
Kiren menutup pintu dengan pelan. Malam ini, Kiren pulang agak larut. Pukul 9 malam. Karna berhubung Varo sedang melakukan perjalanan bisnis keluar kota. Akhirnya yang biasanya Kiren pulang dijemput Varo harus pulang sendiri kali ini. Dan juga, Kiren akan berada dirumah sendiri hanya dengan beberapa pekerja Artnya.
Baru kemarin Varo pergi, masih dengan penyakit yang aneh dan tidak diketahui apa penyebabnya. Bukan sejenis penyakit mematikan seperti kangker atau tumor ganas dan lainnya. Tapi lebih kepenyakit aneh yang membuat Varo sudah seperti anak kecil yang sangat sensitif bahkan melebihi ibu hamil.
Mulai dari menu makanan yang selalu ingin berubah-ubah sesuai keinginanya. Aroma parfum yang selalu membuat indra penciumannya sangat sensitif. Bahkan sampai warna baju pun, akan menjadi masalah jika tidak sesuai dengan moodnya.
Membuat Kiren sering naik darah dibuatnya. Tapi jika Kiren mengomelinya, Varo akan berubah menjadi seperti seorang wanita yang sedang PMS. Yaitu akan mendiaminya seharian penuh, dengan wajah ditekuk kesal dan mode ngambeknya. Kiren sempat tidak percaya jika suami cueknya bisa berubah menjadi sangat mengerikan seperti itu.
Jika Varo seorang perempuan, Kiren yakin. Saat ini juga, dia pasti berfikir bahwa Varo sedang hamil karna perilakunya dan sifat anehnya.Tapi sayangnya, suaminya itu seorang pria tulen, alias benar-benar asli pria sejati. Jadi tidak mungkinkan pria bisa hamil. Dan gila saja, jika Kiren sampai berfikir seperti itu.
Dengan mata yang sudah lelah karna ngantuk, Kiren langsung masuk kedalam lift untuk menuju kamarnya dilantai atas. Kiren terlalu malas untuk menaiki tangga. Alhasil, Kiren pun memilih maniki lift. Ada gunanya juga lift ini dirumahnya, membuat Kiren lebih mudah naik-turun tanpa harus capek-capek menaiki tangga.
Tapi belum juga Kiren sampai didepan kamarnya, tiba-tiba lampu mati. Yang otomatis, lift yang dia gunakan juga ikut berhenti dan mati.
__ADS_1
Jantung Kiren hampir lepas dari tempatnya, ketika gelap gulita mengelilingi sekelilingnya begitu pun penglihatannya. Kiren tidak bisa melihat apapun selain kegelapan.
Dengan keringat mulai bercucuran dipelipisnya. Kiren berteriak minta tolong sekuat tenaga. Berharap akan ada art atau pekerja lainnya yang akan mendengar suaranya.
"Tolong.......Ada orang diluar..." Teriak Kiren disela-sela pintu liftnya.
"Tolong....Siap pun diluar...Tolong aku...." Teriak Kiren semakin kuat sambil memukul-mukul pintu lift didepannya.
Tidak ada suara yang menyahutinya. Kiren yakin, ada yang tidak beres dengan rumahnya. Tidak mungkinkan dalam keadaan gelap seperti ini, artnya tidak ada yang bangun untuk menghidupkan lilin atau lampu-lampu senter untuk mengecek seleliling rumahnya. Tapi mengingat sekarang belum terlalu larut malam, tidak mungkinkan artnya sudah tidur nyenyak semua.
Rumah ini memang terjaga keamanannya, dan kalau ada pemadaman bergilir pasti ada laporan pemberitahuan dulu. Rumah ini tidak murah, Varo juga sudah menyiapkan ATS genset. Jika mati lampu,
sekuriti hanya perlu mengganti panelnya.
__ADS_1
Dengan tangan bergetar, Kiran mencari ponselnya didalam tas. Dirogohnya seluruh tas jinjing Kiren, sampai semua isi ada yang berjatuhan kelantai. Karna terlalu panik Kiren sampai berjongkok dan mengeluarkan semua isinya, menuangkan isi tas keatas lantai.
Tapi Kiren tidak menemukan ponselnya. Ponselnya tidak ada didalam tas, Kiren ingat betul seharian ini Kiren tidak mengeluarkan ponselnya. Karna sibuk dicaffe, Kiren tidak sempat mengecek ponsel ketika dicaffe mau pun saat akan pulang tadi.
Udara dilift yang mulai minim membuat nafas Kiren mulai sesak. Kembali merangkak kearah lift, Kiren kembali berteriak meminta tolong dengan sisa-sisa tenaganya. Berharap akan ada orang yang mendengar teriakannya. Dan menolongnya.
"Tolong......Siapa pun diluar....Tolong aku.." Teriak Kiren.
"TOLONG....."
Karna tidak bisa masuknya udara kedalam lift, membuat Kiren sulit bernafas. Air mata Kiren bahkan sampai mengalir dipipi mulusnya. Pemikiran-pemikiran buruk mulai masuk kedalam pikiranya. Membuat Kiren semakin takut, dan terduduk diatas lantai yang dingin dengan keringat disekujur tubuhnya dan air mata dipipinya. Dan pelan-pelan semua terasa berputar-putar. Kepala Kiren terasa berat dan nyeri.to
Dengan tubuh mulai terasa lemas, Kiren berusaha berdiri dengan berpegangan pada dinding lift. Terseok-seok Kiren mencari tomboo darurat. Tapi naas, karna isi tas Kiren yang berserakan di lantai. Membuat kaki Kiren menginjak sesuatu. Akibatnya, membuat tubuh Kiren oleng dan jatuh kelantai yang dingin. Karna tidak bisa menjaga keseimbangannya. Akhirnya kesadaran Kiren pun pelan-pelan menghilang.
__ADS_1
Bersambung.....