak Kiren pelan.


"Sedangkan sekarang, lihat. Ada gadis hebat yang mau menerima ku dengan semua kekuranganku, yang mau aku peluk disaat aku lelah. Atau aku sedih dan tidak baik-baik saja. Kamu kira aku akan sebodoh itu untuk pergi meninggalkannya


" Ucap Varo lembut sedikit menjauh agar bisa melihat wajah istrinya dan diakhiri dengan kecupan mesra dikening Kiren.

__ADS_1


"Jadi." Sambung Varo menangkup wajah Kiren dengan kedua tanganya.


"Jangan pernah berfikir jika aku akan kembali padanya. Hatiku sudah mati untuk wanita lain kecuali istriku." Varo tersenyum lembut dengan sorot mata lurus kearah mata Kiren. Seakan dia berbicara jujur dari hatinya.


Kiren tetap diam dengan pandangan memandang Varo lekat, dipandanginya bola mata pekat milik Varo, suaminya. Seakan Kiren sedang mencari-cari kebohongan dalam tatapan matanya, tapi semua itu tidak Kiren temukan. Yang ada hanya sorot mata tulus dengan pandangan dalam, seakan mengatakan jika dia sedang berbicara jujur dari hati.


"Demi tuhan sayang. Jangan pernah takut dengan sesuatu yang belum pernah kamu pastikan. Jika kamu berfikir aku sengaja tidak mengganti pin apartement. Dengan alasan menunggu Citra kembali pada ku dan kami bisa bersama, lalu kenapa aku harus menikah denganmu. Jika pada akhirnya aku akan kembali pada wanita yang sama. Itu hanya akan membuang-buang waktu ku."


"Dan lagi pula. Bukankah saat pertama kali kita menikah. Aku sudah menawarkan tempat tinggal impianmu. Kamu ingin tinggal dirumah seperti apa, kamu bisa memilihnya sendiri. Atau kalau tidak, kita juga bisa tinggal diapartement ku. Tapi, kamu dengan tegas mengatakan kita bisa tinggal disini. Diapaetement ku.... Lalu kenapa-"


"Kamu mau nyalahin aku!!" Potong Kiren melotot.


Varo mengerjap mendengar ucapan Kiren dengan mata melotot kesal. " Enggak sayang. Bukan begitu." Ucap Varo sedikit panik.


"Terus apa?"


Menarik nafas dalam. "Lalu kenapa kita bertengkar hanya karna tempat tinggal dan sandi pin sialan itu." Ucap Varo kesal membuat Kiren mendengus kesal dibuatnya.


"Baiklah. Lebih baik begini saja, bagaimana kalau besok kita membeli rumah sesuai keinginanmu. Dengan begitu, kamu bisa percaya jika aku tidak akan pernah kembali pada Citra atau wanita mana pun!! Bagaimana?" Tawar Varo.


"Dan untuk soal cincin. Kita bisa cari yang baru, atau kamu ingin memilih sendiri mau cincin seperti apa!! Kamu bisa mengatakannya pada ku. Aku janji akan membelikan cincin sesuai keinginanmu. Dan soal resepsi, kita bisa mengadakan resepsi ulang dengan semua keinginanmu. Dengan semua dekor impianmu. Ini untuk berjaga-jaga, agar kamu tidak akan marah dikemudian hari karna tau jika kemarin.... Kita menikah menggunakan resepsi yang dipilih Citra. Bagaimana?" Sambung Varo panjang lebar.


"Kamu mau pamer keaku kalau kamu itu benar-benar kaya begitu?" Tanya Kiren memicingkan mata curiga.


Melihat istrinya yang malah curiga kepada Varo karna ide dadakanua membuat Varo berdecak kesal. "Apa kamu berfikir begitu?"


"Ya." Jawab Kiren mantap.


Antara kesal, dan lega, Varo lengsung memegang dagu Kiren dan tengkuknya. Melahap habis bibir istrinya yang sedari tadi sudah menggoda imanya dan ingin ******* habis bibirnya.


Kiren yang mendapat ciuman mendadak dari suaminya. Langsung memukul-mukul dada bidang Varo tidak terima.

__ADS_1


Varo tidak menggubris pukulan Kiren, dia malah terus memperdalam ciumanya. Hingga lama-kelamaan membuat Kiren pasrah dan membalas ciuman suaminya.


Bersambung....


__ADS_2