
Varo hanya merenggut kesal, dengan bibir melengkung kebawah. Melihat Kiren yang bersikap cuek padanya. Dan mendiaminya sedari tadi.
Setelah Varo mengatakan keinginannya, Kiren langsung mengomelinya dan mendiaminya, sampai sekarang.
Bagaimana tidak, ini sudah pukul sebelas malam, tapi Varo dengan se'enak jidat meminta Kiren untuk menemaninya mencari es cendol dawet. Dikira ini pukul sebelas siang kali ya, meminta es cendol dawet.
Apa Varo tidak bisa melihat. Jika yang berada diatas langit itu sekarang bulan, bukan matahari. Kenapa dengan se'enak jidat Varo meminta yang aneh-aneh. Hampir tengah malam pula.
"Yang." Panggil Varo memelas.
Rasa ingin memakan es cendol dawet itu tiba-tiba datang tanpa bisa dicegah, saat Varo sedang enak-enaknya tidur. Tiba-tiba terbangun, karna mengingunkan es cendol dawet. Apa lagi membayangkan rasa segar yang akan Varo dapatkan dari es itu. Membuat Varo hampir ingin menjatuhkan air liurnya karna sangking pinginnya.
"Ini itu tengah malam mas. Mau cari kemana es itu!! Besok pagi aja deh kita nyarinya. Lagian diluar itu mendung nanti kalau hujan gimana!!" Tolak Kiren untuk kesekian kalinya. Rasa kantung yang tadi Kiren rasakan bahkan sudah menguar entah kemana karna rengekan suaminya sedari tadi. Membuat Kiren berulang kali mendengus kesal tidak habis fikir dengan keinginan ajaib suaminya. Yang hamil siapa, yang ngidam siapa. Pikir Kiren kesal.
"Aku maunya sekarang yang." Ucap Varo kekeh.
"Iya tapi mau cari kemana!!" Gemas Kiren.
"Coba aja kita muter-muter dulu. Kali aja nemu." Ucap Varo tak kehabisan akal.
__ADS_1
"Kamu kira, ada yang bakal jual es cendol tengah malam begini!!" Tanya Kiren memandang ngeri kearah Varo.
"Kan belum kita coba." Bujuk Varo.
"Aku pengen banget makan es cendol dawet. Apa lagi yang ada di komplek perumahan mama Laras. Kayaknya seger kalau makan itu sekarang." Ucap Varo semangat. "Serius, mas pengen banget yang." Sambung Varo lagi.
"Ditahan dulu deh pengennya. Besok pagi-pagi banget kita kesana." Ucap Kiren enteng bersiap kembali berbaring, tapi lengannya langsung ditahan Varo.
"Tapi mas pengenya sekarang yang." Ucap Varo memelas dengan ekspresi wajah. " Ya allah keburu mati gue kalau nunggu besok pagi."
"Iya. Tapi ini tengah malam, gak mungkin ada yang jual disana. Lagian, orang pinter mana sih yang bakal jual es cendol tengah malam begini." Omel Kiren semakin kesal.
"Ayo yang. Kita liat dulu." Bujuk Varo lagi.
Tidak menyia-nyiakan waktu. Varo langsung meraih kunci diatas meja nakas, dan menerima uluran jaketnya dari sang istri. Memakainya dengan semangat. Varo terlihat sangat senang kali ini, dia sudah terlihat seperti seorang anak kecil yang dibelikan maianan baru oleh ibunya. Sangking senangnya.
****
Belum lama keluar dari rumahnya. Hujan langsung turun dengan deras, membuat Kiren semakin kesal dibuatnya. Sedang Varo tidak peduli dengan hujan deras diluar, matanya terus melihat-lihat pinggir jalan. Berharap ada keajaiban tuhan, yang menjual es cendol ditengah malam begini.
__ADS_1
Walau pun kemungkinan cuman 0,2%, tapi tidak ada salahnya kan kita percaya dengan kemungkinan yang kecil itu. Dan tidak ada salahnya, kita mencoba dan berusaha dulu sebelum menyerah.
Tiba-tiba suara ponsel Kiren yang berada didompetnya bergetar, menandakan ada panggilan masuk. Varo hanya melirik sekilas istrinya, yang nampak asik berbincang dengan orang disebrang telpon. Tidak ingin ambil pusing, atau bahkan kepo dengan itu. Karna yang sekarang ada difikiran Varo adalah, es cendol dawet yang sedari tadi terus menari-nari difikiran Varo. Membuat Varo berulang kali menelan ludah tanpa sadar.
"Mas." Panggil Kiren. Varo hanya bergumam pelan menjawab panggilan istrinya.
"Kita kerumah mama Laras aja."
"Disana ada yang jual es dawet?" Tanya Varo semangat, bahkan sangking semangatnya Varo sampai menepikan mobilnya dipinggir jalan. Memandang lurus kearah Kiren, istrinya.
Kiren berdecak kuat mendengar pertanyaan suaminya. "Mama Laras bakal buatin mas es cendol dawetnya." Jawab Kiren kesal.
"Serius. Alhamdulillah." Ucap Varo berlebihan.
Jika ada yang mendengar ucapan Varo barusan, orang pasti berfikir jika Varo saat ini sedang memenangkan tender besar. Karna ucapan berlebihan Varo.
"Ya udah yang. Kita kesana sekarang. Kamu istirahat aja, nanti aku bangunin kalau udah sampai."
"Kenapa aku dibangunin. Mas harus gendong aku dong, kalau aku tidur."
__ADS_1
"Iya entar mas gendong. Tapi nanti kalau mas makan es cendol, temenin ya!! Mas pengen makan es cendol diliatin kamu." Jawab Varo enteng. Yang langsung Kiren balas dengan delikan kesal dan cibiran pedas. Yang membuat tawa Varo pecah mendengarnya.
Bersambung....