SUAMI ANTI ROMANTIS

SUAMI ANTI ROMANTIS
Obrolan pagi


__ADS_3

"Kamu yakin gak mau kedokter?" Tanya Varo untuk kesekian kalinya hari ini. Saat ini Varo sedang duduk santai disamping Kiren, lengkap dengan setelan kantornya..


Kiren yang mendapat pertanyaan sama kesekian kalinya hanya menggeleng lemah sambil bersandar dikepala ranjang.


"Wajah kamu pucet sayang."


"Aku cuman kecapean." Jawab Kiren sekenaya.


"Ini pasti karna kebanyakan nangis." Ucap Varo mengungkit masalah semalam.


Kiren langsung mendelik kesal mendengar suaminya mengungkit masalah memalukan semalam.


"Gak usah dibahas." Ketus Kiren.


Varo tersenyum tipis mendengar nada ketus istrinya. " Apa aku gak usah ngantor hari ini kali ya!!." Gumam Varo meminta persetujuan.


"Apa sih, orang aku cuman butuh istirahat aja. Setelah itu pasti juga sembuh."


"Ini kamu dirumah sendiri loh, yang. Kalau nanti kamu butuh sesuatu gimana?"


"Aku ini cuman sakit bukan stroke!!"


"Hus. Gak baik ngomong kayak gitu. Nanti kalau malaikat ada yang denger gimana?"


"Lagian mas nyebelin, orang aku aja masih bisa berdiri sama jalan kok ribet sih. Kalau aku laper, aku pasti jalan kedapur. Lagian kalau aku haus atau mau ngemil juga mas udah siapin tu." Ucap Kiren menunjuk setumpuk makanan dimeja samping tempat tidurnya dan beberapa air mineral.


Yang sengaja Varo letakan disitu, untuk berjaga-jaga katanya. Barang kali Kiren lapar dan malas untuk berjalan kedapur. Dia tinggal mengambil disamping tempat tidur.


Kiren yang awal-awalnya mendapat perhatian langka seperti itu dari suaminya merasa sangat senang. Tapi lama-kelamaan kesal juga karna suaminya berubah jadi sangat menyebalkan alias lebay.


"Apa kamu ikut mas kekantor aja. Kamu bisa tiduran diruang pribadi mas kalau mau tiduran, disitu juga lengkapkan. Gimana?"


"GAK. Aku mau tidur dirumah aja." Tolak Kiren. "Lagian kalau aku ikut, mas bukan malah kerja. Yang ada pasti nungguin aku tidur mulu." Sambung Kiren.


"Ya udah. Mas udah nelpon mama Isa, buat ngirip Artnya kesini. Dan mas juga udah nelpon mama Laras buat nemenin kamu disini."


"Mas aku cuman kecapen loh, ngapain kamu nelpon semua orang. Kamu gak sekalin nelpon mbak Hanum?" Ucap Kiren gemas.


"Udah. Tadi pagi aku nelpon bilang kedia buat nyari manager lain mulai hari ini."


"WHAT." Teriak Kiren reflek.


"Gak usah teriak-teriak. Suara kamu udah serang sayang. Lama-lama kamu bisa radang kalau kayak gitu." Nasehat Varo.


"Apa maksudnya mas ngomong sama mbak Hanum kayak gitu?" Tanya Kiren mengabaikan nasehat suaminya.


Varo hanya mengangkat bahu cuek. "Ya udah mas berangkat dulu ya." Ucap Varo mengalihkan pembicaraan. Melirik jam dipergelangan tanganya. "Mas pulang jam makan siang nanti. Ok." Ucap Varo pelan yang diakhiri dengan mengecup kening Kiren pelan.


"Kamu istirahat aja. Gak usah kedapur kalau laper. Sebentar lagi asisten mama dateng yang bakal siapin kebituhan kamu." Ucap Varo tegas.


Kiren baru akan membuka mulut, ketika bibirnya langsung ditutup oleh ciuman oleh Varo.


"Mas gak menerima PENOLAKAN." Ucap Varo mengakhiri ciumanya. Sekali lagi mengecup kening istrinya, setelah itu Varo veranjak berdiri.


"Assalamu'allaikum." Pamit Varo sambil mengacak pelan rambut Kiren.

__ADS_1


"Wa'allaikum salam." Jawab Kiren agak kesal. Suaminya benar-benar pintar dalam merusak suasana hatinya pagi ini.


...----------------...


"Ma." Panggil Kiren pada mamanya yang sedang duduk di kursi meja makan sambil melihat-lihat majalah.


Kiren duduk di kursi yang berhadapan langsung dengan Laras. Memperhatikan mamanya yang sedari tadi berdecak kagum melihat-lihat isi majalah.


Laras pagi tadi benar-benar datang setelah ditelpon Varo. Dengan panik Laras langsung meborbardir Kiren dengan banyak pertanyaan kenapa bisa sampai jatuh sakit.


Mamanya ini walau diluarnya kelihatan sangat kejam pada Kiren, tapi sesungguhnya sangat menyayanginya. Contohnya sekarang walau Kiren sudah merasa lebih baik tapi Laras sama sekali tidak meninggalkannya pulang. Malah berencana ingin menginap disini.


"Bagus-bagus ya gucinya." Tanya Laras seraya menggeleng-gelang kepala takjub.


"Buat apa sih ma. Liatin guci mulu, punya mamakan udah banyak." Ucap Kiren sambil memainkan ponselnya.


"Kan beda Ren. Yang kayak gini mama belum punya."


"Ma." Panggil Kiren sambil meletakan ponselnya, dan duduk melipat kedua tanganya diatas meja. Pandanganya lurus kearah Laras.


Laras hanya lelirik Kiren malas. "Kenapa?" Tanya Laras yang masih asik membolak-balikan majalah.


"Mama pernah beratem sama papa gak?" Tanya Kiren serius.


"Yang namanya orang berumah tangga, pasti pernah berantem lah. Semua pertengkaran dipernikahan itu adalah bumbu-bumbu rumah tangga." Jawab Laras. "Kenapa emang?" Sambung Laras sambil mengusap-usap gambar majalah seakan benda yang diusap benar berada dihadapanya.


"Berantemnya karna masalah apa?" Tanya Kiren penasaran.


"Ya banyak lah. Kiren." Ucap Laras gemas.


"Papa pernah selingkuh gak?"


"Kenapa gak berani?" Pancing Kiren.


"Papa kamu kan cinta mati sama mama." Terang Laras PD.


"Dih. Mama PD banget sih."


"Kamu tau gak. Dulu ya pas papa kamu masih muda, ada wanita cantik yang suka sama papa kamu!! Padahal papa kamu itu udah nikah lo sama mama. Tapi papa kamu itu tipe pria setia, jadi dia gak tergoda sama sekali sama perempuan itu."


"Cantikan mana sama mama?" Tanya Kiren menaik-turunkan alisnya, berniat menggoda mamanya.


"Ya mama lah. Jauh itu mah."


Kiren pangsung mencibir mendengar jawaban mamanya."Kok mama bisa tau, kalau perempuan itu suka sama papa?"


"Ya tau lah. Orang tiap hari perempuan itu nyamperin papa kamu."


"Nyamperin kerumah?" Tanya Kiren penasaran.


"Enggak. Dia nyamperinnya di tempat kerja, alasanya itu loh yang bikin mama kesel."


"Kok mama bisa tau, kalau dia suka nyamperin papa!!"


"Mama kan punya mata dimana-mana." Jawab Laras sombong.

__ADS_1


"Terus mama diam aja, pas tau perempuan itu suka nyemperin papa."


"Ya gak lah Kiren. Kita itu sabar boleh tapi bodoh jangan." Ucap Laras menutup majalah dan mengalihkan tatapanya kearah Kiren.


"Maksudnya gimana sih, Kiren belum ngerti."


"Otak kamu mana bisa naangkep yang kayak gitu." Ucap Laras meledek Kiren.


Kiren yang mendengar ledekan dari mamanya hanya mengerucutkan bibir sebal.


"Tau Gak. Kita ini wanita, kalau dirumah boleh selembut kapas. Tapi kalau diluar, kita harus bisa sejahat serigala dan sekejam singa." Tutur Laras.


Kiren hanya menggut-manggutkan kepala mengerti, walau sebenarnya otak cantiknya itu benar-benar mengerti atau tidak.


"Kenpa tiba-tiba kamu tanya kayak gini?" Tanya Laras memicingkan mata curiga.


"Gak papa. Tapi ngomong-ngomong, gimana cara mama menjauhkan perempuan itu dari papa?" Tanya Kiren penasaran.


Laras mengibas kan rambutnya sombong. "Mama kan punya seribu cara buat ngadepin para pelakor-pelakor seperti mereka." Ucap Laras bangga.


"Salah satunya?" Pancing Kiren.


"Buat mereka malu, terus gak punya muka buat ketemu papa."


"Cuman gitu doang?"


"Gak. Dulu mama juga pernah berantem sama tu perempuan. Bahkan mama buat dia sampai masuk rumah sakit waktu itu." Ucap Laras santai.


Mata Kiren membola mendengar ucapan mamanya. "Mama serius?" Tanya Kiren sedikit ragu, masa sih mamanya yang tidak pernah memukulnya bisa sampai berkelahi melawan pelakor. Masuk rumah sakit pula. Gak meyakinkan!!


"Serius. Kamu bisa tanya papa kalau gak percaya."


"Mama gak takut ditangkap polisi?" Tanya Kiren ngeri.


Laras mengedikan bahunya tidak tau. "Dipikiran mama waktu itu, cuman bagaimana caranya mempertahankan rumah tangga mama." Kata Laras sontak membuat Kiren mengangkat tangannya mendadak heboh. Mendengar kata-kata mamanya. Kiren sontak menjadi sangat antusias.


"Waktu itu juga, karna mama sudah kehabisan batas kesabaran. Melihat wanita itu yang gencar mendekati papamu. Mama hajar aja dia sampai babak belur." Ucap Laras dengan santainya.


"Ibu Laras panutanku." Teriak Kiren sambil bertepuk tangan heboh.


"Mama ngajarnya sama siapa?" Tanya Kiren penasaran.


"Sendiri lah. Mama kan anak karate dulu."


"Anjay..... Emak gue nak gahol." Seru Kiren heboh bahkan dia sampai memukul-mukul meja karna gemas. Membuat Laras menggeleng-gelengkan kepala tak habis pikir. Kiren sakit saja bisa seperti ini, apa lagi kalau sembuh. Bisa hancur meja makan ini dibuatnya.


"Terus-terus ma? Dia kapok gak?" Tanya Kiren.


"Ya kapok lah Kiren. Apa lagi kan dia jadi tau kalau mama ini bukan tandinganya. Bersyukur waktu itu cuman mama buat masuk rumah sakit, kalau sampai masuk kuburan gimana." Jawab Laras.


"Ihhh kok serem sih ma."


"Kalau gak gitu para pelakor pasti jadi


semakin menjadi-jadi. Kita harus tegas sama mereka. Mempertahankan milik kita kan gak salah." Ucap Laras. "Kita harus tunjukan. Apapun yang sudah menjadi milik kita, gak akan mudah mereka rebut. Apalagi ini bukan cuman benda, tapi papa kamu menyangkut masa depan kita." Sambung Laras tegas.

__ADS_1


Kiren mendadak diam mencerna ucapan mamanya. Haruskah dia juga bersikap begitu pada suaminya, Varo dan pernikahanya.


Bersambung......


__ADS_2