SUAMI ANTI ROMANTIS

SUAMI ANTI ROMANTIS
Perhatian


__ADS_3

Kiren menggeliat dalam tidurnya. Cahaya mentari pagi sedikit mengusik tidur nyenyaknya. Pelan-pelan mata dengan bulu lentiknya terbuka sempurna.


Mengedarkan pandanganya, Kiren mengernyit bingung ketika mendapati dirinya diruangan yang tampak asing.


Gue dimana?


"Sudah bangun?" Tanya Varo.


Kiren menoleh kesumber suara. Disana, disofa depan lemari buku Varo sedang duduk santai dengan buku super tebal diatas pangkuanya.


Melihat suaminya yang sudah segar, plus tampan, Kiren baru ingat jika dia kemarin mengikuti ide Hanum untuk menyusul Varo ke kalimantan.


Yes hanymoon gue, gue jadi bisa produksi anak entar sama paksu. Eh


Semalam selesai mandi Kiren tidak mendapati suaminya dimana pun alhasil dia pun membaring kan tubuhnya ditempat tidur sembari menunggu suaminya. Tapi setelah itu Kiren tidak ingat apa yang terjadi, karna tubuhnya yang terasa lelah. Kiren yakin jika dirinya pasti tertidur saat menunggu Varo.


"Ingin sarapan dulu atau mandi dulu?" Tanya Varo yang berjalan kearah Kiren.


"Sarapan dulu boleh? Aku udah laper soalnya." Jawab Kiren sedikit malu-malu.


Heleh biasanya juga malu-maluin Ren.


"Gimana gak laper kamu dari semalam belum makan. Mau sarapan apa?" Tanya Varo lagi sambil duduk diujung ranjang disamping Kiren.


"Nasi goreng." Jawab Kiren.


Setelah mendengar jawaban Kiren, Varo langsung sibuk berbicara dengan telpon di meja naska disamping tempat tidur.


Kiren hanya diam memperhatikan suaminya. Yang sedang sibuk berbicara lewat telpon. Suami nya bahkan sudah tampan dengan kaos panjang ditarik sampai siku dan celana trening panjag. Sedang dirinya, boro-boro mandi nyuci muka aja belum.


Selesai memesan makanan Varo memandang Kiren intens. Kiren yang mendapat tatapan intens dari suaminya cuman menelan ludah gugup.


Kok paksu mandangnya gitu banget sih. Apa aura kecantikan gue keluar lagi. Kan soalnya cewek kalau bangun tidur aura cantik nya keluar. Dih bener ini terpesona kayanya dia. Du du du kan jadi pengen nyender elus-elus dada Varo.


"Auuu..." Teriak Kiren meringis, setelah Varo menyentil keningnya.


Kiren mengusap keningnya pelan. "Apa sih main pukul-pukul." Ucap Kiren ketus.


"Hilangkan pikiran konyol yang ada di otak kamu. Dan jangan lebay aku nyentil gak mukul."


"Seneng banget KDRT." Dumel Kiren.


"Aku denger Kiren."

__ADS_1


Bodo.


Varo sedikit merasa lega begitu melihatwajah kesal istrinya, istrinya kembali seperti semula, bawel dan lucu. Semalaman Varo hampir tidak bisa tidur nyenyak ketika memikirkan sikap Kiren yang sedikit aneh. Beruntung sekarang istrinya telah kembali.


Suara pintu diketuk membuat Varo beranjak dari duduknya.


Kiren memperhatikan Varo yang beranjak dari duduknya setelah mendengar pintu kamar mereka diketuk. Suaminya itu terlihat cuek dan dingin ketika menyuruh para pelayan membawa masuk pesanan mereka. Apa suaminya semenyeramkan itu, kenapa para pelayan terlihat takut dan gemetaran.


"Terimakasih." Ucap Kiren pada pelayan yang mendorong troli pesananya kesamping tempat tidur Kiren. Para pelayang yang mendengar nada ramah istri bosnya hanya menunduk hormat dengan senyum canggung.


Setelah para pelayan pergi.


Mata Kiren langsung berbinar bahagia begitu melihat nasi goreng pesananya sudah ada didepan mata.


Turun dari kasur tak sabaran, Kiren langsung akan menarik piring ketika mendengar suara bas Varo. "Kamu gak mau cuci tangan dulu?" Tanya Varo.


"Boleh nanti habis makan aja gak?" Tanya Kiren memelas.


Bukan apa-apa perut Kiren sudah meronta-ronta begitu indra penciumanya mencium aroma nasi goreng yang menghiurkan didepan matanya.


"Jorok." Ucap Varo sadis. "Sana cuci tangan dulu sekalian cuci muka." Sambung Varo enteng.


Dengan perasaan dongkol Kiren melangkah secepat yang dia bisa kearah kamar mandi. Dengan kaki dihentak-hetakan Kiren terus mendumel kesal di sepanjang langkahnya.


...----------------...


Kiren berjalan dengan langkah lebih ringan keluar dari kamar hotel pagi ini. Hari ini dia nampak cantik dengan balutan dres berwarna pastel pink pendek tanpa lengan yang panjangnya selutut, dengan aksen kerah berdiri dan hiasan lipatan-lipatan kecil dibagian dada Kiren nampak modis dan cantik, tidak lupa Kiren juga mengenakan blejer rajut berwarna putih. Benar-benar simple. Kiren nampak feminim dan manis bukan.


Sedang Varo, dia nampak rapi dengan stelan kerja, kemeja putih panjang lengkap dengan celana bahan hitam, tidak lupa dengan jas yang warnanya senada dengan celananya. Varo hanya berjalan dibelakang Kiren, memperhatikan istrinya yang nampak bahagia hari ini.


Padahal Kiren hanya akan ikut Varo miting, dan mengecek beberapa lokasi survei. Tapi istrinya itu nampak sangat bahagia seperti mereka akan liburan keluar negeri saja.


Karna terlalu semangat, Kiren sampai berjalan kurang hati-hati. Hampir saja Kiren menabrak seorang pelayan yang berjalan dari arah yang berlawanan dengan mereka, pelayan itu terlihat sedang berjalan terburi-buru.


Hingga saat berada di lorong hotel dia hampir menabrak istri bosnya kalau saja Varo tidak menarik pinggang Keren mundur. Hingga Kiren menabrak tubuh depan Varo, Kiren nampak kaget dan syok belum lagi hels yang dia gunakan juga tidak bisa menahan berat tubuhnya. Berakhir Kiren hampir jatuh mencium lantai kalau Varo tidak menariknya lebih dalam masuk kepelukan pria itu.


Pelayang yang hampir menabrak Kiren pun tak kalah terkejut dengan tabrakan tak sengaja itu, bahkan wajahnya lngsung putih pucat begitu tau jika yang hampir dia tabrak adalah istri bosnya. Tatapan bosnya terlihat dingin dan menakutkan.


Dengan badan gemetar dia berulang kali membungkuk hormat, sambil terus mengucapkan kata maaf dari bibir pucatnya.


"Apa kau tidak punya mata?" Ucap Varo dingin. Varo tidak membentak atau berbicara dengan nada tinggi tapi ucapanya sarat akan sebuah ancaman.


Kiren yang masih belum sepenuhnya sadar dari keterkejutanya, hanya mengedipkan matanya berulang kali.

__ADS_1


"Ma-maaf kan saya tuan. Saya tidak sengaja, saya berjanji tidak akan mengulanginya lagi." Ucap pelayang itu sambil berulang kali membungkuk.


"Tidak sengaja kamu bilang." Tanya Varo berbahaya.


"Tuan, saya mohon jangan pecat saya tuan. Saya mohon maaf."


Varo hanya mendengus kuat mendengar ucapan pelayan itu.


"Mas." Panggil Kiren meminta perhatian suaminya setelah kesadaranya kembali.


"Aku gak papa. Lagian ini salah aku juga aku gak fokus sama langkah ku."


"Kamu belain dia?" Tunjuk Varo pada pelayan yang sudah hampir menangis didepanya.


"Nyonya saya mohon maaf. Tolong maaf kan saya!!" Ucap pelayang kepada Kiren.


"Iya. Iya. Udah mas gak papa, saya juga salah tadi. Udah gak papa mas lanjutin aja jalan nya." Ucap Kiren menyuruh pelayan itu pergi, tidak ingin membuat suaminya tambah marah jika berlama-lama berhadapan dengan pelayan itu. Kan kalau sampai di pecat kan kasian.


"Kiren." Panggil Varo semakin dingin.


"Mas udah ah, tadi kan aku juga salah. Jalannya kurang hati-hati anggap aja ini musibah, masa masalah sepele seperti ini kamu mau jadi bos gak berperasan sih asal pecat kariawan."


"Kamu gak sadar tadi kamu hampir nyium lantai kalau aku gak narik kamu."


"Yang pentingkan aku gak jadi nyium lantai, malahan aku jadi nyium dada suami aku." Ucap Kiren sambil nyengir, menunjukan deretan gigi putih nya.


Kan lumayan pagi-pagi udah dipeluk paksu.


"Ckkkk." Decak Varo kuat.


"Coba deh liat aku gak papa kok." Ucap Kiren sambil berputar-putar didepan Varo.


Varo yang melihat istrinya berputar-putar didepanya langsung menarik lenganya. "Gak usah banyak tingkah, kamu bisa jatuh dengan sepatu setinggi itu."


Kiren yang mendapat perhatian dadakan dari suami, langsung tersenyum lebar.


Tukan gue jadi pengen meleleh. Dih


"Ayo." Ajak Varo sambil maraih telapak tangan Kiren.


Gitu dong paksu istrinya digandeng, jangan dianggurin mulu. Entar karatan baru tau rasa..


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2