SUAMI ANTI ROMANTIS

SUAMI ANTI ROMANTIS
Panik


__ADS_3

Kamu hanya perlu diam.


Biarkan aku yg berjalan, melangkah kearah mu.


Dan kamu, hanya perlu bersabar menunggu ku.


Membawa semua kepastian dan ketulusan.


Kiren masuk dalam apartement dengan sedikit tergesa. Membuat Varo yang duduk disofa menoleh padanya. Hanya menoleh tanpa menegur atau sekedar berbasa-basi.


Saat melewati Varo. Pria itu hanya melirik Kiren sekilas, setelah itu sibuk kembali dengan gedget ditangannya. Kiren juga tidak menyapa atau pun berbasa-basi taku-takut jika sapaannya akan diabaikan seperti dilobi waktu itu. Alhasil Kiren hanya melengos dan masuk ke kamar.


Setelah menutup pintu Keren mendengus Kesal, melihat suaminya yang terlihat biasa-biasa saja padahal Kiren pulang hampir larut membuat sisi perasaan Kiren tersentil. Apa yang Kiren harapkan dengan suami dinginnya. Berharap Varo akan menunggunya dilobi lagi atau lebih tidak mungkinnya lagi menjemput Kiren dengan sedikit rasa khawatir. Cih sepertinya Kiren terlalu berlebihan jika mengharap kan seperti itu.


Kiren keluar dari kamar setelah mandi dan berganti pakaian menjadi baju tidur daster bergambar lumba-lumba. Dia melirik Varo yang masih duduk ditempat semula dengan posisi yang masih sama bemain gedget ditanganya.


Dia udah makan malam belum ya, bingung gue mau panggil apa? Aneh gak sih kalau gue panggil mas, marah gak ya kira-kira dia gue panggil begitu.


Kiren terlihat mondar-mandir keluar masuk kamar, lama-lama membuat Varo risih dengan tingkah istrinya.


"Kenapa?" Tanya Varo datar.


Kiren menoleh. "Em- itu. Kamu udah makan malam?"


"Ckkk. Dari tadi kamu mondar-mandir hanya untuk bertanya seperti itu?" Decak Varo sambil bersandar disofa dan melipat tangan didada menatap Kiren.


"Mau aku buatkan makan malam?" Tawar Kiren mengabaikan pertanyaan dan tatapan Varo.


"Aku tidak lapar, lebih baik kamu istirahat."


"Tapi-" Ucapan Kiren terputus, dia bingung mau bicara apa. Ada perasaan yang mengganjal saat menatap mata Varo. Apa Varo marah padanya karna pulang malam.


Jelas saja bodoh, suami mana yang tidak marah pada istrinya yang pulang larut. Dan itu artinya... Kiren tersenyum senang memikirkan, jika Varo marah padanya berarti suami nya pedulikan padanya kan. Bolehkah Kiren berfikir begitu.


Mengabaikan Kiren, Varo beranjak masuk kekamar. Kiren langsung menyusul masuk saat melihat Varo tidak menutup pintu kamar mereka.

__ADS_1


Disana Varo tidur memunggunginya. Masih dengan senyum mengembang, Kiren berbaring disamping suaminya. Menatap punggung Varo, selama beberapa hari menikah dengan Varo, suaminya itu jika tidur selalu menghadap kerah Kiren kadang malah memeluk erat Kiren. Jadi terasa aneh ketika Varo memunggunginya seperti ini. Walau Varo dingin tapi sikap dia kadang buat Kiren senyum-senyum sendiri. Boleh gak sih Kiren bilang kalau udah mulai suka Varo.


"Mas." Panggil Kiren.


Dih kok berasa adem ya gue panggil laki gue gitu. Harus sering-sering ini biar Varo ketularan adem, eh bukannya Varo emang udah adem ya sangkeng ademnya sampe omonganya juga adem. Adem kayak es batu.


"Mas marah?" Tanya Kiren sambil mengulurkan tanganya kepunggung Varo. Dielusnya punggung Varo yang nampak tegap didepan Kiren.


Lagi-lagi keheningan yang menjawab, Kiren beringsut mendekat kearah Varo. Ingin tau seperti apa reaksi Varo ketika Kiren panggil mas.


"Mas Varo?"


"Ya udah deh kalau gitu." Ucap Kiren menyerah karna merasa Varo sama sekali tidak merespon. Saat akan berbalik memunggungi Varo pundaknya ditahan seseorang. Menoleh.


"Dosa tidur munggungin suami."


Kiren mengerjap memandang Varo, tersenyum. Suaminya nampak tampan dibawah cahaya sinar bulan.


Merapikan rambut Kiren yg sedikit berantakan kearah telinga. "Kenapa sampai pulang malam?" Bisik Varo, tidak dingin tapi tidak juga terdengar ramah.


"Maaf."


"Aku tidak menerima kata maaf jika tidak ada alasan yang bisa diterima dengan logis."


"Tadi dicaffe rame banget, jadi gak mungkin pulang kayak jam biasa."


Menghela nafas Varo memegang pundak Kiren. "Kenapa gak bilang?"


"Aku kan gak punya nomor hp kamu." Elak Kiren.


Lagi Varo menghelanafas gusar. "Kamu mau menjalani rumah tangga yang seperti apa sih Ren?" Tanya Varo datar.


Kiren mengerjapkan mata berupang kali. Expresi Varo terlihat datar, bahkan rahangnya mengeras dengan sorot mata yang tajam.


"Kamu gak punya mulut untuk nanya? Ada mbak Hanum disana kan!! Kamu bisa nanya dia atau minta tolong dia buat ngabarin aku." Ucap Varo dingin. Tidak ada nada tinggi disuaranya, Varo berbicara pelan tapi terasa dingin.

__ADS_1


"Aku minta maaf." Cicit Kiren.


Berdecak cukup kuat. " Bahkan saat kita akan menikah saya udah save nomor kamu."


Kiren diam dengan kepala menunduk, air matanya bahkan sudah akan turun jika saja Kiren berkedip. Merasa bodoh dan menyesal secara bersamaan karna terlalu mengikuti gengsi. Kan jadinya diomelin.


"Lain kali saya gak suka kamu pulang larut tanpa memberi kabar. Saya gak permasalahkan kalau kamu mau kerja, karna saya tidak mau ngekang kamu. Tapi tolong hargai saya sebagai suami kamu, karna saya juga sedang berusaha menghargai kamu sebagai istri saya."


Bodoh kamu Kiren lihat, bahkan sekarang Varo menggunakan kata saya seperti dulu pas belum nikah. Bisik hati kecil Kiren.


"Aku minta maaf." Cicit Kiren dengan mata masih berkaca-kaca.


Varo tidak menjawab matanya memandang Kiren lekat. Tidak ada satu kata pun yang keluar dari bibirnya.


Kiren beringsut mendekati Varo meletakan kepalanya didada bidang Varo dengan tangan memeluk pinggang suaminya, tidak ada balasan dari Varo. Tapi saat mendengar isak kecil Kiren, tanganya terulur menarik Kiren lebih mendekat.


"Maaf." Cicit Kiren.


Kiren menyesal, dia sendiri bingung bagaimana mengatakanya. Pernikahanya sangat mendadak membuat dia sendiri bingung harus bagaimana bersikap. Varo suaminya kadang terlalu dingin, sangat sulit untuk ditebak. Mereka juga belum cukup saling mengenal satu sama lain. Jika tiba-tiba Kiren bersikap berlebihan seperti seorang istri bukan kah akan terasa aneh.


Kiren butuh waktu untuk mengenal. Apa lagi Keren tidak tau bagaimana harus bersikap menjadi istri yang baik versi Varo. Suami Kiren kan beda dari yang lain.


"Ssssssttt. Kenapa menangis? Aku tidak marah, aku hanya ingin kita bisa bersikap lebih wajar seperti suami istri lainya."


Kiren mendongak masih dengan air mata dipipinya bahkan hidungnya sudah merah. Varo sampai terkekeh pelan melihatnya. Istrinya nampak lucu dengan hidung dan pipi merah karna habis menangis. Kiren yang baru pertama melihat suaminya terkekeh sampai tidak berkedip karna merasa takjub.


Ganteng banget sih lagi gue kalau ketawa gitu. Gak papa deh gue nangis tiap malam asal bisa liat senyum ma ketawanya. Teriak hati kecil Kiren.


"Kiren. Aku bisa minta hak ku sebagai suami sekarang?" Tanya Varo.


HAH


Hanya kata itu yg keluar dari bibir Kiren dengan pikiran blank. Gimana enggak orang habis nangis langsung dimintai jatah sama suami. Siapa yang gak syok coba.


Ada yang begitu gak gaes, kayak mas Varo. Minta jatah nya dadakan๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2