SUAMI ANTI ROMANTIS

SUAMI ANTI ROMANTIS
Seperti mimpi.


__ADS_3

Kiren melangkah dengan hati-hati keluar rumah sakit, tempat dirawat Varo. Berjalan lurus menuju gerbang rumah sakit, Kiren berjalan menuju tukang bubur yang tidak jauh dari tempatnya berdiri.


Metanya terus memperhatikan jalan yang penuh dengan lalu lalang kendaraan yang nampak ramai didepannya. Setelah merasa sedikit sepi, barulah Kiren mulai menyebrang.


Ini masih pukul enam pagi, dan perutnya sudah meronta-ronta minta diisi. Tidak ingin mengganggu supir pribadi suaminya, yang nampak tertidur pulas didalam mobil. Akhirnya Kiren pun memilih membelinya seorang diri.


Karna masih terlalu pagi, jadi belum banyak yang berjualan disekitar rumah sakit. Hanya ada beberapa gerobak bubur dan gorengan yang sudah parkir rapi disebrang jalan.


Akhirnya, Kiren pun memilih bubur sebagai pilihan menu sarapannya pagi ini.


"Mang. Buburnya tiga bungkus ya." Ucap Kiren santai pada penjual bubur.


"Ok siap." Seru penjual bubur semangat.


"Ini campur semua neng." Sambung penjual menunjuk mangkok didepannya.


"Yang satu gak usah pakek daun bawang. Terus yang satu lagi jangan pakai sambel ya mang. Sambelnya dipisah aja." Ucap Kiren memberi intruksi yang langsung disetujui si penjual bubur.

__ADS_1


"Udah lama mang. Jual bubur disini?" Tanya Kiren membuka obrolan.


"Lumayan neng. Delapan tahun."


"Wih lama itu mang. Kalau kredit mobil dapat dua." Seru Kiren dengan nada bercanda. Yang dijawab kekehan pelan si tukang bubur.


"Eneng bisa aja.. Boro-boro kredit neng...Buat hidup aja masih belum cukup."


"Ya udah pelan-pelan mang...Gak usah buru-buru....Kalau belum bisa beli mobil, beli bautnya dulu....Kali aja nanti terinspirasi jadi kebeli mobil...."


"Lah bisa lah mang...Kalau cuman ngomong mah gampang...Yang susah itu, ngejalaninya.."


"Hehehe iya neng....Bener banget..." Jawab si penjual bubur menyetujui. "Ni neng buburnya." Sambungnya sambil mengulurkan kantong plastik yang didalamnya terdapat beberapa kotak bubur.


Setelah membayar, Kiren pun melangkah pergi untuk kembali keruangan suaminya, Varo. Takut-takut jika suaminya akan terbangun dan mencarinya.


Dengan langkah lebar, Kiren terus memperhatikan jalannya dengan hati-hati. Kepalanya terus menoleh kekanan dan kekiri memperhatikan jalan raya yang akan Kiren lewati. Walau jalanan nampak sepi, tapi tidak membuat Kiren berjalan begitu saja. Takut-takut jika nanti ada kendaraan yang tiba-tiba datang.

__ADS_1


Setelah dirasa cukup aman, Kiren langsung bersiap menyebrang. Entah kurang memperhatikan sekelilingnya, atau kurang hati-hati. Saat Kiren berada ditengah jalan, tiba-tiba apa yang sempat Kiren pikirkan terjadi terjadi. Ada mobil hitam tidak jauh darinya melaju dengan sangat kencang kearahnya.


Membuat Kiren tidak sempat berlari atau menghidar. Kakinya terasa dipaku begitu kuat, hingga membuat Kiren hanya bisa diam mematung dengan jantung berdebar sangat kuat.


Tuhannnnn........


BRAAAAAKKKKKKKK.....


Terakhir kali yang Kiren dengar adalah teriakan beberapa orang disekitarnya. Dengan benda cukup kuat menyentuh tubuhnya. Dan, tubuh Kiren seakan melayang keudara, dengan tubuh ringan, seringan kapas. Membuat Kiren hanya bisa menatap langit biru yang bahkan belum menunjukan sinar mentarinya.


Kiren merasa waktu seakan berhenti berputar saat itu juga. Bayang-bayang senyum hangat suaminya, binar wajah bahagia mamanya, canda papanya dan tawa penuh kebahagiaan Hanum memenuhi kepalanya. Membuat Kiren hanya bisa memejamkan mata erat dengan pikiran kosong.


Semua begitu cepat dan tidak terelakkan. Membuat Kiren tidak bisa berbuat apa-apa selain pasrah dan berdo'a pada tuhan.


Bahwa ini, bukan akhir segalanya...


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2