
Varo terus menarik tangan Kiren hingga masuk kedalam mobilnya. Mengabaikan protesan istrinya sedari tadi. Yang jelas, Varo akan menyelesaikan masalahnya dengan Kiren saat ini juga. Dan tidak akan membiarkanya berlarut larut terlalu lama.
Dia tidak akan membiarkan Kiren lebih lama marah padanya, tidak akan pernah. Apalagi melihat tetangga yang belagak ramah pada istrinya membuat Varo kesal setengah mati. Bahkan Varo sedari tadi menahan diri untuk tidak membakar hidup-hidup pria sialan itu. Karna sudah berani menyentuh kepala istrinya.
Cih....Semua ini pasti karna istrinya tidak memakai cincin dijarinya. Membuat pria-pria diluar sana beranggapan kalau Kiren masih single, pastinya. Dan Varo tidak akan membiarkan itu terjadi terlalu lama, tidak akan pernah.
"Kita mau kemana sih." Tanya Kiren kesal karna sedari tadi diabaikan oleh Varo.
"Kamu hanya perlu duduk manis sayang. Bersikaplah menjadi wanita penurut kali ini. Ok." Ucap Varo santai.
Kiren mendengus mendengar ucapan suaminya. Menjadi wanita penurut. Cih jangan mimpi. Sinis Kiren dalam hati.
Varo berhenti didepan mall mewah disalah satu kawasan jakarta pusat. Setelah memarkirkan mobilnya dibasment mall. Varo langsung membuka sabuk pengamannya dan bersiap turun.
"Ayo." Ajak Varo pada Kiren.
Tapi Kiren tetap diam, tak bergeming sedikit pun. Membuat Varo mengernyitkan kening bingung. "Ayo sayang." Ajak Varo sekali lagi dengan sabar.
"Gak. Aku gak mau turun... Kamu aja kalau mau turun pergi sendiri." Ketus Kiren.
"Kamu yakin bakal tetap duduk didalam mobil?" Tanya Varo santai.
Kiren hanya meliriknya sekilas. "Padahal aku mau ngajak kamu makan didalam. Sepertinya makan direstoran jepang sore-sore begini enak." Gumam Varo sedikit lebih keras agar Kiren dapat mendengarnya.
"Ok. Kalau gitu aku turun sekarang. Kamu kalau gak mau ikut. Tolong jaga mobil kita ya." Ucap Varo tersenyum jail.
__ADS_1
Kiren mendengus keras mendengarnya, melipat kedua tangan diatas dada. Kiren memasang tanpang marah yang sangat ketara dibuat-buat. Membuat Varo gemas mengacak rambut Kiren pelan.
"Yak." Protes Kiren.
Varo turun dari mobil mengabaikan protesan Kiren, memutari mobil mewahnya. Varo berdiri disamping pintu mobil disamping Kiren.
Tok....Tok..Tok...
"Sayang..." Teriak Varo dari luar, membuat beberapa pasang mata memandang penasaran kearah mobil Varo.
Kiren mendesis pelan karna menjadi pusat perhatian beberapa orang. Dengan terpaksa, Kiren membuka pintu mobil dan keluar menyusul Varo yang tersenyum lebar karna berhasil membuat Kiren keluar dari mobilnya.
"Ayo." Ajak Varo masih dengan senyum lebarnya.
Kiren hanya menurut tidak mau ambil resiko malu ditempat umum. Varo melangkah ringan disamping Kiren. Bahkan saat akan menaiki eskalator, Varo menyuruh Kiren berjalan didepannya masih dengan senyum lebar menghiasi bibirnya. Membuat beberapa pasang mata wanita didepan Kiren melirik kearah Varo dengan senyum malu-malunya. Yang membuat Kiren berdesis kesal dibuatnya.
"Lebay." Celetuk Kiren semakin kesal.
Varo terkekeh melihat wajah kesal istrinya. Menarik sebelah tangan Kiren, Varo menggenggamnya erat. "Nah begini lebih baik." Ucap Varo pelan.
Tak urung membuat Kiren memalingkan wajah dengan bibir memahan senyum.
Varo menuntun Kiren melewati jajaran toko-toko merk-merk dunia. Membuat Kiren meleleh dibuatnya. Apalagi kalau bukan salah satunya adalah koleksi tas-tas mewah dengan berlambangkan huruf GG atau GUCI. Tanpa sadar membuat Kiren menggeleng tak habis pikir karna teringat harganya yang fantastis. Membuat rata-rata wanita sosalita berlomba-lomba untuk mengoleksinya. Baik untuk koleksi atau ajang pamer dengan harga yang tidak murah itu.
Kalau gue sih....Uang sebanyak itu mending gue buat ngasih makan fakir miskin atau ngasih donasi buat anak-anak panti asuhan. Teriak hati kecil Kiren.
__ADS_1
Varo menarik Kiren yang terus geleng-gelang kepala melihat jejeran toko-toko barang bermerk. Masuk kedalam lift Varo sama sekali tidak pernah melepaskan genggaman tanganya. Keluar dari lift, Kiren disuguhkan dengan deretan tempat makan, mulai dari makanan indonesia sampai makanan seluruh penjuru dunia ada disini. Membuat Kiren menelan ludah seketika.
Mata Kiren langsung berbinar saat melihat restoran yang menyediakan stand makanan favoritnya. Varo melirik Kiren sekilas, tapi Kiren tidak peduli karna didepanya saat ini lebih menggiurkan dibandingkan tatapan Varo. Ckkkk..Ternyata Varo tidak lebih berharga dibandingkan dengan makanan favorit Kiren.
Kiren terus fokus menatap sushi-sushi penuh pesona didepannya. Seakan mereka sedang memari-nari seperti upin-ipin, menggoda Kiren "Ayoooo...Makan aku Kiren...Makan aku...."
Tanpa sadar ternyata Varo memperhatikan wajah Kiren, terlihat sekali jika istrinya itu hampir menumpahkan air liurnya memandang restoran didepannya.
"Kita makan itu aja ya?" Ucap Kiren semangt menunjuk restoran didepannya. Varo hanya mengangguk pasrah, membiarkan Kiren memilih ingin makan apa. Lihatlah, Kiren sampai melepas genggaman tangan Varo dan berjalan lebih dulu kearah tempat duduk yang kosong. Seakan melupakan jika ia tadi begitu menolak ajakan suaminya, dan bersikap sok jual mahal.
Dan dengan tidak tau dirinya, Kiren sekarang malah melambai dengan tatapan menyebalkan kearah Varo, menyuruh Varo untuk duduk disampingnya. Membuat Varo menggeleng tak percaya dibuatnya. Istrinya benar-benar ajaibkan.
"Aku mau ketoilet sebentar." Ucap Kiren berdiri dari duduknya. Setelah menghabiskan begitu banyak makanan favoritnya, membuat Varo ikut merasa kenyang saat melihat Kiren yang begitu lahap makan.
Varo mengalihkan pandanganya kearah Kiren. "Mau aku antar." Tawar Varo langsung berdiri.
"Gak usah sendiri aja. Mas disini aja, jangan kemana-mana." Ucap Kiren. Varo hanya mengangguk menyetujui.
Hampir sepuluh menit Kiren kekamar mandi. Dan akhirnya Kiren sepsai juga.
"Udah?" Tanya Varo begitu Kiren duduk ditempatnya semula. Kiren mengangguk.
"Ayo." Ajak Varo menarik pelan tangannya.
"Kemana?" Varo hanya mengangkat bahu cuek. Membuat Kiren mendengus kesal.
__ADS_1
Bersambung....