
Kiren meletakan kepalanya diatas meja kerjanya, dengan posisi miring bertumpu diatas telapak tanganya. Memandang nanar gadget yang ada didepanya. Seharian ini ponsel Varo tidak bisa dihubungi.
Kiren terakhir menghubunginya kemarin pagi, itu pun hanya sebentar. Padahal semalaman Kiren menunggu-nunggu, berharap Varo akan menghubunginya seperti janji pria itu sebelum menutup telepon kemarin. Bahkan, Kiren sampai ketiduran menunggunya semalaman. Saat bangun pagi pun,? tidak ada satu pesan atau telepon yang berasal dari Varo. Nyesek Rek..
Apa Varo baik-baik saja..
Apa Varo makan dengan benar..
Varo gak lagi sakitkan ya....
Kok Varo gak kangen gue sih...
Giaman kalau Varo lagi sakit, terus gak ada yang ngurusin...Duh kankasian..
Semua pikiran-pikiran buruk berkeliaran di kepala cantik Kiren. Bahkan, Kiren berulang kali menarik nafas dan mengeluarkanya untuk mereda perasaan aneh didadanya. Entah khawatir atau rindu Kiren sendiri juga tidak tau.
Bener kata Dillan kangen itu berat.. Bahkan lebih berat dari beban hidup gue.. Pantes Varo kagak kangen gue, orang kangen itu berat...
"Ren..." Panggil Hanum di depan pintu masuk ruangan Kiren.
Seharian ini Hanum mencari-cari Kiren, tapi batang hidungnya sama sekali tidak kelihatan.
Tumben banget ni orang ngengkrem di ruangan. Pikir Hanum.
Kiren hanya meliriknya sekilas tanpa mau repot-repot memandang kakak iparnya itu lebih lama. Moodnya hari ini lagi anjlok plus tiarap, jadi Kiren lagi malas meladeni sifat sters Hanum.
Hanum melangkah mendekat kearah Kiren. "Kenapa loe?" Tanya Hanum heran.
Pasalnya Kiren yang dia kenal tidak pernah bad mood, loyo, letoy, galau dan ngenes kayak sekarang. Melihat Kiren yang seperti ini membuat Hanum merasa aneh.
Langka loh ini, Kiren bisa anteng, ayem tentrem begini. Jangan-janangan lagi bokek ni orang.
Kiren diam tidak menjawab.
"Woy. Kiren." Panggil Hanum sambil menoel-noel pipi Kiren.
"Kenapa sih mbak?" Ucap Kiren sambil menyingkirkan tangan Hanum dari pipinya dengan kesal.
Kesel ihh ganggu aja, gak tau apa gue lagi bete, galauu, gegana karna mala rindu yang melanda. Uhhh.
"Alhamdulillah. Gue kira loe ketempelan jin ruangan ini." Ucap Hanum.
__ADS_1
"Berisik loe mbak. Sono ah keluar. Gue lagi malas liat muka loe..." Usir Kiren pada Hanum menggunakan tanganya.
"Yeee. Ditanyain juga malah sewot." Ucap Henum. "Kenapa sih loe Ren. Galau loe. Perasaan hari ini loe kayak gak ada gairah-gairah hidup!! Tau gak!!"
"Enggak." Ketus Kiren.
Udah tau lagi galau pakek nanya lagi.
"Kampret lo. Gue serius juga."
"Dah ah. Mood gue langsung tiarap denger suara lo mbak."
"Najis. Gini-gini suara gue kayak Luna Maya kali."
"Luna Maya. Luna Maya.!! Lucita Luna kali yang ada." Cibir Kiren.
"Lo kira gue laki jadi-jadian. Gue cewek tulen kali. Gak liat muka gue kinclong begini." Ucap Hanum ketus.
"Muka kayak parutan kepala aja sombong." Celetuk Kiren asal.
"Mata loe katarak. Muka udah kelas artis dibilang kayak parutan kelapa."
Kiren terbahak mendengar ucapan Hanum.
Kiren lngsung mencibir Hanum kuat begitu tau jika Hanum mulai kesal. Hanum yang mendapat cibiran Kiren hanya diam, tidak membalas. Jika Hanum balas bisa-bisa mereka akan berdebat sampai besok.
Akhirnya, hanya keheningan yang menyelimuti mereka. Sampai akhirnya Kiren kembali keposisi semula. Galau...
"Ren."
"Hmmmm."
"Sakit loe, gih pulang kalau loe sakit." Suruh Hanum menepuk punggung Kiren pelan.
Kiren hanya diam tidak menjawab. Sambil terus memperhatikan ponselnya, Hanum mendesah panjang melihat respon Kiren yang hanya diam. "Loe lagi ada masalah? Jangan-jangan loe lagi berantem......Lagi sama Varo?" Tuduh Hanum memicingkan mata curiga.
Kiren mendesis pelan melirik Hanum penuh protes. "Gimana mau berantem kalau komunikasi aja jarang."
"Ooooooo..Jadi ceritanya loe lagi kangen ni ma adek gue." Ucap Hanum menggoda Kiren dengan menaik turun kan alisnya.
Kiren melirik Hanum malas. "Lama-lama gue lakban juga itu mulut loe mbak." Ketus Kiren.
__ADS_1
Mendengar nada ketus Kiren Hanum langsung diam. Hanum melihat Kiren lama. Teman sekaligus adik iparnya ini sudah terlihat seperti zombi. Ada lingkaran hitam disekitar wajahnya, bahkan make up tipis Kiren tidak terlihat, tertutup oleh wajah kusutnya.
Atau memang Kiren hari ini tidak menggunakan make up. Wajah lelahnya sangat ketara, raut wajahnya juga terlihat redup tidak secerah biasanya. Sepertinya, adiknya, Varo berhasil membuat Kiren melupakan kebiasaanya, yaitu tetap terlihat modis dan fres. Buktinya sekarang Kiren terlihat awut-awutan dan loyo.
"Loe gak ada keniatan buat nyusulin Varo?" Tanya Hanum.
"Loe kira dia disana lagi liburan. Disusulin!!"
"Ya Elah. Gak masalah kali. Gue aja sering susulin mas Adam keluar negeri kalau lagi perjalanan bisnis. Dia malah bahagia banget kalau gue susulin, mana kita jadi bisa cinta-cintaan lagi." Cerita Hanum.
Kiren diam nampak berfikir.
Apa yang bakal gue bilang ke Varo kalau gue nyusulin dia. Dia bakal mikir gue lebay gak sih. Tapi kan gue kangen, lagian janjinya dua minggu kenapa jadi lebih sih. Keselll ihh.
"Gimana? Loe mau nyusul?"
"Tapi kan gue gak tau dia dimana?" Bisik Kiren pelan.
"Elah gampang itu mah." Ucap Hanum sambil mengibaskan sebelah tanganya.
"Sekalian kita hanymoon disana!!" Sambung Hanum semangat.
"Kita?" Tanya Kiren bingung.
"Ya iyalah kita, siapa lagi." Jawab Hanum. "Yuk siap-siap." Sambung Hanum semangat.
"Sekarang mbak?" Tanya Kiren ragu.
"Tahun depan. Ya iya lah sekarang, Kiren!!" Ucap Hanum gemas.
"Tapi kan-"
Hanum langsung memotong ucapan Kiren, dengan menggoyang-goyangkan jari telunjuknya didepan wajah. "Eit loe gak boleh protes. Dan, loe tenang aja.....Serahin semuanya ke gue. Dan, loe cukup diam, liat dan nikmati hasilnya." Ucap Hanum.
"Terus kerjaan gue gimana dong. Gak enak kali mbak.....Masa gue ijin terus."
"Loe pergi kan sama bos." Ucap Hanum menepuk dadanya bangga. "Jadi loe gak perlu ijin, anggep aja kita kerja sambil liburan. Itung-itung kado pernikahan loe dari gue."
"Emang bisa gitu?"
"Ya bisalah. Apa sih yang gak bisa Hanum Aindira Pradipta lakukan." Ucap Hanum bangga.
__ADS_1
Bersambung