
Kiren terus melangkahkan kakinya mengikuti Hanum dari belakang. Mengedarkan pandanganya kesekeliling bandara.
Jujur ini kali pertama Kiren akan naik pesawat diseumur hidupnya. Perasaan takut, nerves, dan was-was bercampur aduk menjadi satu. Membuat Kiren tidak bisa berfikir dengan jernih.
Dengan ragu Kiren terus berjalan mengikuti Hanum yang berjalan santai didepanya.
Wajah Kiren langsung putih pucat begitu melihat pesawat sudah parkir tidak jauh dari tempat berdirinya.
Sampai diujung jalan, Kiren menarik tangan Hanum yang berjalan didepanya hingga membuat Hanum menoleh kearahnya.
"Kenapa?" Tanya Hanum bingung.
"Gue kayaknya takut naik pesawat deh mbak."
"Maksudnya?" Tanya Hanum kaget sekaligus tak percaya. Ada ya, jaman modern begini orang masih takut naik pesawat.
"Perasaan gue gak enak mbak. Gue ta-----takut sumpah." Cicit Kiren pelan. Hanum terbahak mendengar ucapan Kiren. Tidak menyangka Kiren yang notabennya pecicilan alias abstrak takut naik pesawat. Ini benar-benar lucu menurutnya.
Kiren cuman tersenyum kaku. "Ya udah santai aja. Gue ada obat tidur, entar loe bisa minum pas didalam pesawat." Ucap Hanum menenangkan.
Semakin dekat pesawat yang akan ditumpanginya, semakin membuat Kiren merasakan tubuhnya panas dingin. Bahkan keringat dingin yang sedari tadi membanjiri tubuhnya, semakin banyak hingga hampir sekujur tubuhnya basah kuyup karna keringat.
"Ren ayok.." Ajak Hanum yang sudah berdiri agak jauh dari Kiren.
__ADS_1
"Mbak gue takut..... Serius deh. Sumpah demi apa pun, gue ngeri mbak...." Ucap Kiren dengan raut wajah hampir menangis sangking takutnya.
"Santai aja kali Ren. Pesawatnya gak bakal goyang, apa lagi sampai nyungsep cuman gara-gara loe naikain..... Orang ada supirnya ini. Udah ah.....Ayo buruan....Gak usah drama." Ucap Hanum santai sedikit menarik tangan Kiren untuk mengikuti langkahnya. Kiren yang ditarik secara paksa oleh Hanum hanya bisa pasrah sambil terus menggumamkan doa didalam hatinya.
Saat Kiren dan Hanum sudah memasuki pesawat. Kiren dibuat menganga karna Speechlessnya yg disuguhkan didalam pesawat. Kiren sampai bertanya-tanya sekaya apa sebenarnya keluarga suaminya ini. Bagaimana mungkin mereka menaiki pesawat semewah ini, bahkan hanya ada beberapa orang saja didalam. Itu pun kebanyakan
Hanum, bosnya ini mengenalnya dan menyapanya sopan.
Duh duh duh. Kayanya, kaya beneran laki gue.
"Ren duduk sini." Ajak Hanum.
Pramugari menyuruh Keren duduk disamping Hanum. Kiren hanya diam dan menurut. Sepertinya Pramugari itu mengerti jika ini kali pertama Kiren naik pesawat, hingga pramugari terus membantu Kiren memasang seat belt.
Ya allah gini amat sih hidup gue, mau nyusulin suami aja harus pakai taruhan nyawa. Awas aja lo Varo kalau sampai ketemu, loe malah bersikap cuek ke gue. Gue pites-pites loe kalau perlu sampai hancur lebur kayak perkedel. Pokoknya loe harus bayar mahal pengorbanan gue. Ini gue hampir jantungan naik pesawat. Kalau bisa mah, mending gue milih naik mobil dari pada naik pesawat.
"Ren loe gak papa? Muka loe pucet banget. Nih minum obat tidur." Ucap Hanum menyodorkan capsul obat kearah Kiren.
Kiren menerimanya dengan tangan gemetar, bahkan keringat diwajah Kiren sudah sebesar biji jagung sangking takutnya. Setelah menerima capsul yang disodorkan Hanum beserta air minum, Kiren langsung meminumnya tanpa ragu. Berharap obat yang dia minum bisa membawanya ke alam mimpi. Kan enak bangun-bangun udah bobok cantik aja di pelukan paksu. Dih ngarep.
"Udah?" Tanya Hanum saat Kiren menyodorkan gelas kosong yang tadi disodorkan pada Keren.
"Udag rilexs aja. Loe tidur aja entar kalau udah sampai gue bangunin." Ucap Hanum.
__ADS_1
Kiren hanya mengangguk patuh, dan memejam kan matanya. Mungkin obatnya sudah bereaksi karna sekarang Kiren merasa matanya sangat berat dan ngantuk luar biasa.
...----------------...
Kiren menggeliat saat merasakan tepukan dipipinya.
"Ren ayok bangun kita udah sampe." Ucap Hanum berusaha membangunkan Kiren.
"Kita udah sampe mbak?"
"Iya ayo, buru turun!!" ketus Hanum.
Bukannya ikut turun Kiren malah memeluk Hanum erat, kakinya sampai loncat-loncat kecil saking senengnya.
"Ren, apa'an sih loe? Jangan norak deh!! Lepas." Hanum dengan kesal melepas pelukan Kiren secara paksa.
Mengerucutkan bibirnya kesal, Kiren menatap Hanum keki. "Gak seru loe mba."
"Bodo." Ketus Hanum. "Ayo buru turun. Gue tinggal ni loe, gak mau turun." Ancam Hanum melenggang pergi.
"Iya....iya." Ucap Kiren mengikuti langkah Hanum.
Bersambung...
__ADS_1