
Varo memandang punggung istrinya yang nampak sibuk dengan isi lemari. Kamar sederhana milik Kiren ini nampak sepi, dan sunyi bukan Varo menutup mata dan telinga ketika terang-terangan saudara Kiren mulai mengolok-olok istrinya. Varo sebisa mungkin menahan amarah yang mulai bergejolak didalam dirinya. Tidak mungkin kan Varo berteriak didepan kedua mertuanya apalagi mengingat orang yang mengolok-olok istrinya adalah kakak kandung ayah mertuanya.
"Nah, mas pakai baju ini mau gak?" Tanya Kiren menunjuk kaos hitam polos dengan celana pendek selutut berwarna khaki. Varo mengangguk sebagai jawaban. Toh baju Varo tidak banyak disini, karna waktu pertama kali menginap disini supir mamanya hanya mengantarkan beberapa potong baju tidak banyak.
"Gak papakan. Kita ikut papa sama mama makan malam dulu disini mas?" Sambung Kiren meminta persetujuan.
"Gak papa. Tapi kamu gak keberatan makan satu meja dengan mereka?" Tanya Varo mandang lekat Kiren.
Kiren bukan tidak tau kata mereka yg ditunjukan Varo adalah tante Tuti dan Siska anaknya. Mungkin, Kiren akan malu malam ini mengingat bagaimana gencarnya tante Tuti tadi mencoba menyudutkannya didepan keluarga dan suaminya. Apalagi nanti saat makan malam.
"Gak masalah sih, udah kebal juga aku sama omongan mereka." Ucap Kiren cuek sambil berjalan meletakan baju ganti Varo di atas ranjang disamping suaminya.
Sebenarnya tidak semuanya benar, sebagian hati kecil Kiren juga ngilu jika tante Tuti selalu menyudutkannya. Berlagak jika selalu Kiren yang bersikap antagonis padahal sebaliknya. Tapi mau bagaimana lagi, akan semakin runyam jika mereka langsung pulang tanpa ikut makan malam. Dan bisa-bisa dipertemuan berikutnya Kiren benar-benar akan semakin dipermalukan.
"Ya udah gih mas bersih-bersih dulu, Kiren mau keluar sebentar. Nanti kalau mas butuh sesuatu mas bisa panggil Kiren. Ok." Kata Kiren.
Kiren sudah akan berbalik untuk keluar, tapi tiba-tiba Varo menahan lengannya. Kiren menoleh. "Kenapa? Mas butuh sesuatu?" Tanya Kiren lagi.
"Kita keluar bareng. Kamu tunggu disini sebentar, mas mandi gak akan lama." Ucap Varo mendudukkan Kiren diatas tempat tidur yang tadi diduduki Varo.
Mas? Mas? Papan seluncur ini barusan panggil dirinya mas kan ya.
Duh bener gak sih ini apa gue cuman halusinasi.
Suara pintu kamar mandi yang tertutup menyadarkan Kiren dari lamunannya. Senyumnya langsung mengembang begitu sadar jika suaminya selama ini tidak masalah jika Kiren memanggilnya mas. Duh suaminya terlihat manis kalau bersikap begitu.
Manis apa sih. Baru denger Varo bahasain dirinya mas aja udah lebay loe Ren. Teriak setan dalam diri Kiren.
Apa Kiren boleh berfikir jika Varo barusan terlihat benar-benar khawatir pada Kiren. Bolehkan Kiren berfikir begitu. Boleh kok. Boleh. Siapa sih yang bakal ngelarang. Ckkkk
Sembari menunggu Varo yang sedang mandi Kiren berbaring miring diatas ranjang sembari memainkan gadgetnya, menonton video di akun Instagram miliknya. Matanya berbinar bahagia begitu video oppa-oppa korea memenuhi layar ponselnya. Bahkan Kiren sampai berubah telungkup dengan sebelah telapak tangannya diletakan dibawah dagunya. Sebagai penyangga.
"Ya ampun. Ya ampun. Gantengnya...!!" Bisik Kiren sendirian lalu terkikik geli merasa gemas dan lucu sendiri.
__ADS_1
"Siapa yang ganteng?" Tanya Varo disamping telinga Kiren dengan tangan bertumpu disisi kiri-kanan tubuh Kiren sebagai penyangga. Bahkan Kiren sampai menahan nafas ketika melihat posisi suaminya yg terlihat seperti memeluknya. Belum lagi aroma sabun yang menguar dari tubuh suaminya.
Wanginya....
"Ckkkkk. Ternyata kamu lebih suka pria-pria cantik?" Sambung Varo bangkit dari atas tubuh Kiren.
Setelah menguasai diri Keren ikut berdiri disamping suaminya. "Ini ganteng ya, gak cantik." Koreksi Kiren.
"Mana ada cowok ganteng pakek bedak." Cibir Varo.
"Ckkkk. Bilang aja mas cemburu. Iya kan?" Tanya Kiren menaik turunkan alisnya.
Kiren langsung mengaduh begitu keningnya disentil pelan oleh Varo. "Ngarang." Ucap Varo.
"KDRT ini mananya." Kata Kiren kesal.
Mengabaikan istrinya Varo beranjak keluar. Namun dengan itu bibirnya ikut tersenyum tipis, merasa lucu saat melihat wajah kesal Kiren. Sedikit banyak mengembalikan mood baik Varo.
Disana semua orang sudah berkumpul dimeja makan. Papa mertuanya duduk di kursi tengah sebagai kepala rumah tangga, sedang sisi kiri ada tante Tuti dengan anaknya disisi sebelahnya. Sedang sebelah kanan papa mertuanya ada ibu mertuanya Laras, Varo berjalan kearah sisi kosong disebelah mama mertuanya disusul Kiren istrinya duduk disisi kosong sebelahnya. Jadi Varo pas duduk berhadapan dengan Siska, yang sedari Varo datang sudah mulai mencuri-curi pandang padanya. Cuih dia kira Varo akan tertarik padanya.
"Ayo nak Varo dimakan." Ucap Herman ramah, Varo hanya mengangguk sopan menjawabnya.
Kiren tersenyum puas begitu melihat Varo makan dengan lahap. Tapi senyum Kiren tidak bertahan lama begitu mendengar suara tantenya. "Nak Varo mau nambah ayam gorengnya?" Tawar Tuti.
"Siska tolong ambilkan ayam goreng buat nak Varo." Sambung Tuti menyuruh anaknya, Siska sudah akan berdiri ketika mendengar jawaban Varo.
"Terimakasih tante, tidak perlu repot-repot tapi saya lebih suka dengan rendang mama Laras." Jawab Varo.
"Oh kalau begitu Siska-"
" Sayang bisa tolong ambilkan rendang." Ucap Varo memotong ucapan Tuti membuat Siska langsung duduk dengan tatapan kesal.
Sayang..
__ADS_1
Varo barusan manggil gue sayang kan ya. Duh.. Duh.. jantung gue langsung berasa mau salto denger Varo manggil gue gitu. Aaaaaa mama Kiren kan jadi seneng...
"Oh i-iya."
Kiren tersenyum puas melihat wajah masam tantenya, dan lirikan sinis sepupunya. Bodo amat Kiren lagi seneng sekarang.
Laras dan Herman saling lirik sambil menahan senyum.
"Nak Varo kapan-kapan mampir kerumah tante ya, nanti tante masakin rendang spesial buat nak Varo. Rendang tante itu gak kalah enak lo sama masakan Laras." Ucap Tuti menyembunyikan wajah masamnya dengan senyum manis yang terlihat dipaksakan.
"Menantuku itu mbak orangnya sibuk, jadi gak bisa keluyuran buang-buang waktu." Kata Laras kesal.
Kakak iparnya ini memang benar-benar sinting. Mana ada orang tua yang seperti ini, berlagak paling benar sampai-sampai menyodorkan anaknya pada pria yang sudah ada yang punya. Kecuali kalau pria itu masih singel itu sih tidak masalah, lah ini orang prianya sudah beristri apa bukan orang sinting itu jika seperti itu.
"Gimana nak Varo?" Kata Tuti mengabaikan tatapan kesal Laras.
"Varo sih terserah Kiren tante." Jawab Varo sekenanya.
Mendengar jawaban Varo wajah Tuti langsung merah padam. Antara kesal dan marah.
"Nak Varo tante kasih tau ya. Apa-apa jangan terlalu nurut sama istri, nanti lama-lama ngelunjak istrinya."
"Ya gimana gak nurut tan orang Varo cinta mati sama Kiren." Celetuk asal Keren.
Mengundang kekehan Varo, dan senyum kemenangan Laras.
Melihat Varo yang terkekeh, Kiren langsung tertegun begitu pun Siska yang duduk di depan Varo. Tidak lama tapi cukup membuat jantung Kiren mau copot dari tempatnya.
Menoleh pada Kiren. "Cinta mati ya." Goda Varo pada Keren.
Kiren langsung menyengir bagitu digoda Varo, tak urung pipinya tetap bersemu merah. Maluuu. Ternyata diam-diam suaminya bisa menggoda Kiren juga.
Kalau biasanya perempuan digoda akan merona malu-malu. Berbeda istri Varo, digoda bukanya malu malah nyengir tak tau malu. wkkwkw.
__ADS_1
Bersambung...