
Kiren melangkah masuk ke cafe bersama Varo disampingnya. Setelah perdebatan alot semalam dengan suaminya, akhirnya Kiren setuju untuk mengundurkan diri pagi ini demi kandungannya. Calon bayi mereka.
SUPRISE.........
Teriak heboh seluruh seisi cafe, Kiren yang baru sampai pintu sampai melongo tak percaya dibuatnya.
Saat ini seluruh ruangan cafe telah dirubah menjadi seperti ruang pesta yang luar biasa indah. Banyaknya balon-balon yang diikat disudut-sudut dinding yang berwarna putih dan biru. Ada banyak bunga tulip putih yang melingkar di sekeliling tiang-tiang cafe. Tidak ketinggalan, ada banyak hiasan-hiasan kerlap-kerlip di langit-langit cafe. Membuat cafe nampak seperti ruangan pesta yang elegant berkombinasi dengan sentuhan sedikit manis.
Hanum langsung menubruk tubuh Kiren didepan pintu sampai Kiren mundur beberapa langkah. Membuat Varo yang berdiri disamping Kiren langsung menahan punggungnya menggunakan sebelah tanganya. Takut jika Kiren akan jatuh kebelakang.
"Siapa yang ulang tahun mbak?" Tanya Kiren heran setelah melepas pelukannya.
"Loe gak inget kalau hari ini ualng tahun loe?" Tanya Hanum ringan dengan senyum bahagia dibibir nya.
"Hari ini ulang tahun Kiren?" Tanya Varo yang berdiri disamping Kiren.
Hanum langsung memandang Varo tajam. "Jangan bilang kamu gak tau kalau istri kamu ulang tahun?" Tanya Hanum curiga.
"Dia gak bilang apa-apa, pagi ini!!" Jawab Varo pelan mencoba menghindar.
"Mas gak tau kalau hari ini aku ulang tahun?." Ganti Kiren yang bertanya dengan nada tak percaya.
"Kamu gak bilang. Mas kan gak tau." Jawab Varo enteng.
Mata Kiren langsung melotot tak percaya kearah Varo, begitu mendengar jawaban enteng suaminya. "Jangan bilang mas gak tau hari ulang tahun aku!!" Tuduh Kiren pada Varo.
__ADS_1
Varo menelan ludah gugup. Melihat seluruh pasang mata memandang kearahnya. Membuat dia seperti tersangka pembunuhan yang tertangkap basah saat ini. Membuat perasaan tak nyaman dalam dirinya. "It----itu sebenernya mas..."
"Jadi beneran, kamu gak tau tanggal ulang tahun istri kamu?" Tanya Hanum histeris yang langsung membuat seluruh pasang mata di ruangan benar-benar memusatkan pandangannya kearah Varo.
Kiren yang mendengar teriakan heboh Hanum hanya bisa memijit kepalanya pelan karna mulai terasa nyeri. Belum lagi, ketika melirik orang-orang didepannya yang memandang kearah mereka dengan pandangan penasaran dan kepo, membuat kepala Kiren semakin ingin pecah dibuatnya.
Mereka mana ada yang tau, kalau Kiren sudah menikah dengan Varo. Kalau sudah begini, Kiren bisa apa sekarang, selain jujur dengan pernikahannya. Niatnya hari ini mau mengundurkan diri, dan kabur menghilangkan jejak, gagal sudah sekarang!! Karna Kiren yakin, setelah ini, orang-orang kepo seperti Yuli pasti tidak akan membiarkan dirinya kabur dengan mudah. Sebelum mereka bisa mendapatkan apa yang mereka mau.
"Sayang.... Itu... Aku...." Ucap Varo belepotan karna gugup.
Hanum yang melihat adiknya mulai gugup tersenyum senang dalam hati.
Mati loe bocah tengik...Gue yakin, habis ini loe bakal puasa setahun...Teriak hati kecil Hanum senang.
"APA???" Tanya Kiren galak.
"Kamu gak kasih tau mas pagi ini.... Jadi mas lupa sayang..." Cicit Varo pelan.
Hanum yang melihat Varo yang pucat pasih karna takut Kiren marah, terkikik pelan. Pemandangan yang langka. Batinya.
"Kamu lupa atau gak tau?" Tanya Kiren memicingkan mata curiga.
"Itu..... Mas..."
"Jujur." Potong Kiren gemas.
__ADS_1
"Gak tau." Cicit Varo pelan memilih jujur. Saat ini Varo sudah benar-benar seperti maling yang tertangkap basah karna habis mencuri dan sudah siap dihakimi.
"Wah parah kamu.... Giliran sama mantan aja.... Ulang tahunya disiapain jauh-jauh hari.... Giliran istri.... Kamu gak tau..." Ucap Hanum mengompor-ngompori.
"Kalau gue jadi loe Ren... Udah gue gites-gites tu si Varo... Punya laki gini amat sama bini." Sambung Hanum semakin menjadi-jadi.
Varo yang mendengar komporan dari kakaknya langsung menatap tajam Hanum. Jika tatapan tajam Varo itu bisa menguliti orang, mungkin saat ini Hanum itu sudah tercabik-cabik karna tatapan tajam Varo.
"Kak." Tegur Varo kesal.
Hanum yang mendengar teguran Varo langsung mengalihkan pandangannya kearah Varo. "Apa?" Tanya Hanum dengan polosnya. Lengkap dengan mata yang berkedip-kedip memandang Varo lucu.
Sedang Kiren yang mendengar setiap ucapan kompor Hanum langsung memejamkan mata kesal. Otaknya langsung membayangkan pada saat Varo dan Citra merayakan ulang dengan sangat romantis. Mereka terlihat sangat bahagia saat makan malam bersama, atau mereka akan nonton bioskop berdua dengan bergandengan tangan. Memilih kado spesial sesuai keinginan Citra. Dengan Varo yang terlihat begitu sabar menghadapi celoteh Citra, tiba-tiba mebuat Kiren kesal bukan main.
Tukan..... Jadi pengen....
"Sayang." Panggil Varo menyentuh bahu Kiren. Hatinya sudah was-was saat ini. Takut-takut jika Kiren termakan oleh ucapan kakaknya, membuat Varo semakin dilanda rasa panik. Jangan sampai Kiren marah.
Jujur Varo sebenarnya tidak begitu tau bagaimana cara membujuk wanita kalau sedang marah. Karna selama Varo berpacaran dengan Citra, jika dia marah. Varo hanya perlu memberikannya uang belanja agar Citra bisa berbelanja sepuasnya, setelah itu Citra pasti langsung luluh lagi.
Sedang istrinya, apa yang harus Varo lakukan pada istrinya ini. Kiren kan tidak hoby belanja. Mana mungkin mau luluh kalau cuman dikasih uang belanja. Haruskah Varo menariknya keatas ranjang dan mereka bercinta sepuasnya. Ohhhh, kenapa selama Kiren hamil pikiran Varo tidak pernah jauh-jauh dari atas ranjang sih.
"Haruskah kita pulang sekarang?" Tanya Varo menatap manik mata Kiren lurus dengan nada serius.
"Gak. Kamu aja kalau mau pulang..... Pulang aja sendiri..." Ketus Kiren.
__ADS_1
Bersambung....