SUAMI ANTI ROMANTIS

SUAMI ANTI ROMANTIS
Orang yang berbeda.


__ADS_3

"Apa semua berkas untuk miting siang nanti sudah siap, Jesi??" Tanya Varo pelan sambil melirik pada sekertarisnya yang sedang berdiri tenang disampingnya dengan setumpuk berkas dipelukanya.


"Sudah pak. Bapak hanya tinggal menandatanganinya." Jawab Jesi sopan.


Saat ini Varo sedang berdiri didalam lift, dengan sekertarisnya Jesi yang berdiri disampingnya. Selesai miting tadi, Varo langsung bergegas pergi menuju ruanganya. Karna tadi sekertaris keduanya sempet menghubunginya. Dan mengatakan ada tamu penting ingin bertemu denganya. Dan maksa ingin menunggunya diruanganya.


Awalnya Varo merasa enggan, dan malas. Karna tamunya itu tidak mengikuti prosedur perusahaan. Yang mana, harus membuat janji terlebih dulu jika ingin menemuinya.


Tapi saat mendengar bahwa tamunya mengaku sebagai wanita penting dihidupnya. Membuat Varo penasaran setengah mati. Sempat terpintas jika mungkin itu istrinya Kiren, yang sedang berusaha memberinya kejutan setelah kejadian kemarin. Apa Kiren mau menerima maaf ku. Pikir Varo senang.


Membayangkan senyum cerah diwajah Kiren, membuat perasaan Varo merasa ringan. Tapi benarkah itu Kiren.


Karna Varo merasa tidak punya wanita penting lainya selain Kiren. Dengan bibir terus berkedut menahan senyum, Varo terus melangkah tergesa-gesa keruanganya. Bahkan sekertaridnya Jesi sampai berlari kecil untuk menyamai langlahnya.


Varo berharap, jika saat ini Kiren tidak akan merasa bosan karna menunggu Varo terlalu lama diruanganya.


"Selamat siang pak." Sapa wanita cantik yang berdiri didepan meja kerjanya yang berada didepan ruangan Varo.


Varo hanya mengangguk. "Hellen. Apa tamuku masih menunggu didalam?" Tanya Varo pada wanita cantik yang dia panggil Hellen.


"Iya pak. Beliau sudah menunggu didalam." Jawab Hellen sopan.


Mendengar jawaban sekertaris keduanya, Varo langsung melangkah semakin mendekat kearah ruanganya.


"Jesi. Tolong siapkan berkas-berkas mitting untuk proyek baru kita dengan pak Hanes. Kamu bisa mengirimkan lewat email saya nanti setelah makan siang...Saya akan menghubungi kamu lagi nanti, jika ada yang penting. Sekarang kamu bisa kembali keruangan kamu." Perintah Varo pada Jesi setelah berdiri didepan pintu ruanganya.


"Apa bapak ingin saya pesankan makan siang seperti biasa pak?" Tawar Jesi menjawab perintah Varo.


"Tidak. Saya sepertinya akan makan siang dengan istri saya hari ini. Dan tolong batalkan semua janji saya untuk dua jam kedepan." Ucap Varo mendorong pintu ruanganya.


"Oh ya. Katakan pada Hellen, putuskan semua jaringan telpon keruangan saya saat ini. Saya tidak ingin diganggu untuk dua jam kedepan." Sambung Varo melangkah masuk.


"Baik pak." Jawab Jesi membungkuk sopab sebalum melangkah menjauh.

__ADS_1


Mendorong pintu ruanganya, Varo mengerutkan kening bingung saat tidak menemukan tamunya dimana pun. Ruanganya nampak kosong.


Jika tamu itu Kiren, dia yakin istrinya tidak akan kemana-mana. Dia akan duduk dengan tenang di sofa ruanganya. Lalu kemana perginya tamunya itu.


Keanehanya semakin kuat ketika menemukan tas bread ternama diatas meja didepan sofa. Perasaan istrinya tidak pernah menggunkan tas-tas bread seperti itu. Dan Varo jelas tau bagaimana gaya Kiren yang sedikit tombai dan simpel.


Melangkah kearah meja, Varo langsung menghubungi sekertaris keduanya, Hellen.


"Selamat siang pak. Ada yang bisa saya bantu?"


"Hellen. Apa tadi tamu yang kamu maksud istri saya?" Tanya Varo mengabaikan sapaan sopan Hellen.


"Maaf bukan pak." Jawab Hellen mantap.


"Suruh Jesi keruangan saya. Sekarang." Ucap Varo datar.


"Dipta."


Varo menoleh kearah pintu kamar mandi yang baru dibuka, wanita anggun dengan dres putih sedang berdiri didepan pintu toilet ruangan Varo. Dengan senyuman lebar dibibirnya.


"Citra. Apa yang kamu lakukan diruangan saya." Tanya Varo dingin.


"Dipta aku ingin bicara dengan kamu." Jawab Citra melangkah mendekat mengabaikan ucapan dingin Varo dan tatapan datarnya.


"Setelah masuk kerumah saya tanpa ijin, kamu masih berani menemui saya diperusahaan saya." Ucap Varo dingin.


"Apa urat malu kamu sudah benar-benar putus." Sambung Varo.


"Dipta. Aku hanya mau bicara empat mata sama kamu." Mohon Citra yang sudah berdiri didepan Varo.


Tok....Tok....


Suara ketukan pintu membuat Varo mengalihkan tatapanya dari Citra kearah pintu.

__ADS_1


"Masuk." Ucap Varo datar.


"Maaf pak. Ada yang bisa saya bantu." Tanya Jesi sopan.


"Bagaimana Hellen bisa membiarkan wanita ini. Masuk keruangan saya, Jesi??" Tanya Varo pelan tapi dingin.


"Dipta. Aku hanya mau bicara sama kamu." Ucap Citra menyentuh lengan Varo meminta perhatian lelaki itu untuk memandangnya.


"Jangan sentuh saya." Ucap Varo datar.


"Kamu berubah Dipta. Apa karna ****** itu kamu sampai berubah dingin seperti ini pada ku." Tanya Citra kecewa.


"Jangan berani kamu hina istri saya. Dan asal kamu tau Citra, istri saya jauh lebih baik dari pada kamu." Ucap Varo memandang Citra tajam. "Sebelum kesabaran saya habis. Lebih baik kamu pergi dari ruangan saya. Saya sudah tidak punya urusan apa pun lagi dengan kamu."


"Gak. Aku gak akan pergi kemana pun tanpa kamu. Dan urusan kita belum selesai." Ucap Citra kekeh.


"Kamu tau Varo, aku sudah akan bercerai dengan Revan. Dengan begitu kita bisa kembali seperti dulu. Aku janji, kali ini aku akan menajadi wanita setia sekaligus istri yang baik untuk mu." Sambung Citra semangat.


Varo tertawa sinis mendengar ucapan gila Citra. "Kamu kira saya masih tertarik kembali dengan wanita gila seperti kamu. Jangan konyol Citra."


"Dipta aku tau, aku salah. Tapi tolong, beri aku kesempatan kedua untuk kita bersama. Aku sadar Revan tidak seperti kamu. Dia pria kasar dan egois, yang ingin menang sendiri. Dia selalu membentak ku dan menyakiti ku Dipta. Aku mohon aku butuh kamu sekarang." Ucap Citra lirih.


"Jesi panggil pihak keamanan." Teriak Varo menggelegar didalam raungannya.


Citra menggeleng panik mendengar teriakan Varo. "Gak Dipta. Aku mohon, jangan seperti ini. Aku mengaku salah. Tapi aku mohon maaf kan aku." Bujuk Citra dengan isak tangis yang mulai memenuhi wajahnya. Citra yakin bahwa Diptanya tidak akan tega melihat wanita yang dia sayangi menangis didepanya. Dari dulu mereka pacaran tangisan Citra adalah kelemahan Varo.


Bukanya kasian, dengan kejam Varo melangkah menjauh dari Citra. Dan duduk dikursi kebesaranya dengan tangan mengetuk-ngetuk diatas meja kerjanya tak sabaran.


"Dipta ayo kita bicara. Aku tau kamu masih mencintaiku kan? Aku juga masih sangat mencintaimu."Bisik Citra memohon dengan air mata memenuhi wajahnya putihnya.


"Dipta aku mohon. Aku sedang hamil. Aku butuh kamu saat ini." Mohon Citra menarik telapak tangan Varo diatas meja.


Menghempaskan tangan Citra dengan kasar. "Kamu kira saya laki-laki bodoh.... Yang mau kembali kepada wanita seperti kamu. Jangan mimpi kamu Citra. Sekali lagi saya peringatkan pada kamu!!! Keluar dari perusahaan saya saat ini juga. Atau pihak keamana saya yang akan memyeret kamu keluar dari sini." Ancam Varo dingin dengan tatapan sengit.

__ADS_1


"Kamu gak akan berani mengusir aku Dipta. Gak akan berani." Teriak Citra menantang.


Bersambung....


__ADS_2