SUAMI ANTI ROMANTIS

SUAMI ANTI ROMANTIS
Cemburu.


__ADS_3

Kiren terus melangkah mengikuti langkah Varo. Suaminya itu tidak melepaskan tangan Kiren sepanjang jalan menuju dermaga.


Sepanjang jalan pun Varo sama sekali tidak mengajak Kiren berbicara. Seakan-akan suami Kiren itu terlihat sangat menikmati perjalananya.


Apa masih jauh..


"Apa tempatnya masih jauh?" Tanya Kiren penasaran.


Suaminya itu kalau bukan Kiren yang mengajak berbicara sudah pasti dia tidak akan membuka mulut. Boro-boro buka mulut narik bibirnya buat senyum aja pelitnya Nauzubillah.


"Kenapa? Kamu capek?" Tanya balik Varo.


Kapan sih paksu kalau ditanya gak balik nanya.


"Iya." Jawab Kiren kesel.


Sedari tadi mulutnya sudah gatal ingin berbicara, tapi memang suaminya ini gak pernah peka membuat Kiren harus rajin-rajin mengelus dada. Sabar.


"Sebentar lagi." Singkat padat itu lah Varo.


Kalau sampai Kiren bertanya, terus Varo bisa menjawab lebih dari lima kata. Itu adalah suatu keajaiban dari tuhan untuk Kiren. Mukzijat lah intinya.


Dan bisa dipastikan semua itu hanya akan menjadi angan-angan Kiren. "Sebentar laginya kapan?" Rengek Keren.


Biasanya kan cowok paling seneng kalau denger ceweknya ngerengek-ngerengek manja. Kali aja Varo juga gitu.


Varo yang mendengar rengekan Kiren langsung menoleh. "Kamu salah makan?"


"Makan?" Tanya Kiren. "Maksudnya?" Sambung Kiren tak mengerti.


Varo cuman mengangkat bahu cuek menjawab pertanyaan Kiren. Terlalu malas berbicara panjang lebar apa lagi harus menjelaskan.


Nah kan suami Kiren beda. Istrinya ngerengek capek dibilang salah makan, apa lagi ngerengek minta gendong bisa ditinggal dia. Mau gandeng tangan Kiren aja udah syukur, lah ini masih ngerengek capek berharap biar digendong. Tidur dulu yuk Ren biar mimpi.


"Orang dari tadi belum juga makan." Keluh Kiren.


Bohong. Kiren berbohong, lah tadi yang makan di mall sambil belanja sama Hanum siapa. Jin jelmaan Kiren.


Varo berhenti berjalan sambil menoleh ke arah Kiren. "Kamu belum makan?"


Denga wajah dibuat senelangsa mungkin Kiren menggeleng dramatis. Biar mendalamin peran gitu.

__ADS_1


Varo memandang wajah Kiren lekat menimbang-nimbang apa yang akan dia katakan setelah ini.


Kiren yang dipandang lekat oleh suaminya langsung menggaruk tekuk lehernya yang tidak gatal. Grogi Coy....


Yes kayaknya gue bakal di gendong nih sama Varo. Gak mungkin tega kan Varo biarin istrinya jalan kaki sambil nahan perut-


"Ya udah kita balik ke hotel." Putus Varo akhirnya.


Kiren yang mendengar keputusan Varo malah mendengus kesal. Dasar gak peka-gak peka-gak peka. Aaaaaa.


Dengan perasaan dongkol luar biasa Kiren melepas tangan Varo kasar. Berjalan lebih dulu kearah depan. Dermaganya cuman lurus kan ya, gue takut salah lagi. Kan malu kalau sampai Varo tau gue salah tujuan lagi. Mama tolong Kiren.


"Ren." Panggil Varo mengejar Kiren.


Bingung sama jalan pikiran Kiren ya mas Varo. Kamu sih gak peka...Plakkkkk Author diam gak usah bela Kiren.😢😭😭


"Kamu marah?"


"GAK."


"Kamu marah ya?"


Kiren terus berjalan kearah depan mengabaikan Varo yang sudah seperti anak unggas mengikuti induknya, ngekor terus dibelakang Keren.


"Ren."


Belajar dari pengalaman Ren, kalau dipanggil nengok jangan jalan terus giliran salah aja- Plakkkkk... Author bisa diam gak? 😩😩🙊


"APA?" Bentak Kiren galak.


"Langitnya mendung. Mau balik ke hotel aja gak?" Tawar Varo dengan suara halus.


Tukan giliran gue marah ngomong nya halus, pakek senyum-senyum lagi tau banget kalau gue lemah dalam hal yang satu itu. Batin Kiren.


"Kamu. Kalau mau balik pergi sana, susulin selingkuhan kamu itu." Ketus Kiren bersedekap menghadap kearah laut lepas yang kelihatan mulai pasang.


"Selingkuhan? Emang aku punya selingkuhan?" Tanya Varo mengangkat sebelah alisnya.


"Jihan selingkuhan kamu kan?" Sinis Kiren.


"Kamu cemburu?"

__ADS_1


"GAK."


"Iya." Ucap Varo kalem.


"Siapa bilang aku cemburu!!" Sembur Kiren kesal.


"Terus sekarang marah kenapa?"


Dosa gak sih nenggelemin orang dilaut. Gue lagi pengen nenggelemin Varo nih.


"Tau ah." Dumel Kiren berbalik melangkah kearah hotel.


Lama-lama bersama Varo, Kiren takut Khilaf.


Varo mengikuti Keren dalam diam, tidak berkomentar lagi. Takut-takut membuat mood istrinya semakin buruk.


Sesampainya dihotel Kiren melangkah kearah meja tempat Hanum duduk. Bersyukur Hanum masih duduk diam disana, dengan gedget ditanganya dan beberapa makanan dimejanya.


Mengerutkan kening bingung. Hanum menatap Kiren penuh dengan tanda tanya ketika melihat wajah masam adik iparnya. Ditambah ada Varo yang mengekor Kiren dibelakang gadis itu.


Bukan nya udah ketemu suaminya kenapa cembetut itu muka. Batin Hanum.


"Kenapa loe?" Tanya Hanum penasaran.


Kiren hanya diam tidak mau repot-repot menjawab, dia malah menarik kursi didepan kakak iparnya dan duduk dengan malas.


"Kenapa dia?" Tanya Hanum menunjuk Kiren dengan dagunya, begitu Varo sudah berdiri disampingnya.


"Cemburu."


"Aku gak cemburu!!" Protes Kiren.


Varo hanya terkekeh pelan mendengar protes Kiren. Merasa lucu dengan istri cantiknya itu.


"Cemburu kenapa sih?" Tanya Hanum mengabaikan dengusan keras Kiren.


Varo mengangkat bahu cuek. "Kita kekamar." Ajak Varo menarik pelan tangan Kiren.


Mendengar Varo mengajak Kiren kekamar membuat Hanum bersiul kuat untuk menggoda pasangan baru itu.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2