SUAMI ANTI ROMANTIS

SUAMI ANTI ROMANTIS
Pelukan Hangat


__ADS_3

Karna capek Kiren duduk bersandar dibawah pohon. Menekuk kedua kaki nya, Kiren pun memeluknya dengan kedua tanganya.


"Hiks....hikssss....ini beneran gue gak dicariin..Hiksss...Hiksss tega banget sih paksu..Hikssss..Gue ilang gak dicariin. Untung itu tadi cuman ****, kalau singa gimana? Bisa innalilahi gue...Huuuuu..."


Kiren terus menenggelamkan wajahnya didalam selah-selah lututnya. Dres yang dia gunakan sudah benar-benar tak berbentuk. Diujung-ujung dres sudah kotor dan sobek-sobek terkena ranting-ranting pohon. Bahkan jaket rajutnya juga sudah kotor oleh tanah.


Entah tuhan sedang memberikan sebuah mukzijat atau dewi fortuna sedang berpihak padanya. Tiba-tiba ponsel Kiren bergetar didalam genggamanya. Membuat Kiren buru-buru mengangkat kepaalnya.


Seperti mendapatkan air ditengah gurun pasir yang tandus, secepat kilet Kiren melihat layar ponselnya.


PAKSU LOPELOPE


Nama itu yang langsung memenuhi layar ponselnya. Antara kesal, marah, senang, bahagia bercampur aduk menjadi satu. Saat nama Varo lah yang pertama kali menghubunginya, membuat senyum haru Kiren terbit seketika.


Dengan tangan gemetar, Kiren menggeser tombol hijau di layar ponselnya.


"Kiren kamu baik-baik saja? Kamu ada dimana sekarang Kiren? Apa terjadi sesuatu?" Berondong pertanyaan Varo kepada Kiren.


Kiren yang mendengar suara suaminya, langsung kembali menangis. Bibirnya seperti terkunci hanya untuk menjawab pertanyaan Varo, sedang air matanya terasa tidak bisa dibendung lagi.


"Kiren jawab? Ada apa? Kenapa? Kamu sakit? Atau terjadi sesuatu!! Kenapa kau menangis?" Tanya Varo panik karna mendengar isak Kiren disebrang telpon.


Kiren hanya menggeleng pelan menjawab pertanyaa Varo, seakan Varo ada didepanya dan melihat gelengan kepalanya.


Mendengar Kiren semakin terisak Varo semakin dilanda panik luar biasa. Oh hebat sekali efek tangis Kiren untuk tubuh Varo. Ini adalah pertama kalinya ALVARO PRADIPTA dilanda panik diusianya yang sudah menginjak dua puluh tujuh tahun. Harus kah setelah ini istri cantiknya itu mendapatkan penghargaan karna berhasil membuat mood dan emosi Varo naik turun di waktu yang bersamaan.


"KIREN BERHENTI MENANGIS. JANGAN MEMBUAT AKU SEMAKIN PANIK. JAWAB PERTANYAAN KU KIREN." Teriak Varo marah.


WAW hebat sekali Varo, entah sudah berapa kali hari ini dia berteriak marah, dan semua itu hanya karna mengkhawatir kan satu orang wanita, yang bahkan baru beberapa bulan dia kenal. Kemana larinya Varo yang cuek dan tak begitu peduli dengan orang baru bahkan cenderung masa bodo.


Jika kakaknya Hanum tau, sudah dipastikan Kiren, istrinya langsung mendapatkan piala world cup dunia saat ini juga. Harus kah dia bangga akan hal itu?


Dan biasanya, se'emosi apa pun Varo, ia tetap bisa menjaga intonasi suaranya, ia akan tetap tenang walau amarahnya sudah sampai diubun-ubun. Tapi, hanya karna tangisan istrinya. Ia bisa meledak-ledak dan berteriak murka?


"HUEEEEEE Aku nyasar Varo.....Nyasaaaarr... Gak tau ada dimana. Adanya cuman pohon...Mana hutannya serem..Horor...Sumpah....Aku takut.....Gak mau nginep.... Gak mau....." Cerocor Kiren disela-sela tangisnya.


Ok fix, Varo cuman bengong mendengar ucapan ajaib istrinya. Secara bersamaan, Kiren berhasil membuat Varo merasa kesal, lucu ingin tertawa, tapi juga marah karna khawatir. Ajaib kan?


"Gimana aku bisa keluar Varo.....Gimana....semua pohonya sama.....Perut aku laper....haus juga......" Sambung Kiren sambil terus menangis.


Varo mendengus kuat mendengar ucapan istrinya. Disaat seperti ini, saat semua orang sedang panik dan khawatir dibuatnya, dengan seenak jidat ia malah memikirkan perutnya. Konyol sekali istrinya itu.


"Baiklah setelah aku menemukan mu, kita akan makan dihotel sepuasnya. Jadi, sekarang hentikan tangisan mu, Kiren."


"Hiks...Hiks....Gimana cara berhentiinya...Air mata ku gak mau hiksss...ber....henti..."


Varo bedecak kuat mendengar alasan istrinya.


"Sekarang tarik nafas pelan-pelan dari hidung dan keluarkan dari mulut..Pelan-pelan saja...Agar kamu bisa tenang Kiren... ." Ucap Varo memberi arahan.


Kiren dengan patuh mengikuti arahan suaminya. Hidungnya ikut kembang kempis memperaktek kan arahan Varo. Karena terlalu banyak menangis, membuatnya terasa mampet karna tersumbat.


"Bagaimana? Sudah?" Tanya Varo setelah beberapa menit.

__ADS_1


"Iya."


"Sudah merasa lebih baik?"


"Iyaaaaa."


"Ok sekarang dengarkan aku. Kamu bisa serlok saat ini kan?."


"Y-a." Jawab Kiren sedikit tak yakin.


Apa bisa Varo mengikuti serlok yang dia kirim, nanti kalau tiba-tiba sinyalnya hilang ditengah jalan, gimana? Beneran nginep Kiren disini.


"Gak usah khawatir, aku akan kirim lokasi kamu ke Jesi. Agar dia juga bisa mengecek dan mengirim beberapa orang untuk ketempat kamu. Dan juga dia bisa mengarahkan ku, berjaga-jaga jika sinyal di ponselku hilang. Jadi gak usah khawatir kita akan keluar dari sini, secepatnya." Ucap Varo berjanji dan mencoba menenangkan Kiren.


"Kamu janji?"


"Ya, Kiren. Aku janji." Ucap Varo dengan nda tegas.


"Baik lah, sekarang aku akan menunggu serlok dari kamu. Jangan nangis lagi. kamu dengar!!"


Kiren mengangguk. "Iyaa.."


"Ok aku matiin telponya sekarang. Bye.."


Begitu telponya dimatikan, Kiren langsung cepat-cepat mengirim lokasinya saat ini. Perasaanya sedikit lega sekarang, apa lagi mendengar Varo juga mengkhawatirkanya. Dan asumsi buruk yang tadi sempat dia fikirkan, ternyata tidak terjadi.


...----------------...


Entah sudah berapa lama Kiren menunggu dibawah pohon itu. Tapi yang jelas, dia hampir tertidur karna sejuknya angin dan asrinya suasana membuat matanya terasa berat.


Apa itu Varo.


Sayup-sayup Kiren mendengar namanya terus dipanggil.


Dih, bukan dedemit kan ya? Apa jangan-jangan, kaum **** tadi?.


Menelan ludah gugup, Kiren semakin merapat kan tubuhnya kearah pohon. Berjaga-jaga jika bukan Varo yang memanggilnya dia akan memanjat keatas pohon.


(Dih emang bisa..)😂😂😂


Mengerjapkan mata pelan, rasa gugup tadi berganti menjadi rasa takut ketika tidak mendengar suara yang tadi memanggilnya, melainkan langkah kaki yang semakin mendekat kearahnya.


Memasukan wajahnya di sela-sela lututnya. Kiren terus meramalkan doa berharap itu bukan hantu yang sedang keliling menjaga hutan.


Ya tuhan lindungi Kiren.


"KIREN."


Mendongak. Didepanya Varo sedang berdiri dengan nafas memburu dan keringat membanjiri tubuhnya. Bahkan jasnya sudah berpindah tempat ke genggam ditanganya sebelah kanan.


Itu paksu bukan sih. Kok ganteng bangettt. Bisik dalam hati.


"Kiren." Panggil Varo lagi membuat kesadaran Kiren kembali.

__ADS_1


Varo terus melangkah mendekat. Melihat Varo yang melangkah mendekat, Kiren langsung bangun dan menubruk tubuh tegap suaminya. Tangisnya pun pecah, sepecah-pecahnya.


Perasaan lega, nyaman, bahagia dan senang bercampur jadi satu. Seakan dia ingin mengatakan pada Varo jika dia membutuhkan pelukan ini, dan mengadu jika rasa takut yang tadi dia rasakan hilang berganti rasa lega luar biasa.


Mendengar istrinya menangis dipelukanya, Varo semakin erat memeluk istrinya seakan meyakinkan Kiren, jika semua akan baik-baik saja, Kiren sudah aman sekarang. Sambil terus membisikan kata-kata penenang ditelinga Kiren. Tidak lupa, Varo juga berulang kali mengecup kening Kiren menyalurkan rasa lega luar biasa didalam hatinya. Sabagai simbol jika tadi dia juga tak kalah khawatir padanya.


Varo merasa lega saat mendengar tangisan Kiren mulai reda, digantikan dengan isak-isak kecil. "Sudah merasa lebih baik?" Tanya Varo lembut.


Kiren hanya mengangguk menjawab pertanyaan Varo masih dalam pelukan suaminya. Kemeja Varo bahkan sudah basah oleh air mata Kiren.


"Sekarang kita sudah bisa pergi."


Kiren melepas pelukanya dan mendongak, melihat wajah suami tampanya. Menarik sudut bibirnya. "I----ya." Jawab Kiren.


Begitu mendengar jawaban Kiren, Varo mengeluarkan ponsel dari saku celanaya dan menghubungi seseorang. Setelah selesai, Varo menatap Kiren intens, cukup lama, karena membuat Kiren merasa sedikit risih dan malu.


Varo sedikit menunduk, dan mengikat jasnya saat memperhatikan rok. istrinya tampak mengenaskan dan kotor. Setelahnya Varo mengikat jasnya diantara pinggang dan perut Kiren. Varo langsung berbalik memunggungi Kiren.


Kiren kira, Varo akan meninggalkanya seperti biasa, namun matanya hampir keluar karna terlalu besar melotot. Saat melihat suaminya, Varo berbalik bukan untuk berjalan meninggalkanya. Tapi berbaik untuk berjongkok didepannya.


Mulut Kiren sampai menganga tidak percaya. Beneran Varo mau menggendongnya? Bener gak sih ini? Ini langka, beneran. Karna Varo bukan cuman menawarka telapak tangan untuk menuntun Kiren, tapi ini lebih extrim dari itu.


Varo berjongkok didepanya!! Iya berjongkok.


Kalian gak percaya kan!!! Iya sama, aku juga.


"Mas kamu?"


"Ayo naik Kiren."


"Tapi-" "


"Cepet sebelum gelap." Potong Varo cepat.


Dengan ragu-ragu Kiren melingkarkan tanganya di leher suaminya. Melihat keraguan istrinya, Varo langsung menarik tangan Kiren agar lebih rapat pada tubuhnya. Dan berdiri sambil menahan berat tubuh istrinya dengan tangan dikaitkan dibelakang tubuh Kiren.


Kiren terpekik kuat karna kaget saat Varo tiba-tiba berdiri. Reflek dia langsung berpegangan erat.


"Ckkkkk. Ren peganganya jangan terlalu erat." Protes Varo.


Kiren hanya menyengir menjawab protesan suaminya. "Eh iya-iya, maaf."


Kiren langsung melonggakan pegangan tanganya dan meletakan dagunya di pundak Varo. Jika seperti ini, Kiren seperti memeluk Varo dari belakang. Membuat senyum lebar terbit dibibirnya. Duh nyamannya.


"Mas."


"Hmmm."


"Kamu tau jalan balik ketempat gedung tadi?"


"Aku udah ngasih tanda di setiap simpang. Jadi kita gak akan nyasar."


Kiren hanya mengangguk hikmat mendengar jawaban suaminya. Gak salah sih Varo jadi tajir orang otaknya encer, emang Kiren gumpel kayak daging....😅😅😅😅

__ADS_1


Bersambung......


__ADS_2