SUAMI ANTI ROMANTIS

SUAMI ANTI ROMANTIS
Perhatian.


__ADS_3

Kiren mengerjapkan mata pelan-pelan, menyesuaikan cahaya yang mulai masuk lewat rentina matanya. Langit-langit berwarna putih adalah hal pertama yang Kiren lihat. Belum lagi aroma menyengat obat-obatan yang tercium oleh indar penciumannya membuat Kiren mengernyitkan hidung pelan.


"Sayang." Panggil Varo yang melihat Kiren mulai membuka matanya.


Kiren langsung menoleh cepat kearah sumber suara. Melihat Varo yang duduk dikursi samping ranjang, membuat kilasan ingatan Kiren kembali pada kejadian semalam. Kejadian yang membuat Kiren merasakan takut yang luar biasa. Mata Kiren langsung berkaca-kaca begitu melihat suaminya, yang sudah duduk dikursi disamping ranjangnya.


Varo yang melihat mata Kiren berkaca-kaca langsung berpindah duduk dipinggir ranjang. Dan menarik tubuh ringkih istrinya masuk kedalam pelukannya.


Tangis Kiren pecah mendapatkan pelukan dari Varo. "Maaf sayang. Seharusnya aku tidak meninggalkanmu sendiri dirumah." Ucap Varo menenangkan.


"Ak---aku....Takut..." Ucap Kiren disela-sela tangisnya.


"Tidak.......Ada yang mendengar teriakan ku semalam.....Rumah gelap......Semua lampu mati...." Sambung Kiren mengadu.


Varo semakin memeluk Kiren erat mendengar rentetan kata yang terus keluar dari bibir istrinya. Membuat rahangnya mengeras karna merasa telah ceroboh dalam hal menjaga keselamatan Kiren. Varo merasa marah pada dirinya sendiri, karna gagal menjadi suami yang siap siaga.

__ADS_1


"Ak----aku takut....Aku-----aku kira......Semalam aku....akan mati didalam lift...." Isak Kiren memilukan. Varo tersenyum sakit mendengar isakan Kiren. Kiren yang takut dengan gelap membuat dia pasti sangat ketakutan semalam.


Varo benar-benar merutuki kebodohanya karna tidak ada saat Kiren membutuhkannya semalam. Varo yakin istrinya pasti benar-benar ketakutan semalam, mengetahui jika semua lampu mati dirumahnya.


Untung saja semalam Varo cepat-cepat memeriksa cctv dirumahnya, ketika merasa aneh dengan nomor ponsel istrinya yang tidak aktif. Kiren yang biasanya selalu menyempatkan diri menghubunginya walau sedang sibuk sekalipun. Membuat Varo khawatir karna seharian Kiren tidak mengabarinya.


Alhasil, dengan perasaan was-was Varo langsung memeriksa cctv rumahnya. Yang kebetulan saat itu malah eror semakin menambah rasa khawatir dan panik Varo.


Beruntung Varo cepat-cepat menghubungi Hanum, dan menyuruhnya untuk memeriksa keadaan rumahnya bersama suaminya. Jika Hanum dan Adam tidak datang tepat waktu, Varo tidak tau apa yang akan terjadi pada istri dan calon anak mereka.


Setelah kejadian itu, dokter menyatakan Kiren hamil. Baru tiga minggu memang, nah karna usia kandungan yang baru tiga minggu membuat kandungan Kiren rentan dengan keguguran. Beruntung calon anak mereka kuat, hingga karna benturan Kiren didalam lift bayinya masih dinyatakan selamat dan baik-baik saja.


"Sssttttttt....Tidak apa-apa....Sekarang kamu sudah aman sayang.....Aku janji..Tidak akan terulang lagi hal seperti itu lagi dirumah kita..." Janji Varo menenangkan, Kiren hanya mengangguk pelan.


"Baiklah nyonya. Anda harus berhenti menangis sekarang. Karna jika tidak, baby kita akan ikut sedih saat ini." Ucap Varo menangkup wajah Kiren. Mengecup mata Kiren berulang-ulang.

__ADS_1


"Baby?" Ulang Kiren bingung.


Varo mengangguk dengan senyum lebar dibibirnya. "Kamu hamil. Baru tiga minggu memang!! Tapi kamu tau.. Aku tidak percaya jika sebentar lagi kita akan menjadi orang tua..." Seru Varo dengan mata berkaca-kaca. Rasa haru kian menguar setiap kali Varo mengingat jika ada nyawa yang sedang hidup dalam rahim istrinya. Nyawa yang sebagian kecil dari dirinya. Dari usaha lemburnya selama ini dengan Kiren.


"Aku hamil?" Tanya Kiren tak percaya.


"Iya sayang....Kamu hamil....Hamil anak kita..Kamu tau hamilkan??" Seru Varo semangat. Kiren mengangguk pelan, masih tidak percaya jika dia akan menjadi seorang ibu. "....Oh kamu pasti tidak percaya ini....Aku pun rasa-rasanya tidak percaya, jika bisa membuatmu mengandung anak kita......." Sambung Varo bangga.


"Terimakasih." Lirih Kiren kembali memeluk Varo dengan isak tangis yang kembali terdengar.


"Sssstttt....Kenapa menangis?" Ucap Varo menepuk pundak Kiren pelan. "Aku yang seharusnya berterimakasih sayang. Terimakasih karna sudah baik-baik saja...Terimakasih karna masih mau bertahan


..Terimakasih juga karna telah mau mengandung anak kita... Terimakasih sayang....Terimakasih..." Sambung Varo memeluk Kiren sedikit lebih erat. Varo pun ikut meneteskan air mata bahagia karna rasa haru yang dia rasakan saat ini.


Tidak menyangka, jika tuhan akan berbaik hati dan mau mempercayakan anak pada mereka. Varo benar-benar ingin menangis saat ini juga. Menangis haru bercampur bahagia, karna mengetahui istrinya hamil. Apa semua suami diseluruh dunia akan bersikap mellow seperti ini jika mengetahui istrinya tengah hamil. Atau Varo saja yang bersikap berlebihan.

__ADS_1


Kiren mengangguk dengan air mata yang masih terus mengalir dipipinya.


Bersambung...


__ADS_2