
Uhuk uhuk uhuk....
" Sayang pelan pelan." Ucap Nervan sambil memberikan minum untuk Khanna dan mengelus punggungnya. Khanna meminumnya hingga tandas.
" Hah...." Khanna menghela nafas lega.
" Karna dengar bulan madu kamu sampai tersedak begini Khan? Gugup ya?" Ujar Mama Sarah.
" Eh iya Ma maaf." Ucap Khanna.
" Udah baikan?" Tanya Nervan lembut.
" Udah Mas." Sahut Khanna.
" Ambil ya voucher Honeymoonnya." Ujar Papa Reno. Khanna melirik Nervan menanti jawaban apa yang akan Nervan berikan kepada Papa Reno.
" Gimana Dek?" Tanya Nervan menoleh ke arah Khanna.
" A...ak..aku.." Ucap Khanna gugup.
" Aku apa hmm?" Tanya Nervan menaik turunkan alisnya.
" Terserah kamu saja Mas." Jawab Khanna menahan kesal.
" Kalau aku menolak gimana Pa?" Tanya Nervan ganti menatap Papanya.
" Nggak bisa donk... Papa udah siapin semuanya dari tempat sampai Resortnya." Sahut Papa Reno.
" Jangan kecewakan Papa, Segeralah pergi bulan madu, Lagian Papa sudah ingin menimang cucu darimu Van." Sahut Papa Reno.
" Maaf semuanya aku harus berangkat sekarang." Khanna beranjak dari duduknya, Nervan mencekal tangannya memberi isyarat agar Khanna duduk kembali tetapi tidak di gubrisnya. Khanna melepas cekalan tangan Nervan dan berlalu dari sana. Nervan menghela nafasnya menatap kepergian istrinya.
" Maafkan sikap Khanna Pa." Ucap Nervan.
" Nggak pa pa Van, Harusnya Papa yang minta maaf padamu, Maaf Papa terburu buru Papa hanya ingin kamu lebih dekat dengan Khanna." Sahut Papa Reno.
"Terima kasih Pa tapi maaf waktunya belum tepat, Aku susul Khan dulu Pa Ma." Ujar Nervan.
Nervan segera menyusul Khanna di kamar. Saat Ia masuk Khanna hendak keluar sambil menenteng tasnya. Nervan berdiri di hadapan Khanna mengadang langkahnya.
" Dek kamu nggak sopan kalau main pergi gitu aja, Lain kali jangan di ulangi ya, Kita harus menjaga perasaan orang tua kita, Bahkan kamu meninggalkan makanan yang belum habis." Tutur Nervan lembut mencoba memberi pengertian kepada Khanna.
" Suruh siapa Papa memaksa kita untuk bulan madu? Bukankah mereka tahu jika pernikahan ini tidak aku kehendaki? Bukankah mereka tahu kalau aku membencimu? Lalu kenapa mereka menyiapkan voucher bulan madu? Kamu yang mengusulkannya? Apa kamu yang menginginkannya?" Selidik Khanna menatap ke arah Nervan.
__ADS_1
" Bukan... Aku bahkan tidak tahu menahu soal ini." Ujar Nervan jujur.
" Lalu kenapa tadi kamu tidak langsung menolaknya?" Tanya Khanna menatap tajam pada suaminya.
" Aku hanya nggak mau membuat Papa kecewa, Lagian tadi kamu udah aku kasih kesempatan buat bicara Dek, Kenapa nggak kamu tolak saja?" Ucap Nervan lembut.
" Kenapa bukan kamu yang menolaknya? Kamu anaknya kan? Jangan menyalahkan orang lain, Aku yakin kamu mau mengambil kesempatan pada peluang ini seperti apa yang dulu ibumu lakukan, Alasan kamu saja tidak mau membuat Papa kecewa." Ketus Khanna.
" Sayang bukan gitu, Jangan ungkit masa lalu ibuku lagi dia sudah tenang di sana." Ucap Nervan.
" Nggak usah panggil panggil sayang risih aku dengernya, Minggir aku mau pergi." Sahut Khanna menabrak bahu Nervan.
" Nggak boleh gitu Dek sama suami." Tutur Nervan.
" Suami suami suami terus yang kamu ingatkan, Aku bosan mendengarnya, Sudah aku bilang aku tidak menganggapmu sebagai suamiku." Teriak Khanna.
" Astaghfirulloh Dek." Sebut Nervan mengelus dadanya.
" Nggak usah sok berlagak menasehati dan berbuat baik padaku, Aku membencimu, Aku membencimu, Karna kamu dan ibumu, Mamaku menderita selama bertahun tahun lamanya, Aku sangat membencimu Nervan Satria, Aku bahkan tidak rela kamu menyandang nama keluargaku di belakang namamu." Bentak Khanna menuding Nervan. Khanna berjalan keluar membanting pintunya.
" Ya Allah ampuni istri Hamba." Monolog Nervan sambil memejamkan matanya.
Khanna berjalan menuruni tangga dengan perasaan kesal jika mengingat dulu Mamanya menderita karna ulah Mama Nervan, Walaupun saat itu Ia belum di lahirkan tapi mendengar cerita Aroon, Khanna bisa merasakan betapa sakit penderitaan yang di alami Mama Alfi dan Kakaknya. Ia terus berjalan menuju pintu.
" Iya Ma." Sahut Khanna.
" Maafkan Papa yang membuatmu tidak nyaman." Ucap Mama Sarah.
" Nggak pa pa Ma, Khan berangkat dulu." Khan mencium tangan Mama Sarah.
" Assalamu'alaikum." Ucap Khanna.
" Wa'alaikumsallam sayang." Sahut Mama Sarah. Khanna melanjutkan langkahnya.
" Tunggu Dek..." Panggil Nervan.
Khanna tidak menggubrisnya, Ia terus melanjutkan langkahnya menuju ke jalan raya dimana sebuah mobil sedang menunggunya.
" Khan tunggu." Nervan mencekal tangannya.
" Apasih." Khanna menyentak tangan Nervan.
" Masuk ke mobil Mas." Titah Nervan setelah melihat seorang pria di dalam mobil yang akan di tumpangi Khanna.
__ADS_1
" Mas akan mengantarmu, Sekarang masuklah ke mobil Mas." Tegas Nervan.
" Nggak usah ngatur deh, Aku mau berangkat kerja bareng siapa aja, Lagian aku ada janji sama Chef Ronald." Ucap Khanna.
" Nggak baik Dek berduaan sama pria yang bukan muhrim" Ujar Nervan. Khanna memutar bola matanya malas.
" Siapa Khan?" Tanya Ronald dari balik kaca mobilnya.
" Abangku." Sahut Khanna membuat hati Nervan berdenyut nyeri.
" Jadi bareng nggak nih?" Tanya Ronald.
" Khanna bareng aku aja kamu jalan duluan." Sahut Nervan.
" Ok Bang, Khan aku dulu ya sampai ketemu di Cafe." Ucap Ronald. Khanna mengangguk.
Nervan menggandeng tangan Khanna menuju mobilnya, Nervan membukakan pintu mobilnya untuk Khanna. Tanpa sepatah kata Khanna masuk ke mobil dan memasang sealbeltnya.
Nervan segera melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, Sedangkan Khanna menatap keluar jendela. Sesekali Nervan curi curi pandang ke arahnya.
" Lain kali jangan pernah pergi berdua dengan pria manapun yang bukan muhrim kamu Dek dosa." Ucap Nervan membuka obrolan. Khanna diam tidak bergeming. Ia malas menyahuti ucapan suami yang di bencinya ini.
" Dek kamu dengar?" Tanya Nervan menoleh ke arah Khanna.
" Sepertinya hidupku akan kenyang dengan ceramahanmu, Kenapa kamu nggak jadi ustadz aja?" Sindir Khanna.
" Aku begini karna aku peduli sama kamu Dek, Aku ingin membimbingmu ke jalan yang ridhoi Allah." Ujar Nervan.
Khanna mengeluarkan ponsel dari tasnya, Ia memasang headsead ke telinganya. Nervan hanya menghela nafasnya lagi. Ia harus extra sabar dalam menghadapi istri kecilnya ini. Tak berapa lama merekapun sampai ke Cafe pusat milik Khanna. Khanna segera membuka pintu mobil untuk turun dari sana.
" Dek.." Panggil Nervan. Khanna duduk kembali menatap ke arah Nervan.
" Salim dulu." Nerva menyodorkan tangan kanannya berharap Khanna mau menciumnya. Khanna hanya menatap saja tanpa melakukan apa yang Nervan inginkan.
" Dek kalau mau kerja itu pamit dulu, Salim tangan suami biar di ridhoi Allah dan mendapat pahala yang besar dariNya." Tutur Nervan.
Khanna menyalami Nervan dengan takzim, lalu Nervan mencium kening Khanna membuat sang empu terbelalak, Khanna menatap Nervan dan di balas senyuman olehnya. Khanna segera mengambil tisu di dashboard mobil dan mengelap bekas ciuman Nervan di keningnya. Lalu Ia keluar dari sana dan menutup pintunya dengan kencang. Nervan memejamkan matanya, Saat Ia membuka matanya ternyata Khanna sudah berjalan menjauh darinya. Nervan hanya geleng geleng kepala melihat kelakuan istrinya.
" Wa'alaikumsallam." Lirih Nervan kembali melajukan mobilnya menuju ke kantornya.
Khanna memasuki Cafenya dengan perasaan dongkol dalam hatinya. Para pegawai menyapanya dengan sopan, Sedang Ia hanya terus berjalan melangkah menuju ruangannya. Sesampainya di ruangannya, Khanna duduk menyender pada kursi putarnya. Ia memejamkan matanya meratapi apa yang terjadi padanya. Di tinggal saat hari pernikahan, Menikah dengan Kakak Angkatnya dan harus menjalani hari hari bersama orang yang di bencinya.
TBC....
__ADS_1