
Rindu, apa disini hanya aku yg merasakan.
Apa disini cuman aku yg tau bagaimana cara nya menahanya.
Apa kamu tidak merasak rindu seperti yg aku rasakan.
Gadis dengan surai panjang sepunggung berjalan santai memasuki gedung caffe yang masih terlihat sepi. Maklum jam masih menunjukan pukul 8 pagi, caffe masih bersiap-siap untuk buka. Karna caffe akan bukan pukul 9 pagi. Masih ada waktu 1 jam untuk semua pegawai bersiap-siap.
Dua bulan berlalu dan kini Kiren menikmati waktunya seperti biasa. Pagi ini wajah Kiren terlihat murung, sudah 2 minggu Varo ada diluar kota untuk perjalanan bisnis. Kiren menjalani hari-harinya seperti biasa menyibukan diri dengan pekerjaan agar sedikit melupakan suami tampanya. Walau sebenarnya Kiren mulai merindukan suara dingin Varo.
Dua minggu ditinggal Varo Kiren merasa kesepian. Walau mereka baru dekat tapi Kiren mulai sedikit terbiasa dengan suaminya. Meski tidak berinteraksi seperti pasangan lain, karna suaminya yang minim expresi. Setidaknya ada sedikit hal-hal manis yang sering Varo lakukan untuknya. Seperti mangantar Kiren ke caffe, menunggu Kiren pulang, tidur berpelukan. Dan Kiren merindukan semua itu.
Walau, terkadang selesai bekerja dan istirahat dirumah Kiren menyempatkan diri menghubungi Varo. Kiren bersyukur setidaknya suaminya itu masing menyempatkan diri meladeni Kiren. Sesibuk apa pun suaminya tapi setiap kali Kiren menghubunginya Varo selalu menyempatkan diri untuk mengangkat tellonya, atau membalas chat yan Kiren kirim padanya.
Jangan tanya selama Varo keluar kota apakah pernah menghubungi Kiren atau tidak. Dan jawabanya adalah tidak. Varo tidak pernah sekali pun menghubungi Kiren. Jika mengharapkan Varo akan menghubungi Kiren lebih dulu sama saja seperti mengharapkan hujan turun di gurun pasir. Benar-benar langka.
Sekarang saja contohnya, dari kemarin Kiren sibuk terus di caffe dan belum sempat menghubungi Varo. Maka Varo tidak pernah ada inisiatif menghubungi Kiren lebih dulu. Keren sampai heran suaminya itu apa tidak merindukan Kiren. Huuuuuftt.
"Pagi Ren. Tumben loyo banget, kenapa?" Tegur Yuli yang sedang merapikan meja saat Kiren membuka pintu masuk caffe.
Kiren tersenyum malas. "Pagi Yul, iya nih gue sibuk banget dari kemarin jadi belum sempet minum vitamin."
Mata Yuli melebar sempurna. "Loe sekarang sering minum vitamin? Kok gue baru tau ya kalau lo sering minum vitamin!!"
Kiren hanya mengangkat bahu cuek menjawab Yuli. "Emang loe siapa, sampai gue harus laporan kalau gue mau ngapa-ngapain. Teman bukan, mama bukan, Apalagi pasangan." Ketus Kiren.
__ADS_1
"Najis." Kesal Yuli.
"Emang yang loe minum vitamin apa sih?" Tanya Yuli penasaran.
Vitamin suara ples wajah laki gue lah.
Dengan wajah serius Kiren menjawab." Loe penasaran ya?."
"Gue serius. Pea!!"
Kiren melirik ke sekelilingnya lalu mengisyaratkan Yuli mendekat. Yuli sendiri langsung menurut mendekat kearah Kiren sangking penasaranya.
"KEPO." Bisik Kiren yang langsung membuat wajah Yuli meregut kesal karna berhasil dikerjain Kiren.
Tawa Keren pecah melihat wajah kesal Yuli. Setelah puas mengerjai Yuli Kiren berjalan kearah ruanganya. Sepertinya menghubungi suaminya tidak lah buruk.
"Hallo." Suara dalam dan lembut itu terasa enak didengar telinga Kiren.
Tukan jadi makin kangen.....
"Hallo mas."
"Iya, kenapa Ren?"
His kok kenapa sih, dari kemarin gak hubungi sekalinya nelpon langsung ditanya kenapa? Suaminya ini ngajak ribut kayaknya.
__ADS_1
"Gak papa. Mas lagi apa?" Tanya Kiren kalem dan manis sengaja melembut-lembutkan suaranya agar Varo tidak berfikir jika Kiren merindukan suaranya setengah hidup.
Lama Varo tidak menjawab, Kiren yang menunggu jawaban Varo mengerjab bingung. Suaminya tumben menjawab pertanyaan Kiren lama, terlihat sedang berfikir.
"Lagi dijalan ini, mau survei lokasi." Cawab Varo pelan. Karna terlalu pelan seperti sedang berbisik.
"Kak.." Kening Kiren mengkerut samar.
Suara cewek kan ya itu.
"Ren nanti lagi aku hubungi ya lagi sibuk soalnya." Ucap Varo panik.
Tanpa menunggu persetujuan Kiren Varo langsung mematikan telpon. Semua itu semakin membuat Kiren merasa aneh. Suaminya beneran lagi survei lokasi kan ya, tapi kenapa perasaan Kiren jadi gak enak.
Mungkin aja itu sekertarisnya.
Tapi sekertaris Varo kan manggilnya bapak. Apa jangan-jangan.
Pertanyaan-pertanyaan negatif mulai berkeliaran di otak cantik Kiren.
Bagaimana jika Varo berbohong?
Bagaimana jika ternyata Varo sedang bersama dengan wanita disana?
Kenapa tadi Varo terlihat sedikit panik dan buru-buru mematikan telpon?
__ADS_1
Itulah pertanyaan-pertanyaan yg sekarang hilir mudik di fikiran Kiren, dan sampai sekarang pertanyaan itu terasa mengganggu Kiren. Apa dia harus percaya pada suaminya yang terlihat aneh hari ini.
Bersambung...