SUAMI ANTI ROMANTIS

SUAMI ANTI ROMANTIS
Bunga tidur.


__ADS_3

"Kiren....."


"Hei...Sayang........Bangun.......Kiren......"


Sayup-sayup suara Varo masuk kegendang telinga Kiren, membuat Kiren menggeliat pelan. Bahkan tubuhnya terasa kaku dan berat.


"Ckkkk....SAYANG.....Hei.....Bangun...."


Sekarang bukan lagi cuman suara, melainkan rasa panas dipipi Kiren, yang seperti tepuk-tepuk dengan tangan seseorang.


Langit-langit kamar yang terang benderang dengan sinar matahari yang masuk lewat cendela-cendela ruangan, langsung ada didepan mata Kiren begitu membuka mata.


Apa gue udah mati...


Menurunkan pandangan, tatapan melotot suaminya didepannya lah yang dia lihat setelah langit-langit.


Apa itu malaikat penjaga kubur...Kok mirip laki gue sih..


PLETAK.....


"AUUUUUU....." Ucap Kiren mengusap keningnya pelan. Dan memandang Varo penuh protes.


"Hilangkan pikiran-pikiran konyol didalam kepalamu itu Kiren..." Ucap Varo kesal.


Kiren mengusap-usap keningnya pelan.


Eh...Kok sakit....Kalau bisa ngerasain sakit..Berarti belum mati kan ya...


Mengerjabkan mata berulang kali, Kiren memutarkan kepala dengan mata menatap tajam kepenjuru ruangan. Mata Kiren melotot sempurna begitu tau bahwa dia sekarang berada didalam ruang rawat. Bukan ditengah jalan seperti yang barusan dia alami.


Kok bisa.


"Mas." Panggil Kiren meraih sebelah tangan Varo. Saat ini, Kiren lah yang berbaring diatas ranjang. Lengkap dengan selimut menyelimuti kakinya sebatas pinggang. Sedang Varo, duduk miring dipinggir ranjang.


"Ini.....Di------mana?" Tanya Kiren sambil menatap lurus kearah suaminya.


"Apa?" Tanya Varo terdengar heran ditelinga Kiren.


"Ini dimana?" Ulang Kiren memperjelas.


"Dimana? Ya dikamar rawat ku lah...Dimana lagi memangnya..." Jawab Varo enteng.


"Bukan disurga?"


"Apa?"


"Ini bukan surga?"


PLETAK....


"Auuuuuuu..Kenapa memukul jidat mulus ku sih..." Protes Kiren sambil memukul pelan lengan Varo.


"Aku cuman nyentil bukan mukul.." Koreksi Varo kesal.


"Isssss..."


Kiren kembali diam, mengingat-ngingat. Bukankah terakhir kali dia ada ditengah jalan, lalu kenapa dia ada diatas ranjang sekarang.

__ADS_1


Jangan-jangannnnnn


"MAS...." Teriak Kiren heboh. Hingga membuat Varo yang duduk didepanya tersentak kaget.


"APA SIH.." Ketus Varo.


Dengan cepat Kiren langsung duduk dari berbaringnya. "Apppp-----apa...Aku dirawat karna kecelakaan itu??? Berapa lama aku gak sadarkan diri? Anak kita gak papa kan???" Tanya Kiren dengan mata berkaca-kaca. Yang dibalas dengan dengusan kesal oleh Varo.


Istrinya ini benar-benar pintar memancing emosi Varo ternyata. Bangun-bangun malah ngomong ngelantur. Apa efek tidur terlalu lama membuat Kiren kehilangan kadar kewarasannya.


"Apa tidur tujuh jam membuat kamu semakin stresss." Ucap Varo tak berperasaan bahkan nada suaranya begitu ketara kalau sedang kesal kepada Kiren.


"Hah.." Ucap Kiren melongo.


"Sudah cepat bangun...Kita sudah boleh pulang sekarang.." Ucap Varo pelan. Dan bersiap bangun sebelum lenganya ditahan oleh Kiren.


"Apalagi?" Tanya Varo berusaha sabar.


"Apa aku gak papa?" Tanya Kiren dengan nada serius.


"Apa kamu ngerasa sakit?"


"Aku serius tau..."


"Ckkkkkk...Sekarang badan kamu terasa sakit tidak?"


Kiren diam, merasa-rasakan tubuhnya. Apa ada yang terasa sakit atau tidak. Bahkan Kiren sampai mengangkat sebelah tanganya, dan diputar-putar dengan tangan sebelah memegang punggungnya.


Turun dari ranjang dengan cepat. Kiren berdiri disamping ranjang dengan tubuh sedikit membungkuk, mata terus memperhatikan kedua kakinya.


Dengan senyum semakin lebar, Kiren melompat-lompat pelan. Tepat didepan Varo.


Melihat Kiren yang melompat begitu cepat, membuat jantung Varo terasa mau lepas dari tempatnya.


Masih dengan senyum lebar, Kiren manatap suaminya yang wajahnya sudah ditekuk masam didepanya.


"Apa aku sehat mas?" Tanya Kiren senang, bahkan Kiren sampai memeluk pinggang Varo erat dengan kaki sedikit ditekuk dan wajah mendongak kearah suaminya.


Varo mendengus kuat mendengar pertayaan ajaib istrinya. Dengan kejam Varo meletakkan telunjuk tanganya dikening Kiren. "Berhenti bersikap kurang waras...Aku gak mau anak ku rontok dari perut kamu..." Ucap Varo sambil menekan-nekan telunjuknya dikening Kiren. Membuat Kiren mengerucutkan bibirnya sebal.


"Dikira bunga kali rontok..." Gerutu Kiren kesal.


"Apa menurut kamu keluar dari perut kamu sebelum waktunya itu tidak rontok?" Tanya Varo menangkup wajah Kiren dengan kedua tanganya. Membuat Kiren hanya nyengir lebar dengan menunjukkan deretan giginya. Yang membuat Varo gemas dan kesal secara bersamaan


"Ayo, kita harus pulang sekarang.." Sambung Varo melepaskan tanganya dari wajah Kiren.


"Mas...Tunggu..." Ucap Kiren menahan lengan Varo ketika melihat suaminya akan berbalik.


"Apa....Lagi?" Tanya Varo gemas.


"Kenapa aku bisa berbaring diatas ranjang?" Tanya Kiren dengan nada serius.


"Suami mana yang akan diam saja ....Saat melihat istrinya yang sedang hamil tidur sambil duduk disamping ranjangnya.." Omel Varo kesal.


"Terus mas tidur dimana, pas aku tidur diranjang? Kan mas lagi sakit."


"Ckkkkkk....Apa aku harus menjawab itu juga sekarang?"

__ADS_1


Dengan tatapan polos Kiren mengangguk berulang kali. "Mas." Rengek Kiren sedikit memaksa ketika melihat suaminya yang tak kinjung menjawab.


"Ya tuhan....Bagaimana bisa aku menikah dengan wanita seperti ini..." Gerutu Varo kesal.


"Isss aku denger ya." Ucap Kiren memukul perut Varo pelan. Membuat Varo meringis pelan.


"Tadi kita tidur diranjang yang sama, sebelum kamu mendorong ku jatuh kelantai..." Seru Varo sambil berlalu pergi dari depan Kiren. Merasa kesal.


Varo benar-benar kesal saat mengingat kejadian memalukan tadi pagi, mana dengkuran istrinya sangat kuat. Membuat dokter dan beberapa suster yang memeriksanya terkekeh pelan dibuatnya.


Bahkan dokter tadi mengatakan, bahwa Kiren adalah salah satu keluarga pasien yang bisa tidur senyenyak itu dirumah sakit ini. Sampai mendengkur pula.


Membuat Varo juga ikut terkekeh pelan. Merasa takjub dengan tingkah ajaib istrinya. Senyenyak apa memang istrinya itu tidur hingga bisa sampai mendengkur sekuat itu.


"Jadi tadi aku ndorong mas jatuh kelantai?" Tanya Kiren memastikan, bahkan kini Kiren sudah berdiri didepan Varo. Menghadang suaminya yang bersiap keluar ruangan.


"Iya." Ucap Varo gemas.


"Udah.....Ayo pulang...Mas udah laper..." Sambung Varo ingin meraih tangan Kiren. Tapi dengan cepat Kiren menyembunyikan tanganya belakangnya punggung. Membuat Varo menatapnya penuh protes.


"Aku belum selesai ngomong tau..."


"Ngomongnya entar aja...Sekarang kita cari makan dulu...Mas udah laper soalnya."


"Gak...Kita gak akan kemana-mana... Sebelum aku selesai cerita..." Ucap Kiren tegas. "Mas tau gak, tadi aku mimpi buruk...Bahkan lebih serem dari film horor...Aku yakin kalau mas denger pasti mas gak percaya....." Sambung Kiren lagi.


"Memangnya kamu mimpi apa?" Tanya Varo berusaha sabar.


"Aku.......Ak---u tadi mimpi kecelakaan...." Ucap Kiren memandang lurus kearah Varo.


Hening, tidak ada yang bersuara setelah Kiren mengatakan mimpinya.


"Mimpi itu kayak nyata banget....Bahkan, aku tadi sempet gak percaya kalau aku cuman mimpi....Karna perasaan ku...Aku bener-bener ngalami kecelakaan itu....." Cerita Kiren pelan. Varo yang awalnya merasa enggan mendengar cerita istrinya. Kini menatap lurus kearah Kiren. Menunggu istrinya melanjutkan ceritanya.


"Kaki ku yang bener-bener kerasa nyentuh dinginnya aspal.....Jeritan orang-orang disekeliling ku.....Bahkan, waktu mobil itu nyentuh tubuh ku.....Semua terasa beneran kayak nyata...."


"Tapi, waktu aku tiba-tiba bangun didepan mas....Diranjang mas.....Aku lega banget...." Ucap Kiren lirih.


"Itu artinya aku cuman mimpi." Sambung Kiren tambah lirih.


Varo langsung melangkah mendekat, memeluk tubuh ramping istrinya. Tidak menyangka, jika istrinya mengalami mimpi semengerikan itu.


"Itu hanya bunga tidur sayang..." Bisik Varo ditelinga Kiren. "Tidak apa-apa....Kamu aman disini dengan ku sekarang..."


"Bagaimana jika nanti aku benar-benar mengalami mim---"


"Sssssssttttt....." Ucap Varo memotong ucapan Kiren.


Menangkup kedua pipi istrinya, Varo meletakkan keningnya dengan kening Kiren hingga menempel. "Mas janji....Mas akan terus berusaha menjaga kamu dan calon anak kita...Insya allah...Allah akan selalu jaga kita dari hal-hal buruk, asal kita selalu berbuat baik dan percaya denganya...."


"Mimpi kamu adalah bunga tidur sayang...Insya allah, kamu dan calon anak kita akan baik-baik aja...Mas akan terus berusaha sekuat dan semapu mas, buat jaga kalian...Gak peduli jika nyawa mas nanti sebagai taruhanya...Karna kalian adalah dunia mas....Mas gak akan bisa hidup tanpa kalian...."


Varo kembali menarik Kiren masuk kedalam pelukannya. Memeluknya sedikit erat. Berharap istrinya akan percaya.


"Kamu bisa megang kata-kata mas kalau mas sampai ingkar....Mana mungkin mas bisa hidup tanpa perempuan ajaib kayak kamu sayang..." Ucap Varo sedikit bergirau. Yang langsung mendapat cubitan maut dari Kiren.


"Mas..."

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2