SUAMI ANTI ROMANTIS

SUAMI ANTI ROMANTIS
Cemburu.


__ADS_3

Varo terus melangkah kearah pintu, membuat mata Kiren tidak bisa lepas memandangnya. Dan ketika Ditya sampai didepan pintu Kiren langsung memejamkan matanya, dia benar-benar takut sekarang.


Bagaimana jika apa yang ada difikiranya benar, akan bagaimana kehidupanya nanti. Dan sehancur apa masa depanya nanti. Akan kah semua akan kembali seperti semula, seprti dia yang tidak mengenal Varo, begitupun sebaliknya.


Hampir lima menit Kiren memejamkan matanya, tapi tidak ada tanda-tanda suara seseorang membuka pintu atau suara pintu tertutup.


Akhirnya, dengan jantung berdebar, Kiren membuka matanya. Dan disana Varo sedang berdiri didepan pintu nampak sibuk dengan tombol-tombol pintu.


Membuat sesuatu dalam diri Kiren bergejolak, bahkan ketika suaminya berbalik dan melangkah lebar kearahnya. Kiren belum juga bisa mengontrol debar jantung dan deru nafasnya yang memburu.


Varo memandang Kiren aneh, istrinya itu nampak pucat dengan keringat dingin dipelipisnya. Melangkah lebar kearah Kiren dengan perasaan khawatir. Tapi belum sempat Varo bertanya pada istrinya, tiba-tiba Kiren langsung menerjangnya dengan pelukan erat dan tangis yang luar biasa kencang. Membuat Varo hanya bisa berdiri kaku dipekukan Kiren.


Kiren langsung menerjang tubuh tegap suaminya dengan pelukan erat. Setelah itu tangisanya pun pecah-sepecah-pecahnya. Perasaan takut, lega, bahagia kini berkumpul menjadi satu menjadi tangisan yang begitu kuat. Seakan, Kiren ingin diluapkan semuanya didepan Varo saat ini. Jika Kiren tidak akan baik-baik saja, jika Varo pergi.


Kiren sudah seperti seorang anak kecil yang kehilangan ibunya.


Varo hanya diam mematung mendengarkan tangisan istrinya, bahkan tanganya terasa kaku hanya untuk membalas pelukan Kiren. Hingga akhirnya tangisan istrinya tak kunjung reda malah semakin kuat, membuat tangan besarnya gemetar membalas pelukan Kiren.


Tapi Varo sama sekali tidak menenangkan istrinya, dia membiarkan Kiren terus meluapkan semua rasa yang ada di dalam dadanya lewat tangisan.


Tangan besarnya hanya dia gunakan untuk terus mengusap-usap pelan pungggung istrinya. Hingga hampir dua puluh menit menit berlalu baru, tangisan Kiren tak kunjung reda membaut Varo tersenyum pahit dibuatnya.


"Ssssssttttttt. Sayang tenang lah, tenggorokan mu bisa sakit jika terus menangis." Ucap Varo sambil terus mengusap punggung Kiren.


Varo menjauhkan sedikit wajah Kiren dari dadanya, diusapnya pelan air mata Kiren yang terus mengalir dipipinya.


Wajah sayu Kiren dan mata sembabnya terpampang jelas di depan wajahnya, membuat Varo tersenyum kecut melihatnya.


Varo kembali meraih Kiren masuk kedalam pelukanya, dia terus membisikan kata-kata penenang untuk Kiren, hingga lama kelamaan tangis Kiren pun berganti menjadi isak-isak kecil.


Perasaan bersalah kini menggerogoti hati Varo. Walau tidak tau persis apa yang membuat istrinya menangis. Tapi semua itu pasti tidak jauh-jauh dari masalah mereka malam ini.

__ADS_1


"Sudah merasa lebih baik?" Tanya Varo lembut.


Kiren mengangguk. "Maaf baju mas basah karna aku." Bisik Kiren lirih.


"It's ok, gak masalah." Ucap Varo melonggarkan pelukanya.


Setelah itu Varo langsung mengangkat tubuh ramping istrinya. Dibawanya Kiren dalam gendonganya masuk kekamar.


Kiren hanya menurut tidak menolak atau pun protes, tubuhnya terasa lelah sehabis menangis. Belum lagi kakinya yang terasa kram karna terlalu lama berdiri membuat dia hanya bisa pasrah dalam gendongan Varo.


Varo mendudukan Kiren diatas ranjang dengan hati-hati. Setelah mendudukan Kiren, Varo pun beranjak pergi namun belum juga melangkah lenganya sudah ditahan oleh Kiren.


"Mau kemana?" Tanya Kiren manahan lengan Varo.


Vato menoleh kearah Kiren, tanganya memepuk pelan tangan istrinya. "Sebentar, mas ambilkan minum. Tenggorokan kamu pasti sakit karna habis menangis cukup lama." Jawab Varo.


Setelah mendengar jawaban Varo, Kiren melepaskan tanganya dan membiarkan Varo melangkah keluar kamar. Dipandanginya terus tubuh tegap Varo hingga pria itu hilang dibalik pintu.


Kiren terus merenungi perasaanya, sebenarnya seberapa dalam Kiren telah terjatuh pada pesona Varo. Kenapa dia bisa sesakit itu hanya karna masalah seperti ini. Ini hanya masalah sepele bukan. Kenapa dia jadi berlebihan seperti ini.


Oh,,,,,,otaknya sudah mulai eror sepertinya.


"Jangan melamun." Ucap Varo membuyarkan lamunan Kiren. Varo menyodorkan segelas air putih kearah Kiren, yang diterima Kiren dalam diam.


"Mau cerita sesuatu?" Tanya Varo lembut sambil duduk disamping Kiren, dipinggir ranjang.


Mendengar nada suara Varo yang lembut, membuat mata Kiren kembali berkaca-kaca. "Hei. Aku tidak memaksa sayang. Kenapa menangis lagi??" Ucap Varo kembali memeluk istrinya, menepuk-nepuk pelan pundaknya agar istrinya tidak jadi menangis.


"Kenapa aku malam ini cengeng sekali." Rutuk Kiren dengan berlinang air mata.


Varo terkekeh mendengar ucapan istrinya. "Tidak apa-apa. It's ok sayang." Bisik Varo mengecup kening Kiren berulang kali.

__ADS_1


Duh paksu, cari-cari kesempatan dalam kesempitan deh....


"Tapi, aku tadi merasa takut. Apa lagi saat melihat mas melepas pelukanku, dan berjalan ingin mengejar mantan mas itu." Aku Kiren akhirnya.


Tawa Varo pecah mendengar alasan Kiren menangis tadi. Varo kira, Kiren menangis karna syok tapi nyatanya hanya karna cemburu!! Oh lucu sekali istrinya ini.


"Mas ngetawain aku?" Tanya Kiren melepaskan pelukan Varo secara paksa. Bahkan matanya kini menatap Varo tajam.


"Apa istriku sedang cemburu?"


"Aku tidak cemburu!!" Teriak Kiren kesal.


"Benarkah?" Goda Varo. "Lalu apa tadi namanya jika bukan cemburu?"


"Tau ah. Kamu kok nyebelin sih mas." Desis Kiren mendengar ucapan Varo.


Varo mengacak pelan ranbut Kiren, membiat sangempunya mendelik kesal. "Ok.. Ok... Kamu gak cemburu." Ucap Baro mengalah.


"Mas lagi godain aku."


"Mana berani mas godain kamu. Bisa beneran puasa sebulan mas, kalau sampai berani godain istri mas yang lagi marah." Canda Varo.


"Mas!!" Rengek Kiren kesal.


Sejenak dua insan itu lupa. Jika tadi, mereka sama-sama merasa takut dengan sesuatu yang samar.


Sesuatu yang hanya ada dalam fikiran masing-masing tanpa tau apa isi hati satu sama lain.


Maaf kakak" senior auto baru baca komenta, mangkanya langsung up. Makasih buat semua suportnya...Up bab selanjutnya ditunggu ya, mau yang baper-baper atau yang ketawa-ketiwiπŸ˜‚πŸ˜‰πŸ˜‰πŸ˜ƒπŸ˜ƒ


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2