
Kiren cuman bisa pasrah ketika Varo menarik sebelah tangannya kearah kamar.
Kalau dilihat seperti ini, Varo seperti suami yang cinta mati pada Kiren. Karna sepanjang jalan masuk kekamar, Varo sesekali menoleh kebelakang kearah Kiren. Seperti memastikan Kiren tidak akan lari atau kabur. Tidak lupa bibirnya ditarik keatas sedikit membuat Kiren hampir semaput karna jantungan melihat betapa tampanya suaminya itu.
Belum lagi, jika beberapa pelayan melihat dirinya dan Varo lewat di depan mereka. Mereka selalu berhenti dan membungkuk hormat tidak lupa ada senyum sopan yang mereka berikan ke pada Kiren dan Varo.
Mau tidak mau Kiren membalas senyum itu juga, karna merasa tidak enak. Lagian kan Keren tidak pernah diperlakukan seperti itu. Jadi berasa aneh dan risih. Beda dengan Kiren berbeda juga dengan Varo, tampang suami Kiren itu selalu lurus kayak tembok bangunan baru alias lempeng, gak ada lekukan atau belokanya. Apa lagi samapi simpang pertigaan. Bahkan muka cuek Varo ketara sekali meski diperlakukan seperti itu oleh bawahanya. Sombong banget ya. Kecuali kalau dia sedang melihat kearah Kiren. Ada senyuman nya, tapi cuman dikiiitttt banget.
Tapi walau cuman sedikit begitu sudah mampu membuat hati Kiren klepek-klepek dan jingkrak-jingkrak. Gak senyum aja buat jantungan apa lagi senyum, bisa keserang setroke dadakan Kiren.
Varo terus menuntun Kiren masuk lebih dalam ke lorong-lorong hotel. Hotel bergaya mewah ala eropa dengan cat dinding warna putih dan golf itu benar-benar membuat silau mata memandang.
Kiren sampai heran seberapa banyak Varo menghabiskan uang untuk membangun hotel ini. Belum lagi untuk lampu-lmpu hias yang menghiasi plafon-plafon hotel. Terlihat sangat mahal dan cantik. Kiren berani bertaruh untuk membeli ***** bengek hotel ini pasti Varo menghabiskan banyak uang. Kiren sampai tidak berani membayang kan seberapa panjang dan lebar tumpukan uang Varo jika dikumpulkan untuk membangun hotel ini. Bisa buat Kiren tidur guling-guling kali ya.
Kiren suka bertanya-tanya seberapa kaya suaminya itu. Memiliki perusahaan besar, hotel ini juga sangat mewah. Kira-kira apa lagi yang Kiren tidak tau tentang suaminya. Punya pulau kah.
"Kamu ingin makan apa?" Tanya Varo membuyarkan lamunan konyol Kiren.
Kiren mengerjap bingung kapan mereka masuk ke kamarnya, kok udah didalam aja.
Kamar ini bukan seperti kamar hotel, karna kamarnya sangat besar. Bahkan kamar ini lebih mirip seperti apartement. Ada sofa set lengkap dengan tv super besar, ada kitchen set lengkap dengan peralatan dapurnya. Dan ada dua kamar tidur yang saling terhubung.
Kamar ini setipe king suite. Tidak heran jika Varo bisa betah berlama-lama disini, kamar ini benar-benar luar biasa keren. Lagian kan hotel ini milik Varo terserah dia mau tidur dimana.
Boleh kah sekarang Kiren merasa insecure dengan Varo yang level nya berada jauh di atasnya.
"Kenapa bengong?" Tanya Varo untuk kedua kalinya. Saat melihat istrinya malah diam sambil memperhatikan sekeliling hotel membuat dia heran. Dulu saat diapartement Kiren malah terlihat heboh, berulang kali mengatakan WAH kenapa sekarang seperti anak ayam yang habis masuk got. Diam dan terkesan canggung, Varo tidak terlalu suka melihat Kiren yang seperti ini.
"Emmm. Kita tidur disini?" Tanya Kiren ragu.
__ADS_1
Sekarang Kiren benar-benar merasa Varo itu benar-benar terlalu sempurna untuk nya. Bagaimana mungkin mantan tunangan Varo meninggalkan calon suami seperti Varo ini pergi, sedang Varo adalah pria yang luar biasa sempurna kalau soal materi dan fisik. Apa perasaan mantan tunangan Varo juga sama seperti apa yang Kiren rasakan saat ini. Minder.
Dih kok jadi mellow sih gue.
"Iya. Kenapa? Kamu ingin pindah cari kamar lain?" Tanya Varo melangkah kearah kulkas.
Kiren hanya diam, melangkah kearah sofa dan duduk diam disana. Gambaran semua kekayaan Varo berputar diingatan Kiren dan semua itu sedikit mengganggu perasaan Keren.
Apa Kiren harus pergi ke paranormal untuk mengecek seberapa besar hokinya karna bisa mendapatkan Varo. Atau dia juga harus mengecek seberapa hebat jimat Varo hingga membuat kedua orang tua Kiren begitu percaya pada pria itu.
Rasa dingin di pipi Kiren membuat Kiren mengerjab kaget, dan menoleh cepat pada sang pelaku. Varo berdiri disampingnya dengan botol air meneral dingin ditanganya yang tadi diletakan di pipi Kiren.
"Minum." Perintah Varo otoriter.
Kiren menurut, menerima botol air meneral dan meneguk nya hingga tinggal setengah. Memikirkan kekayaan Varo membuat tenggorokanya kering.
Rasa marah, kesal yang Kiren rasakan tadi pun menguap entah kemana. Yang ada sekarang adalah rasa tidak nyaman, malu dan sedikit minder.
Tapi bagaimana dengan hatinya yang mulai suka pada suaminya, lagi pula bukanya hidup itu kejam. Kiren tidak munafik sebagai wanita juga dia ingin pasangan yang kaya dan tampan tapi kenapa harus sekaya Varo. Bagaimana jika sikap dingin Varo selama ini karna dia tidak nyaman pada Kiren.
Dih kan gue jadi mikir parno, belum siap aja gitu sakit hati yang tak berdarah gara-gara cinta bertepuk sebelah tangan. Bisik hati kecil Keren.
Memperhatikan botol yang ada di genggaman tanganya. Kiren terlalu malu untuk memandang Varo yang duduk didepanya sekarang.
"Kamu masih marah?" Tanya Varo yang duduk didepan Kiren.
"HAH?" Tanya Kiren mendongak melihat Varo yang memandangnya aneh.
"Kenapa dari tadi diam aja? Atau kamu gak nyaman sama kamar ini?"
__ADS_1
"Apa?"
Varo mendengus kuat mendengar respon istrinya.
"Lupakan!! Jadi kamu mau makan apa?"
"Aku gak laper. Aku boleh numpang kekamar mandi?" Tanya Kiren ragu.
Varo memandang aneh istrinya, sejak kapan Kiren jika ingin kekamar mandi pakai acara ijin padanya.
"Apa kita perlu ke dokter?" Tanya Varo serius.
"Siapa yang sakit?"
"Kamu."
"Aku? Emang aku kenapa?"
"Kamu aneh. Apa kamu sakit?"
Sekarang gantian Kiren yang mendengus. Suaminya bukan cuman dingin ternyata tapi juga aneh hari ini.
"Emang aku dari tadi ngeluh sakit?"
Mengangkat bahu cuek. "Kalau gak sakit kenapa dari tadi diam aja!!."
Wow disepanjang pernikahan Kiren, ini adalah kali pertama Varo mau bertanya panjang-panjang pada Kiren.
Kiren berdiri. "Dimana kamar mandinya?" Tanya Keren.
__ADS_1
Varo menunjuk pintu diujung ruangan dengan dagunya, untuk menjawab pertanyaan Kiren. Tanpa banyak tanya Kiren langsung melenggang pergi. Dia butuh mandi sekarang agar bisa menjernihkan otaknya yang mendadak panas. Panas karna melihat kenyataan hidup nya saat ini.
Bersambung....