
Ketika mentari pagi menampak kan sinarnya. Saat itulah aku tersadar jika embun pagi sudah mengering karna cahayanya.
Begitu pun dengan rasa, aku mulai tersadar ketika ia pergi meninggalkan ku. Sendiri. Bagai mimpi yang tak kasat mata, bagai badai tanpa petir ditengah lautan. Semua nampak nyata, hanya saja.. Semua itu terasa bagai mimpi buruk yang tak berujung.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Kok berhenti pak?" Tanya Kiren pada pak Asep, saat mobil yang ia tumpangi berhenti ditengah jalan. Padahal rumahnya masih jauh dari tempatnya saat ini. Lalu kenapa supirnya malah berhenti sekarang.
"Itu, buk. Ada motor didepan mobil. Kayaknya habis kecelakaan deh. Orangnya tergeletak gitu." Jelas pak Asep menunjuk sepeda motor dengan satu orang tergelatak ditengah jalan. Membuat rasa penasarannya tersentil.
"Ya ampun, bapak serius?" Tanya Kiren mengintip dari kursi belakang. Dan benar saja, terlihat seseorang berjaket hitam dengan helm masih menempel dikepalanya tergeletak mengenaskan didepan mobilnya.
Perasaan tak tega, dan khawatir mengusik hatinya. Hingga tanpa pikir panjang, Kiren langsung tergesa-gesa ikut membuka pintu saat pak Asep keluar dari mobil.
Begitu mereka mendekat, dari arah belakang Kiren merasa seseorang menariknya mundur ketika ingin berteriak mulutnya langsung dibekap. Hingga kesadaranya pun pelan-pelan mulai menghilang. Berakhir semua terasa gelap.
...----------------...
Varo mondar-mandir diruang tamu. Memperhatikan jam dan pintu bergantian. Ini sudah hampir jam sepuluh malam, tapi Kiren tak kunjung pulang. Nomornya pun tidak bisa dihubungi.
Sedang pak Asep yang ditugaskanya untuk menemani Kiren ikut tidak bisa dihubungi. Berulah kali mendesah panjang. Varo menghempaskan tubuhnya diatas sofa. Memijit pelipisnya yang mulai terasa nyeri. Hingga akhirnya dering ponsel diatas meja menarik perhatianya.
Tanpa melihat siapa yang menghubunginya, Varo langsung meraih ponsel itu dengan cepat. Menggeser tombol hijau.
"Hallo."
"......."
"Pak Asep." Teriak Varo reflek berdiri dari duduknya. Hingga matanya pun ikut terbelalak mendengar suara diujung telpon.
__ADS_1
"......."
"APA? Maksud bapak?" Raungan frustasi tidak lagi terelakkan dari mulut Varo. Menjambak rambutnya frustasi. Varo berjalan mondar-mandir dengan nafas memburu. Bukan lagi hanya pikiran-pikiran buruk yang bersarang diotak dan hatinya. Tapi juga bayangan kejadian beberapa tahun yang lalu, yang menimpa kakaknya karna keteledoranya.
"......"
"BAGAIMANA BISA?" Lagi-lagi tanpa sadar Varo berteriak. "Cepat, kirim alamat pak Asep sekarang. Saya akan kesana sekarang." Sambung Varo memutuskan sambungan telpon, tanpa menunggu jawaban dari sebrang telpon.
Setelah mematikan telpon, Varo langsung melesat pergi dengan tangan sibuk mengotak-atik ponselnya. Berusaha menghubungi seseorang yang bisa membantunya.
"Hallo mas, aku butuh bantuan mas sekarang.. Aku kirim alamatnya lewat email..."
"..."
"Ya, ok... Thanks ya mas, sebelumnya."
Setelah memasukkan ponselnya kedalam saku celana, Varo langsung bergegas masuk kedalam mobilnya. Mengendarainya dengan terburu-buru.
"Tuan." Sapa pak Asep begitu Varo turun dari mobil.
"Bagaimana? Apa yang terjadi pak Asep? Kenapa bisa jadi seperti ini?" Tanya Varo tak sabaran. Setelah itu, tubuh Varo menegang mendengar seluruh cerita pak Asep, bahkan Varo berulang kali memijit pelipisnya saat lagi-lagi cerita pak Asep membuatnya nyaris kehilangan detak jantungnya.
"Maaf kan saya tuan, saya tidak bisa menjaga nyonya dengan baik." Varo tersenyum getir mendengar ucapan bernada menyesal dari pria tua didepannya. Dengan nafas memburu, Varo berulang kali mengumpat ketika otak pintarnya tak kunjung menemukan ide untuk menyelesaikan masalahnya.
Namun kepalanya menoleh kebelakang ketika suara deru mesin mobil terdengar dibelakang mobilnya.
"Mas." Seru Varo saat Adam melangkah kearahnya.
"Gimana?"
__ADS_1
"Aku gak tau mas, Kiren diculik.... Tapi, aku belum tau siapa dalangnya.."
"Loe udah lapor polisi?" Tanya Adam langsung.
"Belum, aku gak mau ambil resiko buat masalah ini mas... Aku juga gak bisa gegabah karna bisa aja nyawa Kiren dan anak kami jadi taruhanya."
"Terus loe mau gimana? Loe yakin gak mau libatin polisi?"
"Buat saat ini aku gak mau gegabah mas... Aku bakal tunggu sampai besok."
"Loe jangan bego, ini bukan masalah sepele.. Ini masalah nyawa Varo."
"Karna ini bukan masalah sepele mas, aku gak mau gegabah. Kita udah pernah gegabah dulu, waktu penculikan kak Hanum. Kita langsung libatin polisi saat itu juga. Dan aku gak mau ngulang kesalahan yang sama dua kali mas.. Aku gak mau. Lagi pula, aku udah hubungi detektif LA. Dan aku minta mereka buat lacak keberadaan Kiren saat ini."
"Terus gimana? Loe udah fikirin buat bayaran mereka? Mereka gak minta dolar? Tapi saham!!"
"Aku gak peduli sama masalah saham perusahaan mas, yang terpenting sekarang Kiren dan anak kami. Kalau pun aku harus jatuh miskin karna masalah ini, it's ok.. Asal keluarga ku bisa utuh lagi... Gak masalah cuman saham."
"Ok, terserah loe... Jadi sekarang gimana?"
"Aku bakal tunggu kabar dari detektif itu... Semoga aja, satu jam dari sekarang mereka udah bisa nemuin dimana Kiren---" Belum sempat Varo menyelesaikan ucapannya, dering ponsel disaku celananya mengagetkannya. Dengan tidak sabaran Varo merogoh ponsel disaku celananya.
Keningnya berkerut, heran saat menatap layar ponsel ditangan.
"Hallo." Sapa Varo ragu.
"Ma------as..."
"Kiren?" Panggil Varo cepat.
__ADS_1
Tut..... Tut.... Tut.....
"SIALLL...." Teriak Varo begitu panggilanya terputus.