
Kiren duduk di meja bar dengan senyum yang terus terukir dibibirnya. Dia benar-benar bahagia hari ini, pernikahanya pun terasa begitu manis akhir-akhir ini. Gak salah dia nikah sama anak konglomerat kalau ujung-ujung nya dia dapat merasakan kemewahanya juga. Anggap saja Kiren mata duitan atau matre tapi yang jelas perempuan mana sih yang gak bakal bahagia kalau punya suami yang guantengg bingitzzz sampai buat mata silau karna kegantenganya. Dih kok gue jadi lebay sih.
Ah rasa-rasanya Kiren sudah tidak sabar membayangkan akan setampan apa anaknya nanti. Apa anaknya nanti akan mirip denganya atau mirip suaminya. Tapi yang jelas anaknya pasti luar biasa nanti punya mama yang cantik seperti Kiren, papa tampan seperti Varo, dan juga yang kaya habis. Bahkan sampai tujuh turunan pun tidak akan habis.
"Sehat loe mbak. Dari tadi gue perhatiin senyum-senyum sendiri?" Sindir Yuli yang baru selesai mangantar pesanan pelanggan.
Kiren mendelik. "Loe ngatain gue!!"
"Eh..Bukan gitu mbak maksud gue." Panik Yuli. "Ngeri aja gitu liat loe mbak dari tadi senyam-senyum gak jelas, takut loe ketempelan jin aja. Sumpah." Sambung Yuli mengangkat jari telunjuk dan jari tengah seperti huruf V.
"Jin pala loe botak." Ketus Kiren.
Yuli yang mendengar nada ketus atasanya malah cekikikan tidak jelas. "Mbak loe udah denger gosip terhangat belum?" Tanya Yuli mengalihkan pembicaraan.
"Gue gak tertarik sama gosip-gosip gak berbobot yang keluar dari mulu orang-orang kayak loe. Gak ada faedahnya juga gue dengernya." Ucap Kiren sambil memainkan hp didepanya sambil sesekali melirik Yuli malas.
"Elah sombong amat. Serius ya mbak, ini itu beneran, lagi panas juga soalnya. Anak-anak juga lagi pada ngomongin kalau adeknya mbak Hanum-" Yuli sengaja menggantungkan kata-katanya ingin melihat bagaimana reaksi atasanya begitu mendengar Yuli membahas adik bosnya yang ganteng habis. Yuli tau atasanya ini kan penggila laki-laki tampan.
Mendengar Yuli menggantung kata-katanya membuat Kiren menoleh cepat kearahnya. "Apa?" Tanya Kiren penasaran.
Tawa Yuli pecah mendengar nada kepo atasanya. Tadi aja sok jual mahal menolak eh waktu denger cowok cakep langsung aja gercep.
"Upss. Mbak kan tadi gak tertarik ya, yaudah lah gue kebelakang aja gosip sama anak-anak!!"
"Loe berani jalan selangkah aja dari sini gaji loe gue potong setengah." Ancam Kiren.
"Iss apa sih mbak dikit-dikit potong gaji."
"Mangkanya buruan cerita. Tanggung jawab loe gue udah penasaran juga mau main kabur aja." Omel Kiren.
__ADS_1
"Iya. Iya."
Mendekat kearah Kiren, Yuli berbicara sedikit lebih menurunkan volume suaranya.
"Adek nya mbak Hanum udah nikah mbak. Tapi nikahnya bukan sama cewek yang sering dibawa kesini."
"Loe tau dari siapa?"
"Dari sumber terpercaya lah."
"Loe tau dia nikah sama siapa?" Tanya Kiren sedikit was-was.
"Enggak." Jawaban Yuli sontak membuat Kiren bernafas lega.
"Gue sih gak penasaran kenapa tu cowok gak jadi nikah sama tu cewek mbak, cuman gue penasaran gimana muka istrinya sekarang lebih cantik apa lebih burik. Kan sayang aja cowok secakep itu dapet istri yang burik." Sambungnya.
"Lah ngapa mbak yang sewot. Selow kali mbak. Emang mbak gak sakit hati kalau adeknya bos kita dapet istri celek, burik lagi. Apalagi biasanya kan mbak, cowok kalau pacar atau tunangannya cantik dan gagal nikah pasti istrinya jauh dari mantan-mantanya."
Suee. Yuli ngatain muka gue burik. Gue lakban juga entar muka ni orang. Gak tau apa kalau gue ini bininya Varo. Awas aja kalau status gue udah terbongkar gue bejek-bejek ni orang.
Mata Kiren langsung melotot begitu mendengar ucapan Yuli.
"Kalau menurut loe gue pantes gak Yul nikah ma cowok cakep begitu." Tanya Kiren manarik turunkan alisnya.
Yuli nampak berfikir. "Gak ada pantes-pantesnya mbak."
"Iya lah gak pantes orang gue cantik kayak bidadari gini, disandingin sama papan seluncur model datar gitu."
"Bidadari Comberan." Ledek Yuli.
__ADS_1
"Terserah loe deh Yul, malas gue denger ocehan loe yang gak bikin sakit kepala." Ucap Kiren sambil mengusir Yuli menggunakan tanganya. "Udah sono loe balik kerja butek otak gue liat muka loe lama-lama." Yuli langsung mencibir mendengar kata-kata atasanya, tadi saja dia kepo giliran sudah tau ngusir.
*****
Kiren memutarkan kepalanya kekiri-kekanan mencari mobil Varo. Setelah pulang dari caffe Kiren berencana mengambil mobilnya. Tapi berhubung ingat pesan suaminya yang menyuruhnya untuk meminta ijin jika akan pulang terlambat. Maka Kiren meminta ijin dengan mengirim pesan. Tetapi emang dasar suami tampan Kiren yang selalu luar biasa dalam hal mengejutkan jantung. Dengan santainya dia mengatakan akan mengantar Kiren kerumah mamanya.
Kiren sih senang-senang saja, toh dia jadi tidak pusing mencari-cari alasan nanti kalau mamanya bertanya-tanya tentang Varo. Suaminya!!
Suara klakson mobil dibelakang Kiren membuat Keren tersentak kaget. Melirik kesal sang pengemudi. Kiren mendengus kesal karna tau suaminya lah sang pelaku yang membuatnya terkejut.
Disana Varo duduk dibelakang kemudi dengan santainya. Wajah kusut dan lelah Varo membuat Kiren yang ingin marah karna kesal luntur sudah tertelan didalam tenggorokan. Mana berani dia marah-marah disaat mood suaminya sedang tidak baik, bukanya suaminya yang takut yang ada, nanti Kiren yang berubah kisut.
Berjalan kearah kursi penumpang disamping Varo, Keren masuk tanpa berkomentar. Perasaan kesal dan gondok Kiren semakin bertambah ketika suaminya terlihat cuek dan dingin tanpa bersalah karna sudah membuatnya terkejut.
Dasar suami gak peka.
Varo menjalankan mobilnya dengan cuek, tanpa mau repot-repot memikirkan wajah kesal istrinya.
Hening sepanjang perjalanan tidak ada satupun yang membuka suara, Kiren yang sedari tadi mencoba mencuri-curi pandang suaminya pun. Lama-lama kesal karna suaminya tidak mau mencoba berbasa-basi atau sekedar meliriknya.
"Ekhhmm." Dehem Kiren.
"Ekhhmmmm...Ekhmmmmm."
"Itu mulut gak kesel apa dari tadi mingkem mulu." Gerutu Kiren pelan, bibirnya terasa gatal karna sedari tadi diam saja tau begini mending nebeng Hanum.
Varo yang tau jika Kiren sedari tadi mencoba melirik-liriknya pun tetap cuek, dan masa bodo. Moodnya sedang kurang baik sekarang, apa lagi badanya terasa lelah sekarang. Ditambah perutnya sudah demo minta di isi, karna mulutnya sedang tak berselera alhasil Varo hanya diam sambil mendengarkan gerutu Kiren sedari tadi. Tapi Varo tidak berbohong jika perasaanya sedikit lebih baik ketika melihat Kiren ada di sampingnya. Walau berisiki setidaknya Varo sedikit terhibur.
Bersambung...
__ADS_1