
Maaf ya kakak-kakak baru up....Karna kemarin lagi sibuk bangettt....Jadi baru sempet up kali ini....Insya allah bakal up lagi kok..diusahaain bukan up cuman satu bab...dan ini udah oanjang ya kak hampir seribu limaratus kata..Jadi please boleh dong tekan Vote nya biar aku semangat up nya hari ini....
Varo duduk tenang dikursi kantin. Dengan perasaan tak ikhlas, akhirnya Varo menyetujui permintaan Bima dan bujukan Kiren.
Memandang sedikit malas kearah pria paruh baya yang duduk didepannya. Varo sudah merasa tak sabaran untuk segera beranjak pergi dari kantin rumah sakit ini. Dan menjauh dari pria tua didepannya.
"Sebelumnya, om mau terimakasih karna kalian masih mau berbicara dengan om. Dan, om minta maaf kepada kamu nak Varo, karna apa yang telah putri om lakukan pada kamu dan juga keluarga kamu waktu itu." Menarik nafas dalam. "Om sebenarnya malu berbicara seperti ini. Apalagi sampai harus bertemu dengan kamu begini. Tapi, om tidak tau lagi harus bagaimana..... Citra adalah satu-satunya putri om......Hanya dia anak yang om miliki didunia ini.....Sebesar apa pun kesalahan yang telah dia lakukan..... Om tidak bisa berbuat apa-apa, selain mendukung dan memaafkan semua kesalahannya. Karna itu...."
Bima menatap lurus kearah Varo, menerka-nerka apa yang ada didalam fikiran mantan calon menantunya itu. Saat mendengar setiap ucapan yang keluar dari mulutnya melalui raut wajahnya. Tapi, wajah datar dan nampak enggan lah yang Bima temukan diwajah Varo saat ini. Dan itu artinya, Bima akan memakan waktu yang cukup lama kali ini untuk membujuk Varo.
"Om minta tolong kepada kamu...Tolong maafkan semua kesalahan putri om. Ampuni dia nak Varo." Sambung Bima pelan dengan nada memohon.
Varo hanya diam, mendengarkan semua deretan kata yang keluar dari bibir pria paruh baya didepannya. Tidak berkomentar sedikit pun.
Begitu pun Kiren, dia duduk tenang menatap kasian pada pria tua didepannya. Tidak berani berkomentar sedikit pun. Karna semua masalah pria tua itu hanya pada suaminya, bukan pada Kiren. Jadi, dia hanya akan menjadi pendengar setia disini. Tidak ingin ikut campur dalam mengambil keputusan atau sekedar memberikan opini. Karna disini yang merasa dirugikan, tersakiti dan mendapat ketidak adilan adalah suaminya, Varo. Bukan dirinya. Jadi, apa pun keputusan suaminya, Kiren akan selalu mendukungnya.
"Ap----apa nak Varo mau memaafkan Citra.... Putri om?" Tanya Bima gagap dan penuh harap.
"Saya sudah memaafkan putri om. Bahkan sebelum om menemui saya, dan meminta maaf...." Ucap Varo datar dan cuek.
Kiren langsung menoleh cepat kearah suaminya. Senyumnya langsung mengembang, mendengar ucapan luar biasa Varo. Meski semua orang bisa berbicara seperti itu. Tapi entah mengapa, jika Varo yang berbicara dan mengucapkannya. Seakan-akan suaminya itu terlihat begitu keren dimata Kiren. Apa Kiren sudah benar-benar bucin sekarang.
Mengulurkan tanganya, Kiren langsung menggenggam sebelah tangan Varo yang berada dibawah meja. Dengan pandangan lurus kearah kedua bola mata Varo lengkap dengan senyuman secerah matahari milik Kiren.
"Benarkah?" Tanya Bima dengan mata penuh binar.
Varo mengangguk tegas. "Saya tidak berhak menghakimi Citra. Bagaimana pun...Kami pernah bersama dulu. Dan saya tidak ingin memiliki dendam hanya karna masa lalu, karna sebentar lagi saya juga akan menjadi seorang...Ayah. Jadi, tidak ada salahnya saya memaafkannya kali ini." Ucap Varo santai yang diakhiri memandang balik Kiren. Membalas senyum cerah milik istrinya itu. Dengan senyum cerah miliknya.
__ADS_1
"Om benar-benar lega mendengarnya. Terimakasih nak Varo...Terimakasih banyak. Om benar-benar berterimakasih untuk itu..." Ucap Bima bahagia, sangking bahagianya Bima sampai menarik sebelah tangan Varo yang berada diatas meja.
"Jangan berterimakasih dengan saya om. Saya tidak melakukan apa pun untuk itu. Berterimakasihlah pada istri saya. Berkat dia, saya bisa memaafkan Citra....Karna bagaimana pun, berkat Citra meninggalkan saya...Saya bisa menikahi istri saya." Jawab Varo santai. Dengan pandangan lurus kearah Kiren.
Kiren yang mendengar pujian langkah suaminya. Hanya menunduk malu. Wajahnya sudah memerah seperti kepiting rebus karna malu.
Ihhhhh....Kok paksu manis banget sih. Kan jadi penge nyender sambil elus-elus dadanya.
Mendengar Varo memuji Kiren didepannya, senyum Bima sedikit luntur diwajahnya. Tak urung, dia tetap memandang keatah Kiren. "Terimakasih nak Kiren." Ucap Bima pelan memandang Kiren yang menunduk malu karna jawaban Varo.
Kiren yang mendengar ucapan Bima, hanya mengangguk pelan dan semakin tersenyuman malu.
"Nak Varo?" Panggil Bima meminta perhatian Varo.
Varo mengalihkan pandangannya dari Kiren kearah Bima. "Apa om bisa minta tolong lagi?" Tanya Bima pelan.
"Citra masuk rumah sakit ini dari satu minggu yang lalu." Cerita Bima tanpa diminta.
"Dia mengalami keguguran." Sambung Bima lagi.
Kiren langsung terpekik kuat mendengar ucapan Bima. Tidak menyangka jika kejadian mengerikan seperti itu akan dialami oleh Citra.
"Akibat terlalu stres dan memikirkan kamu. Dia saat ini hampir depresi karna kehilangan bayi dalam kandungannya. Setiap hari yang dia habiskan hanya melamun dan memanggil nama kamu nak Varo. Jika berkenan-"
"Maaf. Saya kira, saya sudah tidak ada urusan lagi untuk masalah anak anda....Dan masalah dia depresi atau bukan..... Saya tidak ada kaitannya dalam hal itu....Kenapa anda malah menemui saya....Kenapa tidak anda bujuk saja dia untuk mencari pria lain...Dari pada mengharapkan pria yang sudah jelas-jelas memiliki keluarga dan istri...Apakah ini tidak terdengar menyedihkan untuk seorang Bima Prasetio untuk memohon kepada mantan tunangan putrinya, yang bahkan telah dipermalukan dengan meninggalkannya disaat persiapan pernikahan sudah hampir selesai....Dimana harga diri anda tuan Bima...Apa anda tidak malu...Tiba-tiba datang dengan permohonan yang tidak masuk akal seperti ini!!" Ucap Varo dingin dan terdengar menyeramkan, memotong ucapan Bima yang menurutnya tidak masuk akal.
Kiren sendiri hanya bisa menelan ludah takut. Mendengar setiap kata yang keluar dari bibir Varo membuat dia hampir menganga tak percaya dibuatnya. Varo itu tidak pernah main-main dalam setiap perbuatannya. Apalagi ucapan.
__ADS_1
Setiap kata yang keluar dari bibir Varo, seakan memiliki racun yang berbisa. Sehingga selalu berhasil membuat lawan bicaranya seakan mati kutu dan malu. Bisa dikatakan Varo ini handal jika disuruh menyulut emosi lawan bicaranya. Contohnya saja Bima saat ini. Wajahnya sudah memerah padam dengan rahang yang mengeras karna menahan emosi. Seakan dia benar-benar tersinggung oleh ucapan Varo.
Hening, setelah obrolan singkat itu. Tidak ada lagi yang memulai obrolan. Mereka sibuk dengan pikiran masih-masing. Bahkan Bima, sekarang sudah melepas genggaman tangan Varo yang berada diatas meja.
Menarik nafas. Bima berusaha sekuat tenaga meredam emosinya yang mulai tersulut. "Ya. Om memang sudah memikirkan matang-matang soal ini. Soal harga diri om, yang pasti akan diinjak-ijak. Bahkan om harus membuang jauh-jauh rasa malu dan gengsi om. Untuk menemuimu, dan memohon belas kasian mu." Ucap Bima datar.
"Tapi, apa yang bisa dilakukan oleh pria tua seperti ku ini. Selain memohon yang meminta belas kasian padamu nak Varo.....Apalagi...Saat melihat putri kecilku....Anak satu-satunya yang om miliki.... Sudah seperti mayat hidup....Seakan semangat hidupnya sudah tidak ada lagi..Padahal masih ada kami...Orang tua yang mencintainya tiada henti..Sebagai seorang ayah, tidak ada yang lebih penting dari pada melihat anaknya bahagia...Walau om harus mencium kakimu dan bersujud sekalipun, akan om lakukan. Asalkan bisa membuat kamu....Mau mengabulkan permintaan sederhana om.." Sambung Bima memelas.
"Memangnya, apa yang om inginkan dari suami saya?" Tanya Kiren yang sedari tadi hanya diam mendengarkan. Dia mulai penasaran dengan permintaan Bima.
Bima mengalihkan pandanganya dari Varo kearah Kiren. "Om hanya mau, Varo menjenguk putri om. Mengatakan jika dia sudah memaafkan kesalahan putri om. Memberinya semangat untuk terus meneruskan hidupnya."
"Dan anda kira saya mau!! Membuang-buang waktu berharga saya hanya untuk memberi semangat pada putri anda!!" Ucap Varo menatap tajam Bima.
"Nak Varo. Om minta tolong....Tolong sekali ini saja, beri sedikit kemurahan hati mu terhadap pria tua malang seperti ku."
Varo diam, memandang malas Bima yang duduk didepannya dengan pandangan mata sayu.
Kiren yang mendengar ucapan Bima bingung. Bingung dengan apa yang harus dia lakukan. Haruskah dia membujuk suaminya, atau mengabaikan ucapan Bima seperti Varo.
Varo berdiri dari duduknya. "Saya rasa, kami harus pergi.....Untuk masalah putri anda...Anda bisa mengatakan pada putri anda, jika saya sudah memaafkannya. Begitu pun keluarga saya.... Dan untuk masalah menjenguk... Maaf... Saya tidak bisa!!...Anda tau bagaimana sifat putri anda bukan!! Sekali saya jenguk dia...Pasti harus ada kata dua kali setelah itu...Dan setelah itu apa??? Dia akan terus berusaha untuk membuat saya terus berada disekitarnya...Dengan alasan-alasan konyol kalian...Karna itu saya tidak bisa." Ucap Varo menolak tegas permintaan Bima.
Bima ikut berdiri dari duduknya melihat Varo yang bersikap masa bodo seperti itu. Membuat dia khawatir jika tidak akan berhasil membujuk Varo kali ini. "Saya janji nak Varo...Ini adalah permintaan saya yang terakhir...Setelah itu, saya janji...Saya dan putri saya tidak akan mengganggu kalian..." Ucap Bima berjanji dengan nada memohon.
"Ayo sayang." Ucap Varo mengabaikan ucapan Bima.
"Mas." Panggil Kiren yang tidak tega dengan Bima. Tapi dia juga tidak munafik, jika tidak suka dengan Bima yang meminta Varo untuk menjenguk putrinya. Apalagi mengingat Citra adalah mantan Varo. Membuat Kiren kesal, tapi Bima sudah berjanji ini untuk yang terakhir kalinya kan. Apa Kiren bisa percaya itu.
__ADS_1
Bersambung...