
Yuuuuuuhuu Keren datang lagi nih. Hari ini Keren mau motong tumpeng ya, buat ganti nama Keren jadi Kiren. Setuju gak? SETUJU DONG. Mama Laras aja setuju, sampai-sampai Keren- Eh Kiren maksudnya mau dipotongin anak bebek yang unyu-unyu manjah lita.....
Sahabat Kiren yang budiman. Selamat membaca ya kisah kehidupan rumah tangga Kirenidya putri dan Alvaro Pradipta yang super tajir melintirrrr...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Kiren terus berjalan keluar gedung. Dilihat dari letak tempat gedung ini memang terlihat lebih sepi dibandingkan dijakarta. Disekitar gedung lebih banyak pepohonan dan banga-bunga yang membuat tempat ini nampak asri.
Bahkan di depan gedung terdapat taman yang terlihat begitu aneh karna lebih banyak tumbuhan hias dibandingkan bunga.
Dttttt.....rrr...Drrtttttt...
Getar hp didalam tas mengalihkan pandangan Keren. Merogoh tas..
IBU NEGARA KANJENG LARASSATI.
Nama itu lah yang memenuhi layar ponsel Kiren.
"Hallo." Sapa Kiren setelah mengangkat telpon.
"Hallo Ren."
"Kenapa ma?" Tanya Kiren sambil berjalan lurus.
"Nanti kamu pulang jam berapa? Mama mau mampir deh kerumah kamu!!"
Kiren menepuk jidatnya pelan.
Mati gue, gue lupa lagi kemarin gak ijin mama mau pergi kesini. Bisa habis ini gue kena omelin mama. Belum lagi dramanya. Hadeh.
"Oh-Itu ma. Kiren lagi gak dijakarta."
"Gak dijakarta. Terus kamu lagi dimana? Sama siapa?"
"Kiren lagi ikut mas Varo perjalanan bisnis." Ucap Kiren meringis.
Perjalanan bisnis dari hongkong, yang ada mah loe nyusul kali Ren. Jerit hati kecil Kiren.
"Alhamdulillah. Akhirnya anak mama keluar juga dari indonesia. Ok-ok gak papa, kapan kamu pulang Ren?" Seru Laras heboh.
Kiren sampai menjauhkan hpnya dari telinga karna mendengar jeritan mamanya yang Lebay menurut Kiren.
Kiren cuman melongo mendengar jawaban mamanya. Udah gitu doang respon mamanya? Gak ngomel? Apa lagi ada drama? Ini bener mama Kiren gak sih.
"Kiren?"
"Iya ma!!"
__ADS_1
"Kamu dengerin mama ngomong gak sih?"
"Eh iya maaf ma, tadi signalnya ilang-ilang jadi suara putus-putus." Ucap Kiren berbohong.
Hadeh dijamin masud neraka ini gue bohong mulu kerjaanya.
"Gak tau, orang baru kemarin Kiren sampai sini. " Sambung Kiren.
Nyusul kesini maksudnya ma.
"Jadi kalian mau sekalian hanymoon gak?"
"Kata mbak Hanum sih iya."
"Kok kata Hanum sih."
Kiren berhenti berjalan, otak nya sedang berfikir keras untuk mencari cara bagaimana menyampaikan kata-kata yang pas pada mamanya. Bisa habis Kiren diolok-olok mamanya kalau tau Kiren yang nyusul bukan diajak.
"Ah gak penting deh ma. Mama kok tumben nelpon Kiren?"
"Kenapa kamu gak suka mama telepon?" Tanya Laras galak.
Kiren kembali meringis mendengar nada galak mamanya. Duh salah lagi.
"Gak. Bukan gitu ma, aneh aja gitu maksud Kiren."
"Aneh-aneh!! Kamu aja anak durhaka pergi-pergi gak pamit mama, mentang-mentang udah nikah ya kamu Kiren."
"Ah tapi itu gak penting, yang terpenting sekarang. Nanti kalau kamu pulang kamu harus ngabarin mama."
"Lah emang kenapa?" Tanya Kiren melanjutkan langkahnya sambil duduk dikursi kayu dipinggir jalan.
"Ya bawain mama oleh-oleh la." Seru Laras senang. "Sekalian mama mau ngundang tante Tuti kamu kerumah mau pamer."
"Oh iya deh entar Kiren bawain makanan ciri khas sini. Kiren bawain yang banyak biar mama bisa pamerin ke tante Tutinya gak tanggung-tanggung." Ucap Kiren berdiri dan melangkahkan lagi kakinya.
"Kok makanan sih Ren!!"
"Lah terus apa?"
"Barang kek yang bermerek. Tas gitu misalnya apa baju gitu."
"Isss mama matre banget sih." Dumel Kiren.
"Ya gak papa dong sekali-kali. Masak hanymood keluar negri mamanya dibeliin makanan doang pelit banget kamu."
Keluar negri?? Jangan-jangan mama kira gue keluar negri lagi.
__ADS_1
"Siapa yang keluar negri?"
"Lah emang kamu bukan keluar negri?"
Kiren mendengus kuat mendengar pertanyaan mamanya. "Orang Kiren cuman kekalimantan!!"
Sekarang gantian Laras yang mendengus kuat. "Kalau cuman ke kalimantan ngapain mama pemerin keorang Kiren kamu kadang-kadang pinternya kebangetan ya." Sembur Laras kesal.
"Kan mama gak nanya Kiren dulu tdi."
"Jadi kamu nyalahin mama?" Teriak Laras tak terima.
Salah lagi. Salah lagi. Nasib jadi anak kanjeng Laras ini selalu salah.
"Iss mama mah ngomel mulu."
"Ngomel mulu-ngomel mulu. Dah ah mama mau belanja lama-lama ngomong sama kamu bisa buat mama naik darah."
Tut....tut....tut....
Kiren melongo melihat telponya yang dimatika sepihak oleh Laras.
Ya allah untung gue sabar.
Memasukan hpnya kedalam tas, Kiren menarik nafas dalam-dalam bicara dengan mamanya benar-benar menguji kesabaranya ternyata. Memperhatikan sekelilingnya kening Kiren mengernyit bingung.
Gue dimana?
Disekeliling Kiren sekarang hanya ada pepohonan rimbun dan jalan-jalan setapak, bahkan jalanan setapak itu memiliki banyak simpang-simpang dan terlihat sudah berlumut.
Jangan bilang gue nyasar. Duh efek ngobrol sama mama ini bikin gue gagal fokus.
"Duh, ini gue nyasar!!" Gumam Kiren terus berjalan kearah yang menurutnya jalan yang tadi dia lalui.
Tapi baru lima menit berjalan Kiren sudah bertemu dengan persimpangan, jalanya masih sama hanya setapak.
Hampir lima belas menit Kiren berjalan tapi entah perasaanya saja atau memang benar jalan yang dia lewati dari tadi selalu berkahir di tempat yang sama. Kiren seperti berputar-putar ditempat yang sama.
Dengan kesal Kiren mengeluarkan ponsel, berniat menghubungi Varo. Tapi entah karna dewi kebereruntungan sedang tidak berpihak padanya atau memang nasibnya yang sedang sial, ponsel canggih Kiren benar-benar tidak memiliki signal.
Kenapa tadi gue gak dengerin mbak Jesi sih kalau udah gini gue harus gimana.Sekarang gue sadar ternyata yang selama ini mama bilang kalau IQ gue itu udah masuk tahap level jongkok harus diralat sekarang, karna IQ gue bukan cuman di level jongkok melainkan sudah tiarap, membumi, dan mendasar dalam tanah. Atau bahkan udah tenggelem didalam lautan. Duh duh Kiren malang sekali nasib kamu. Batinnya
Nafas Kiren sudah ngos-ngosan, entah sudah berapa lama dia berjalan. Yang pasti, sejauh mata memandang dan kaki melangkah. Kiren tak kunjung menemukan jalan keluar dari tempat ini. Kiren jadi teringat cerita jaman dulu mamanya, dimana ada setan yang sering membuat orang tersesat dan akan berjalan berputar-putar dijalan yang sama. Tanpa sadar membuat Kiren bergidik ngeri dibuatnya.
Haaaaaaaa. Varo gue nyasar... Tolonginnn..Gue takut....Gue harus gimana sekarang..Kalau disasarin setan? Kita bakalan gak inget kan ya? Tapi, kok gue gak inget-inget jalan keluar. Duh, setan mana sih yang jailin gue, gak kasian apa gue udah capek, muter-muter.
Kiren sudah seperti orang gila sekarang. Hanya bisa memperhatikan sekeliling dengan pikiran-pikiran abstraknya.
__ADS_1
Paksu, istrimu *yang unyu-unyu plus cuantek ini nyasar. Tolongi*nnnnnn..
Bersambung....