SUAMI ANTI ROMANTIS

SUAMI ANTI ROMANTIS
Gadis ganjen


__ADS_3

Kiren berulang kali mendesis melihat keakraban suaminya dengan wanita yang kemarin dia temui di pantai bersama suaminya.


Siapa ya namanya, Jina? Jenang? Jihan? Ah ya Jihan. Gak namanya kebagusan kalau Jihan. Jihan?. Yang cocok itu namanya Jenang, iya Jenang, soalnya itu badan udah kayak Jenang yang suka nempel-nempel di badan Varo.


Emang dasar semua laki-laki ganjen disodorin badan kurus krempeng gitu aja mau-mau aja. Gak sadar apa dari tadi aku liatin dari sini.


Seperti itu lah teriak-teriak isi hati Kiren. Dengan tatapan membunuh Kiren seakan siap menguliti siapa saja yang dipandangnya.


Kiren saat ini sedang duduk di sebuah kursi di sudut ruangan rapat Varo. Matanya terus memperhatikan suaminya yang duduk tenang dengan wanita yang duduk disampingnya yang terus beringsut maju, sepertinya terlihat sengaja menempelkan gunung kembarnya yang menurut Kiren datar gak ada seksi-seksi nya. Cih seksian juga punya gue.


Kenapa juga itu Jenang nempelin suaminya, kenapa gak cowok yang lain. Contohnya tu disamping kiri Varo, ada cowok yang gak kalah ganteng dengan suaminya. Tadi pas Kiren baru pertama masuk keruangan ini, bahkan cowok itu udah senyum manis kearah Kiren.


Bukan sok ke GRan ya tapi itu lah faktanya. Bahkan sedari tadi cowok itu suka curi-curi pandang kearah Kiren. Tapi tenang Kiren tetap setia kok sama paksu, buktinya Kiren pura-pura gak liat dan sibuk dengan gadget.


"Mbak Jesi." Panggil Kiren pada sekertaris Varo yang berdiri tak jauh darinya.


"Iya bu?" Ucap Jesi berjalan kearah Kiren.

__ADS_1


"Mas Varo masih lama gak sih rapatnya?" Tanya Kiren yang sudah berasa bosan.


"Mungkin sebentar lagi bu, 30 menitan lagi."


Nunggu 10 menit lagi aja gak kuat, apa lagi nunggu 30 menit. Tau gitu mending gue gak ikut Varo, bobok cantik di hotel aja kan enak.


"Aku boleh keluar sebentar gak. Bosen ni nunggu disini."


"Tapi tadi pak Dipta pesen kalau ibu gak boleh kemana-mana."


"Aku gak bakal jauh-jauh kok, jalan-jalan sekitar sini aja udah bosen banget soalnya." Ucap Kiren memelas, bahkan wajahnya dibuat senelangsa mungkin.


"Tapi bu-"


"Dah gk papa. Tenang, entar aku yang tanggung jawab kalau mas Varo marah." Ucap Kiren berdiri dari duduknya.


"Apa mau saya temeni aja buk?" Tawar Jesi.

__ADS_1


"Jangan, nanti kalau mas Varo butuh sesuatu gimana? Malah berabe lagi kalau mbak tinggal. Bisa malah ngamuk entar dia."


"Tapi saya lebih takut kalau ibu pergi sendiri. Disini agak susah signal soalnya bu. Apa lagi disini sangat rawan buat orang-orang baru seperti kita, takutnya ibu nyasar. Saya temani saja ya?" Tawar Jesi.


"Aku kan bukan anak kecil mbak, udah deh jangan khawatir. Aku gak bakal jauh-jauh kok. Ok!!"


"Tap-"


"Mbak gak percaya sama aku?" Tanya Kiren mulai sedikit kesal.


Jesi langsung menggeleng panik begitu dengar Keren bertanya dengan nada yang mulai kesal. Sangat bahaya kalau istri bosnya ini tersinggung dan marah kan.


"Ya udah kalau gitu aku pergi ya. Bye mbak Jesi." Ucap Kiren santai sambil melangkah keluar ruangan.


Jesi hanya memandang punggung istri bosnya dengan tatapan nanar, takut-takut jika terjadi sesuatu dengan istri bosnya itu.


...----------------...

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2