
Kiren melirik dibalik cendela kaca disamping tempat duduknya. Hari ini, karna bosan dirumah akhirnya Kiren berkunjung kecaffe Hanum. Berharap bisa membuang sedikit rasa bosannya. Tapi, saat mobilnya keluar dari gerbang rumahnya. Perasaannya merasa tidak nyaman karna seperti ada mobil yang mengikuti mobilnya terus.
Bahkan perasaannya menjadi was-was ketika teringat pesan- pesan misterius yang terus masuk keponselnya. Baik itu ancaman, kata-kata umpatan, amarah, dan juga makian-makian tidak jelas. Yang menurut Kiren, ia sama sekali tidak mengenalnya.
"Lao baik-baik aja?" Pertanyaan bernada khawatir dari depannya, menarik kesadaran Kiren dari lamunan singkatnya.
Kiren mendongak, dan mengangguk pelan. "Gue perhatiin loe dari tadi ngelamun. Kenapa? Loe lagi ada masalah?" Sambung Hanum.
"Emmm, Gue gak tau mbak."
Mengerutkan kening. "Maksudnya?" Tanya Hanum penasaran.
"Akhir-akhir ini, gue sering dapat pesan misterius." Cerita Kiren.
"Misterius gimana?"
"Ya misterius. Ngerti misterius gak sih!!." Kesal Kiren membuat Hanum berdecak kuat.
"Maksud gue, isi pesannya.... Misterius gimana, ****?"
"Ya, kayak ngata-ngatain gue...Nyumpah-nyumpahin. Bahkan sampai ngancam-ngancam gitu." Mata Hanyum membesar begitu mendengar cerita Kiren.
"Terus? Loe udah coba hubungi nomor itu?"
Kiren mengangguk. "Udah, tapi setiap gue telpon. Nomornya gak aktif...Kayak nomornya udah diblok gitu."
"Loe udah bilang Varo?" Kiren menggeleng.
"Kenapa?" Tuntut Hanum.
"Akhir-akhir ini, Varo keliatan lagi banyak masalah. Gue gak mau nambah beban dia."
"Jangan **** deh Re. Loe lagi bunting. Jangan karna masalah kayak gini, loe jadi stres dan mikir yang enggak-enggak."
__ADS_1
Kiren mendesah panjang mendengar nasehat Hanum. "Gue bingung."
"Tapi, loe yakin itu bukan orang iseng?"
Kiren diam. "Menurut loe gitu mbak?"
Mengangkat bahu cuek. "Sekarang ini kan, banyak orang kurang kerjaan. Jadi mereka ngelakuin hal-hal gak masuk akal yang menurut mereka bisa ngilangin penat."
"Dengan ngancam-ngancam orang kayak gini?" Tanya Kiren tak percaya.
"Apa separah itu ancamannya?"
Kiren mengeluarkan ponsel dari dalam tasnya. Dan menunjukakan semua isi chat dan pesan ancaman itu pada Hanum. Membuat Hanum menatap ngeri seluruh isi pesan itu.
"Loe harua ngomong ini ke Varo." Sembur Hanum. "Ini itu bahaya Ren." Sambung Hanum menaikkan satu intonasi suaranya.
"Menurut loe gitu mbak?"
Kiren diam, menimbang apa yang harus ia lakukn. Haruskah ia menerima saran dari Hanum. "Tapi, loe ada mencurigai seseorang gak?"
"Gue gak tau."
"Loe gak ada musuh, yang kira-kira menurut loe dia yang bakal ngirim teror kayak gini?"
"Sumpah gue gak punya musuh mbak."
"Inget-inget lagi."
"Seinget gue gak ada deh."
"Cowok yang loe tolak?"
"Yang ada, gue kali yang ditolak." Kesal Kiren.
__ADS_1
"Cowok yang loe tinggalin pas lagi sayang-sayangnya?"
"Gak usah gila deh mbak." Hanum terbahak mendengar jawaban spontan Kiren.
"Kalau cewek yang cowoknya loe rebut?"
"Citra." Jawab Kiren santai.
Setelah mendengar jawabannya sendiri, tubuh Kiren lansung menegang dengan mata sedikit melebar.
"Citra?" Tanya Hanum.
"Gue pernah ketemu Citra disupermarket." Terang Kiren.
"Terus?"
"Dia ngomong sesuatu yang aneh."
"Loe mencurigai dia?"
"Menurut loe? Aneh gak kalau gue curiga sama dia?" Balik tanya Kiren.
"Tergantung." Jawab Hanum.
Kiren menatap Hanum bingung. "Tergantung gimana sikap dia ke loe selama ini." Sambung Hanum tanpa diminta.
"Dia.....Suka ngomong aneh....Dan bahas sesuatu yang gak masuk akal."
"Loe curiga dia?" Tanya Hanum dengan tatapan serius.
Kiren diam, balik menatap Hanuam. "Gue gak yakin."
Hanum berdecak mendengar jawaban Kiren. "Saran gue tetap sama. Ngomong sama Varo, bilang semua apa yang elo alami akhir-akhir ini." Nasehat Hanum yang dijawab dengan hembusan nafas kasar oleh Kiren.
__ADS_1