
Varo yang sedang asik-asik tidur, tiba-tiba terbangun. Dan langsung berlari kearah kamar mandi dan memutahkan semua isi perutnya.
UEGHHHH....UEGHHHHHH....UEGHHHH...
Varo terus memuntahkan isi perutnya. Yang hanya berupa cairan bening seperti air. Membuat tenggorokannya terasa kering dan pahit. Membasuh mulutnya dengan air, Varo merosot duduk dilantai kamar mandi yang dingin dengan wajah pucat dan keringat dingin bercucuran dipelipisnya. Tubuhnya terasa begitu lemas tak bertenaga. Bahkan untuk sekedar berdiri pun, Varo tidak nemiliki tenaga.
"Yang." Teriak Varo lemah, sangking lemahnya. Teriakan Varo hanya terlihat seperti gumaman saja.
"Sayang." Panggil Varo terus. Berharap Kiren yang sedang berada diluar kamarnya mendengar teriakan Varo. Tapi, entah Kiren memang sedang pergi jauh dari kamar. Atau memang teriakan Varo yang terlalu lemah membuat Kiren tidak mendengarnya.
"Ya. Allah, mas kenapa!!" Teriak Kiren histeris melihat Varo yang terlihat duduk mengenaskan dilantai kamar mandi.
Kiren berjalan cepat kearah Varo, dan berjongkok didepan tubuh suaminya.
"Mas kenapa?"
"Aku mual. Kepala ku pun terasa pusing dan tubuhku lemas." Ucap Varo pelan dengan nada lemah. Dan mata sayu.
__ADS_1
"Apa kita perlu kedokter??" Tanya Kiren khawatir. Varo hanya mengangguk lemah. Tubuhnya terasa aneh belakangan ini, membuat dia kadang tidak fokus bekerja.
"Ayo. Aku bantu berdiri!!" Ucap Kiren memapah Varo, dan membantunya berdiri.
Setelah memeriksakan Varo kedokter keluarga, Varo disuruh membuat janji temu dengan salah satu dokter kandungan. Mengadukan keluhan-keluhan yang sering dirasa Varo akhir-akhir ini.
Berhubung belum sempat memeriksakan kandungan selama keluar dari rumah sakit waktu itu. Karna Kiren terlalu sibuk, dan selalu punya alasan setiap Varo mengajaknya cek up. Membuat Varo dan Kiren langsung membuat janji dengan dokter spesialis kandungan wanita disalah satu rumah sakit jakarta saat itu juga.
"Apa ibu mengalami morning sickness?" Tanya dokter wanita yang sedang mengusap krim jell disekitar perut Kiren. Mereka sedang cek up saat ini.
Dengan semangat Kiren menggeleng tidak. "Tapi, suami saya selama tau saya hamil. Dia sering muntah dipagi hari dok. Apa mungkin suami saya yang mengalami gejala sickness kehamilan saya?." Tanya Kiren mengingat-ingat sikap aneh suaminya belakangan ini.
Sedang Varo hanya diam mendengarkan dua wanita berbeda profesi didepannya yang sedang berbincang. Sambil menggengam sebelah tangan Kiren. Varo terus menatap kearah monitor yang terlihat menakjubkan didepannya. Menunjukkan calon bayi mereka.
"Nah, ini babynya pak, bu. Masih sangat kecil karna usia kandungan baru memasuki trismer pertama." Terang dokter sambil menunjuk monitor didepannya.
"Apa bayi kami baik-baik saja?" Tanya Varo pelan penuh haru dengan mata berkaca-kaca. Perasaannya bergejolak penuh kebahagiaan disaat melihat sebagian dirinya telah hidup didalam perut istrinya.
__ADS_1
"Sementara ini baik pak. Dan diharapkan ibu tetap selalu menjaga pola makannya. Kalau bisa ibu harus selalu mengkonsumsi makanan sehat dan bergizi agar sang baby selalu sehat. Dan jangan terlalu aktif bergerak, karna usia kandungan yang masih rentan dengan keguguran. Lebih baik ibu perbanyak istirahat. Kita bisa melakukan cek up rutin setiap satu bulan sekali. Untuk melihat pertumbuh kembangnya sijanin. Kecuali ada keluhan yang lain ya bu. Ibu bisa langsung kemari memeriksakannya." Ucap dokter berdiri dan melangkah kearah meja, disusul Varo dan Kiren yang duduk didepannya.
"Dan, untuk masalah sang ayah yang mengalami morning sickness. Itu tidak perlu khawatir. Itu biasa dialami kebanyakan calon ayah baru saat tau sang istri hamil."
"Kami sering menyebutnya dengan, sindrom caovade atau hamil simpatik. Sindrom couvade sendiri, disebabkan karna adanya dampak perubahan hormon pada pria. Meningkatnya hormon polaktin dan kortisol menyebabkan sang ayah mengalami morning sickness sama seperti ibu hamil pada umunya. Hormon ini juga, disebabkan oleh ketertarikan sang ayah kepada sang ibu yang berlebihan, menimbulkan kekhawatiran yang berlebihan. Karna faktor stres yang berlebihan.Tidak hanya itu, terkadang rasa cemburu kepada calon janin yang dianggap bisa mengambil seluruh perhatian sang istri juga menyebabkan sindrom couvade."
"Maksud dokter saya mengalami ini semua karna stres begitu?" Tanya Varo tak percaya.
"Kemungkinan bisa jadi iya, bisa tidak pak!! Gejala sindrom couvade juga sering ditimbulkan dengan keterkaitan dan kebahagiaan berlebihan yang dirasakan oleh calon ayah. Membuat sang suami begitu mencintai istrinya, dan merasakan keterkaitan yang begitu mendalam dengan sang istri yang mengalami kehamilan. Membuat sang suami bisa menjadi memiliki sindrom couvade." Jawab dokter sopan.
"Tidak seperti morning sickness pada umumnya yang terjadi pada trimester awal kehamilan. Sindrom couvade dapat dialami oleh calon ayah ketika istri memasuki trismeter awal dan akhir. Ada beberapa gejala yang dialami oleh calon ayah dengan sindrom cauvade, baik secara fisik maupun psikologis. Gangguan fisiknya, seperti mual, muntah, sakit perut, perubahan nafsu makan, kram pada kaki dan sakit punggung. Sedang psikologisnya. Seperti rasa lelah terus-menerus, depresi, gangguan tidur karna cemas, dan emosi naik turun.
"Jadi maksud dokter, suami saya bisa saja mengalami morning sickness sampai saya melahirkan?" Tanya Kiren tak percaya.
Dokter itu mengangguk sopan. "Bagaimana cara saya mengatasi semua itu dok? Apa tidak ada obat untuk mencegah sindrom ini? " Tanya Varo khawatir.
"Bapak tidak perlu cemas atau khawatir. Sindom couvage ini bisa bapak jadikan momen untuk pendekatan antara suami dan istri sebagai calon orang tua. Setelah istri melahirkan gejala sindrom couvage ini akan hilang dengan sendirinya. Dan sejauh ini, belum ada cara untuk mencegah sindrom couvage. Bapak hanya perlu tidak terlalu cemas berlebihan untuk mengurangi sedikit gejala sindrom ini."
__ADS_1
Varo hanya mengangguk mengerti. "Ada lagi yang mau ditanyakan bapak, ibu?" Tanya dokter itu sopan. Varo dan Kiren menggeleng kompak. "Baiklah kalau begitu, saya akan menuliskan resep untuk penguat janin dan vitamin ibu hamil. Nanti bapak dan ibu, bisa menebusnya di apotik terdekat."
Bersambung...