SUAMI ANTI ROMANTIS

SUAMI ANTI ROMANTIS
Tamu tak diundang...


__ADS_3

"Mas, kamu kok ganteng banget sih?" Tanya Kiren dengan siku yang bertengger di dashboerd mobil lalu telapak tangan nya yang menopang dagu.


Memang setelah malam yang panjang mereka, Kiren memang terang-terangan menunjukan rasa sukanya pada Varo. Mulai dari berani memandang terang-terangan, memuji sampai memanggil Varo sayang.


Sedangkan Varo menjadi salah tingkah sendiri mendengar pujian dari Kiren. Jika Varo pelan-pelan tapi pasti, berbeda dengan istrinya yang malah terlihat agresif dan ceplas ceplos. Seakan sudah menjadi seperti bajai, gassss terusss..... sampai remnya blong...


"Jangan jail bisa gak sih!!"


"Hisss... Aku serius juga."


Varo yang memdengar ucapan istrinya hanya diam dengan telinga memerah, karna malu.


Hari ini Varo menjemput Kiren pulang dari caffe. Dan mereka akan pulang bersama.


Dan disini lah mereka, didalam mobil dengan Kiren yang terus menjaili suaminya. Membuat Varo hanya bisa pasrah dengan dada yang semakin berdebar tak karuan karna perbuatan istri cantiknya.


"Liat depan aja ah." Suruh Varo pelan memutar kepala Kiren.


"Gak mau. Aku kan mau mandangin suami!! Yang gantengnya pakek banget..." Tolak Kiren memutar kepalanya lagi, kearah Varo. Dengan senyuman secerah matahari dan mata mengerling jail.


"Kamu seneng banget sih jailin aku!!" Ucap Varo sambil melirik Kiren kesal, yang masih asik memandang kearahnya dengan mata berkedip-kedip lucu.


"Mas gak suka aku puji?" Tanya Kiren mendekatkan wajahnya.


"Bukan gak suka, tapi lama-lama telinga aku sakit denger pujian kamu." Canda Varo.

__ADS_1


"Jahat banget." Ucap Kiren cemberut.


"Tapi kamu suka kan?"


"Banget."


Varo mengusap kepala Kiren dengan sayang, Varo memang menunjukan rasa sayangnya lewat tindakan. Sedang Kiren dengan kata-kata.


Jika Kiren suka menggobali Varo, beda halnya Varo yang biasa-biasa saja. Tapi selalu bisa membuat Kiren senang dengan tindakanya. Walau hal sederhana, yang namanya sudah bucin tetap saja akan terlihat luar biasa. Itu lah Kiren, digandeng betar aja udah baper. Apa lagi sampai dipeluk, bisa rontok semua isi organ dalam Kiren. Isssss..Issss...Isssssss


Lima belas menit kemudian, mereka sampai diapartement. Kiren melangkah dengan ringan, dengan Varo yang berada disampingnya.


Mereka tidak bergandengan tangan, hanya jalan beriringan dengan senyum cerah yang menghiasi wajah masing-masing.


"Malam ini mas mau makan apa?" Tanya Kiren sambil memencet tombol lift.


Wajah Kiren langsung memerah, entah karna mendengar ucapan suaminya, atau karna perlakuanya. Tapi yang jelas, semua itu karna suami tampanya.


Duh kok gue jadi lebay gini sih bentar-bentar blusing.


"Jangan gitu dong, sekali-kali mas harus riquest. Biar aku masakin yang spesial."


"Gimana kalau riquestnya buat yang lain!! Biar buat makanan nya, kita pesen aja..... Biar kamu gak capek!!" Ucap Varo dengan raut wajah serius dan tangan meraih tangan Kiren.


Kiren yang memgerti akan kemana arah pembicaraan suaminya, hanya melotot galak. "Gak usah aneh-aneh. Nanti ada yang denger aja." Ketus Kiren.

__ADS_1


Varo langsung terkekeh mendengar nada ketus istrinya. "Disini kan kita cuman berdua!! Gimana?" Tanya Varo sambil mengerling jail. Kiren hanya mendengus kesal mendengar pertanyaan suaminya.


"Tapi kalau kayak kemarin, yang kamu diatas juga mas gak no-"


"Mas bahas itu lagi, mas bakal puasa satu bulan." Ucap Kiren galak, yang langsung dijawab tawa merdu suaminya.


Setelah kejadian malam itu. Suami Kiren ini langsung berubah seratus delapan puluh derajat, menjadi sedikit lebih hangat dan murah senyum.


Walau Kiren juga suka, tapi dia masih suka merasa berdebar setiap suaminya melakukan skip to skip. Contohnya saja sekarang, suaminya bahkan tidak malu-malu menciumnya atau bahkan memeluknya ketika mereka berada di lift. Membuat Kiren hanya bisa menahan nafas karna pelukan suaminya atau tawa meedunya.


Padahal dulu jangankan menggandeng, jalan disamping saja suaminya seakan anti. Selalu saja jalannya itu didepan. Buat Kiren naik darah dan emosi.


Begitu pintu lift terbuka, Kiren langsung berjalan keluar lebih dulu dengan tangan yang menarik tangan Varo.


Mereka bercanda disela-sela perjalanan menuju apartemenya, hingga sampai didepan pintu. Langkahnya berhenti.


Karna ponsel Varo berdering, tanda ada telpon masuk. Varo menyuruh Kiren lebih dulu masuk kedalam, sedang dia harus mengangkat telpon.


Kening Kiren mengkerut bingung ketika pertama kali dia masuk ada sepasang sepatu hels berada di depan pintu apartementnya. Siapa yang masuk rumah gue tanpa ijin. Pikir Kiren.


Mata Kiren melotot hampir keluar, begitu tau siapa yang duduk nyaman diruang tamu apartementnya.


"Dipta."


Jantung Kiren seakan berhenti berdetak, ketika mendengar suara merdu seorang wanita yang sedang menatap kearah belakang tubuh Kiren dengan senyum lebar dibibirnya. Seakan apa yang dilihatnya itu bukan cuman halusinasi belaka, melainkan nyata.

__ADS_1


Bersambung.......


__ADS_2