
" Saat Kuliah... Safita... Cewek yang menyukaiku dan menembakku saat itu, Apa aku menerimanya? Padahal jujur saat itu aku juga menyukainya tapi apa? Aku justru memberikannya kepada Bang Aroon, Karna aku tahu jika Bang Aroon menyukainya." Nervan menghela nafasnya, Ia menatap Khanna.
"Saat wisuda Bang Aroon melarangku untuk foto dengan Ayah dan Mama, Aku juga menurutinya, Bahkan kau tahu? Saat di sekolah aku tidak boleh memanggilnya Abang, Aku juga menurutinya, Aku tidak boleh mengaku sebagai anak Ayah dan Mama Alfi, Aku juga menurutinya." Ujar Nervan sambil mengusap air matanya.
"Apa kurang penderitaan yang kalian berikan kepadaku? Hingga selama ini kalian selalu membenciku? Aku bahkan sangat menderita berada di tengah tengah kalian Dek... Tapi aku selalu bertahan, Aku melakukannya agar aku dapat menebus kesalahan ibuku...Aku sudah tidak kuat menanggung kebencian kalian lagi saat ini, Aku tidak kuat Dek.. Aku tidak sanggup menanggung kebencian kalian lagi." Lirih Nervan. Khanna mematung mendengar penjelasan Nervan, Terbesit rasa bersalah dalam hatinya.
" Jika kamu memang menginginkan aku untuk tidak peduli padamu.. Baiklah... Akan aku lakukan.. Jika kamu tidak mau aku mencampuri urusanmu maka baiklah...Mulai sekarang aku tidak akan mencampuri semua urusanmu, Semua yang terjadi kepadamu adalah tanggung jawabmu sendiri." Ucap Nervan. Ia keluar meninggalkan Khanna yang sedang mematung di tempatnya. Khanna menatap punggung Nervan yang berjalan menjauh dari kamarnya.
"Kenapa dengan hati ini? Kenapa rasanya sakit sekali? Kenapa aku merasa bersalah membencinya selama ini? Tuhannnn ada apa dengan hatiku? Kenapa rasanya aku tidak rela melihatnya menderita selama ini?" Batin Khanna. Ia membaringkan tubuhnya di atas ranjang, Ia menyelimuti tubuhnya hingga batas dada. Ia memejamkan mata berharap bisa tenang memasuki alam mimpinya.
" Eng.... Ibu...Ibu..." Lenguh Nervan.
Khanna mengerjapkan matanya mendengar lenguhan Nervan, Ia menyandarkan punggungnya di kepala ranjang. Khanna menatap Nervan yang tidur gelisah di atas sofa.
" Ibu... Bawa aku bersamamu... Ibu... Aku sudah tidak kuat..." Racau Nervan.
Khanna turun dari ranjangnya mendekati Nervan, Di tatapnya suami yang sedang mengigau gelisah dengan keringat mengalir di dahinya. Khanna membungkuk menempelkan punggung tangannya ke dahi Nervan dan betapa terkejutnya Khanna karna Nervan demam tinggi.
" Astaga dia demam tinggi." Monolog Khanna, Ia melirik ke arah jam dinding yang menunjukkan pukul dua malam, Tidak mungkin Ia membangunkan mertuanya. Khanna segera ke bawah mengambil baskom, Ia mengisinya dengan air hangat, Ia kembali ke dalam kamarnya, Setelah sampai di kamar Khanna mengambil waslap di almari. Dengan telaten Ia kompres dahi Nervan.
" Ibu... Aku mau bersamamu... Aku tidak sanggup lagi menahan kebenciannya padaku... Ibu... Bawa aku.." Racau Nervan.
Hati Khanna mencelos mendengar rintihan Nervan, Rasa bersalah kembali menyelimuti hatinya. Apa dia sudah keterlaluan selama ini? Menghukum Nervan yang tidak bersalah.
" Mas... Bangun..." Khanna mengguncang pelan bahu Nervan.
" Mass..." Nervan mengerjapkan matanya, Ia langsung bangun dan memeluk Khanna.
" Jangan tinggalkan aku sayang.... Jangan membenciku lagi... Aku mencintaimu." Ucap Nervan membuat Khanna terkejut.
"Mencintaiku???? Mas Nervan mencintaiku??" Ujar Khanna dalam hati.
" Hiks..hiks... Aku mencintaimu sayang.... Ku mohon jangan benci aku..." Racau Nervan.
" Ah pasti dia hanya ngigau saja, Atau jangan jangan yang dia cintai si Safita teman kuliahnya dulu? Kenapa hatiku sakit, Seperti tidak rela jika Mas Nervan mencintai orang lain?" Batin Khanna.
__ADS_1
" Mas... Pindah ke ranjang biar tidurnya nyaman." Ucap Khanna.
" Apa boleh?" Tanya Nervan.
" Iya... Ayo aku bantu." Sahut Khanna.
Khanna memapah Nervan pelan pelan menuju ranjang, Ia membaringkan Nervan dan menyelimutinya. Nervan kembali memejamkan matanya. Khanna masih terus mengompres Nervan berharap demamnya akan turun.
" Kenapa nggak turun turun demamnya? " Ucap Khanna sambil mengecek suhu panas Nervan dengan punggung tangannya.
" Aduh... Gimana lagi nih? Suruh minum obat tapi Mas Nervan tidur, Dia juga tidak mau kalau di suruh minum obat dari dulu..." Khanna merasa bingung sendiri.
" Apa harus dengan metode???? Tidak tidak aku malu melakukannya, Tapi kalau tidak gimana mau turun demamnya?" Khanna berperang dengan batinnya sendiri.
" Ah ya sudah lah satu satunya cara efektif menurunkan demam adalah dengan metode skin to skin, Aku harus melakukannya, Lagian dia suamiku kan? Jadi nggak dosa lah." Monolog Khanna.
Khanna membuka baju atasnya, Lalu dengan pelan pelan Ia membuka baju yang di pakai Nervan. Setelah itu Khanna mulai menerapkan metode skin to skin, Ia memiringkan tubuh Nervan lalu memeluknya. Ia berencana akan bangun lebih awal dari Nervan besok pagi. Akhirnya Khanna ikut terlelap menuju alam mimpinya.
Nervan mengerjapkan matanya saat mendengar ayam berkokok, Ia terkejut saat menatap ke depan di mana wajah cantik istrinya berada tepat di depan wajahnya, Nervan tersenyum bahagia. Ia melihat jam pada dinding yang menunjukkan pukul empat pagi. Nervan memanfaatkan waktu sebelum adzan subuh berkumandang. Ia tatap wajah cantik istrinya, Tangannya mengelus pipi Khanna membuat empunya menggeliat. Nervan mengecup pelan bibir Khanna.
Nervan melihat ke dalam selimut dan Ia begitu terkejut karna Ia baru menyadari jika tubuhnya berhimpitan dengan tubuh Khanna, Ya walau Khanna tak sepolos dirinya. Nervan mengedarkan pandangannya dan melihat baskom serta waslap di atas nakas tempat tidurnya, Hatinya menghangat melihat perhatian Khanna.
" Jika kamu memang membenciku kenapa kamu peduli padaku? Sepertinya benar... aku harus mengabaikanmu agar kau tahu bagaimana perasaanmu kepadaku sebenarnya, Aku mencintaimu sayang.... Tapi maaf aku belum mampu mengutarakannya karna aku takut kau semakin membenciku." Ujar Nervan dalam hatinya. Tanpa Nervan sadari bahwa dirinya sudah mengatakan cintanya.
Khanna menggeliat merentangkan tangannya, Nervan memejamkan matanya pura pura tidur, Ia tidak mau Khanna malu karna ketahuan mempedulikan dirinya. Khanna mengerjapkan matanya, Ia menatap wajah tampan suaminya. Khanna mengecek suhu tubuh Nervan kembali.
" Syukurlah sudah tidak demam lagi." Ujar Khanna.
" Eh... Udah pagi...Aku harus bangun sebelum Mas Nervan bangun duluan, Aku akan merasa sangat malu kalau dia tahu apa yang aku lakukan kepadanya." Monolog Khanna. Nervan menahan senyumnya agar tidak ketahuan Khanna.
Khanna segera turun dari ranjang dengan pelan agar tidak membangunkan Nervan, Ia memungut bajunya dan segera memakainya kembali. Khanna masuk ke kamar mandi untuk mengambil wudhu karna suara adzan subuh sudah berkumandang. Ia segera melaksanakan kewajibannya sebagai umat muslim. Setelah selesai Ia membangunkan Nervan dengan mengguncang bahunya.
" Mas...." Ucap Khanna. Nervan tidak bergeming Ia masih pura pura tidur.
" Mas Nervan bangun, Subuhan dulu." Khanna mengguncang bahu Nervan lagi, Kali ini sedikit keras.
__ADS_1
" Mas bangun ih... Susah banget kalau di bangunin." Omel Khanna.
Khanna berbaring di depan Nervan, Ia mendekatkan wajahnya ke wajah Nervan.Ia menatap pahatan maha karya yang luar biasa. Wajah teduh penuh dengan kelembutan di dalamnya.
" Kalau di lihat lihat kamu ganteng juga Mas, Jauh lebih ganteng dari si Richard brengsek itu yang kerjaannya selalu menggangguku tiap hari, Pengin aku bejek bejek wajah tidak tahu malunya itu." Cerocos Khanna, Tanpa Ia sadari kalau Nervan menahan senyumnya.
" Mas... Bangun..." Ucap Khanna.
Khanna mengelus pipi mulus Nervan, Ia menatap bibir **** milik suaminya... Tiba tiba..
Cup
Khanna mengecup bibir Nervan, Saat Ia menjauhkan wajahnya tiba tiba Nervan menahan tengkuknya, Khanna melongo dengan mata membulat dan mulut menganga, Nervan tidak melepas kesempatan itu, Ia langsung menyusupkan lidahnya ke dalam mulut Khanna. Nervan mencecap bibir Khanna dengan lembut, Ia membelitkan lidahnya dengan lidah Khanna. Khanna terbuai dengan permainan Nervan hingga Ia hanya menikmati sensasi yang Nervan berikan dengan memejamkan matanya saja. Nervan melakukan dalam waktu yang cuku lama. Rasanya bibir Khanna sudah kebas. Setelah di rasa kehabisan nafas, Nervan melepas pagutannya, Ia mengusap lembut bibir Khanna dengan jempolnya.
" Makasih vitaminnya untuk pagi ini Dek." Ucap Nervan menatap lembut Khanna.
" Apa sih.." Sahut Khanna salah tingkah.
"Bodoh kamu Khan.... Kenapa justru aku menikmati sentuhan bibirnya? Ah sepertinya aku udah nggak waras." Batin Khanna.
" Ya udah bangun gih shalat dulu." Ujar Khanna.
" Badanku lemas Dek, Nggak kuat jalan." Sahut Nervan.
" Terus gimana donk?" Tanya Nesha.
" Bantu aku ke kamar mandi." Ucap Nervan.
" Baiklah... Ayo." Khanna membantu Nervan berjalan ke kamar mandi. Setelah Nervan masuk, Khanna menunggunya di luar. Nervan merasa sangat bahagia dengan perubahan sikap Khanna pagi ini. Semoga mereka akan bahagia selamanya...
TBC.....
Hai reader makasih untuk dukungannya.. Terus dukung karya karya author ya.. Miss U All..
Jangan lupa di tunggu like dan komentnya... Kalau berkenan kasih Vote dan kasih mawar buat author biar semangat nulisnya ya...
__ADS_1